tiwul

Pangsa Pasar Beras Tiwul Masih Terbuka Lebar

( kata)
Pangsa Pasar Beras Tiwul Masih Terbuka Lebar
Lansia anggota Bina Keluarga Lansia (BKL) Gesang, Desa Kemalo Abung, Kecamatan Abung Selatan, mengeringkan gaplek sebelum diolah menjadi beras tiwul beberapa hari lalu. (Lampost.co/Yudhi Hardiyanto)


KOTABUMI (lampost.co) -- Sebelumnya beras tiwul yang bahan bakunya terbuat dari ketela pohon itu hanya dikonsumsi bagi masyarakat penderita diabetes sebagai salah satu bahan pangan pengganti beras. Perkembangannya, beras tiwul mulai diterima masyarakat umum sebagai selingan bahan makanan pokok dengan alasan untuk menjaga kesehatan. 

"Permintaan beras tiwul meningkat. Sebelumnya, sehari rata-rata dibeli pelanggan sekitar 10 kg. Mulai September 2020, permintaan pembelian tiwul meningkat sekitar 25 kg/hari," ujar pembina Bina Keluarga Lansia (BKL)
Gesang, Desa Kemalo Abung, Kecamatan Abung Selatan, Nusriyah, di kediamannya, Rabu (16/12/2020). 

Menurutnya, usaha mandiri pembuatan beras tiwul yang dikembangkan BKL Gesang sejak Februari 2020 lalu, memiliki prospek cerah untuk lebih berkembang lagi dengan pertimbangan masih terbukanya pangsa pasar. 

"Analisis usaha kami sebagai lansia dalam menilai usaha produksi beras tiwul akan berkembang atau tidak, sederhana. Pertama beras tiwul yang kami produksi selalu habis dibeli pelanggan dan kami sering meminta maaf karena keterlambatan pemenuhan pesanan pelanggan pada hari itu," ujarnya. 

Disinggung mengenai pelanggan, selain masyarakat desa, pemesanan beras tiwul juga datang dari instansi pemerintahan dari Kabupaten Lampung Utara. 

"Untuk mendorong produksi beras tiwul, banyak pihak yang memberikan usulan untuk menggunakan mesin produksi dengan kapasitas tertentu. Tapi, itu masih kami pertimbangkan, sebab bila menggunakan mesin dengan kapasitas besar, maka dari 40 anggota lansia, hanya beberapa lansia saja yang dapat bekerja, padahal tujuan kami adalah meningatkan kualitas hidup para lansia dengan tetap terus mendorong mereka untuk berkarya," kata dia. 

Produksi pembuatan tiwul dari bahan baku sekitar 25 kg singkong jenis Thailand dengan harga per kilo dibeli di lapak atau petani sesuai harga pasar Rp500/kg diperoleh hasil bersih rata-rata 10 kg beras tiwul dengan harga per kilo di banderol Rp15 ribu. 

"Lama pengolahan singkong untuk menjadi beras tiwul sekitar satu minggu, karena setelah kulit singkong dikupas, singkong mesti dijadikan gaplek dulu dengan dijemur agar kering. Setelah itu, baru ditumbuk dan diayak yang hasil  akhirnya adalah beras tiwul siap konsumsi," tuturnya.

Ricky Marly







Berita Terkait



Komentar