#Mimbar#pandemi#covid-19Indonesia

Para Pemimpin Perubahan

( kata)
Para Pemimpin Perubahan
Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group. Dok MI


PERADABAN kadang dimulai dari hal-hal yang kerap dipandang remeh. Memilah sampah, berteguh hati mengurangi penggunaan plastik, rajin membawa botol minuman sendiri, misalnya, bisa mewujud menjadi jejak penting terbentuknya peradaban bila itu menjadi gerakan massal.

Peradaban bisa juga muncul dari 'kecelakaan' tak terduga. Pandemi covid-19 yang datang tiba-tiba dan tanpa diketahui secara gamblang kapan bakal berakhir, membuat orang-orang mengonsolidasikan kehidupan. Banyak orang dipaksa menyesuaikan perilaku secara lebih beradab. Mereka juga dituntut lebih berempati kepada liyan, orang lain dan makhluk lain.

Begitu pula kiranya gambaran dari sebuah studi baru oleh Pricewaterhouse Coopers (PwC) yang dirilis pekan ini. Studi tersebut mengungkapkan setengah dari konsumen global mengatakan bahwa mereka telah menjadi lebih ramah lingkungan dalam enam bulan terakhir. Kabar lebih menggembirakan lagi, pemimpin aksi ramah lingkungan itu ialah para konsumen Asia Tenggara dan Timur Tengah.

Studi bertajuk PwC Global Consumer Insights Pulse Survey tersebut berfokus pada kebiasaan dan perilaku konsumen dalam membeli dan mengakses barang-barang kebutuhan sehari-hari. Hasilnya, konsumen semakin beradaptasi untuk menjadi lebih sadar lingkungan dan sadar digital dalam enam bulan terakhir.

Ini yang amat menggembirakan, konsumen di Indonesia menjadi yang paling bertambah ramah lingkungan, dengan jumlah 86%. Angka itu di atas Vietnam dan Filipina (74%) serta Mesir (68%). Itu artinya, Indonesia mampu memimpin perubahan perilaku di level global. Saya gembira karena kita bisa sedikit naik kelas.

Berbelanja produk lokal juga menjadi faktor kunci dalam mendorong keberlanjutan. Sebanyak 52% konsumen global menyatakan bahwa mereka secara aktif berbuat lebih banyak untuk mendukung bisnis lokal dan retail independen. Walhasil, langkah itu juga bentuk perubahan perilaku nyata bagi sikap bangga buatan produk lokal. Dalam konteks kita, perilaku tersebut merupakan bentuk aksi nyata dari gerakan bangga buatan Indonesia.

Survei tersebut juga mengungkapkan sebanyak 62% pekerja rumahan mengatakan mereka membeli produk dari perusahaan yang sadar dan mendukung perlindungan lingkungan. Lalu, 61% pekerja rumahan membeli produk dengan kemasan ramah lingkungan atau yang mengurangi penggunaan kemasan. Kemudian, 61% pekerja rumahan membeli lebih banyak produk yang biodegradable atau ramah lingkungan.

Setengah dari mereka yang umumnya tidak bekerja di rumah membeli dari perusahaan yang sadar dan mendukung perlindungan lingkungan. Lalu, 55% dari mereka yang bekerja di luar rumah membeli produk dengan kemasan ramah lingkungan atau yang mengurangi penggunaan kemasan. Kemudian, 50% dari mereka yang bekerja di luar rumah membeli lebih banyak produk yang biodegradable atau ramah lingkungan.

Hal yang lagi-lagi membuat saya riang ialah para pelopor perubahan perilaku itu ialah kaum muda. Survei terhadap 8.681 konsumen di 22 wilayah tersebut menegaskan bahwa generasi milenial ialah segmen terkuat untuk berubah ke arah perilaku peka terhadap lingkungan. Generasi Z, yang lebih muda lagi, menjadi generasi yang bersikap aspiratif tentang perilaku ramah lingkungan. Namun, dalam hal ihwal kesadaran lingkungan, generasi Z masih kalah jika dibandingkan dengan generasi X.

Saya sepenuhnya sepakat dengan pendapat Global Consumer Markets Leader PwC France Sabine Durand-Hayes. Kata Sabine, evolusi perilaku konsumen yang lebih digital dan ramah lingkungan ialah bukti bagaimana pandemi mengubah bisnis industri konsumen. Kaum muda menjadi yang paling optimistis tentang masa depan. Kita akan melihat perilaku dan kebiasaan baru itu memengaruhi kebiasaan kita.

Tak percuma kita kerap dicekoki slogan 'Tanah Air kita bukanlah warisan nenek moyang, melainkan titipan generasi mendatang'. Kalimat itu serupa mantra sakti yang betul-betul dirintis menjadi aksi. Ia walk the talk, bukan sekadar talk, talk, dan talk.

Di tengah kabar muram pandemi, juga resesi ekonomi, oase itu lagi-lagi datang dari kaum muda. Para pemimpin perubahan perilaku tersebut membuat hidup hari ini, lebih-lebih hidup hari esok, kian menjanjikan. Penuh optimisme. Ia menuruti petuah bijak bestari: never borrow sorrow of tomorrow, jangan pernah meminjam kesedihan dari hari esok. Itu karena hari esok penuh keriangan.

Winarko







Berita Terkait



Komentar