Israel#Palestina#ArabSaudi#TimurTengah

Pangeran Arab Saudi Kritik Keras Israel Soal Palestina

( kata)
Pangeran Arab Saudi Kritik Keras Israel Soal Palestina
Pangeran Saudi, Turki bin Faisal Al Saud. Foto: Times of Israel.


Riyadh (Lampost.co) -- Salah seorang Pangeran Arab Saudi, Turki bin Faisal Al Saud memberi kritik keras kepada Israel terkait Palestina. Kritik disampaikan dalam Pertemuan Manama Dialogue di Bahrain yang dilakukan secara hybrid.

Ucapan berapi-api oleh sang pangeran tampaknya membuat menteri luar negeri Israel -,yang hadir dalam pertemuan tersebut,- terkejut. Pasalnya, Israel menerima sambutan hangat dari para pejabat di Bahrain dan Uni Emirat Arab menyusul perjanjian untuk menormalisasi hubungan.

Pangeran Turki bin Faisal membuka sambutannya dengan membandingkan persepsi Israel sebagai 'penegak prinsip moral yang cinta damai' dengan realita di mana negara itu menjajah wilayah-wilayah Palestina.

"Israel telah 'memenjarakan' rakyat Palestina di kamp-kamp konsentrasi, di bawah tuduhan keamanan. Tua-muda, perempuan dan pria, membusuk di sana tanpa mendapat keadilan," kata Pangeran Turki, dilansir dari Al Jazeera, Selasa, 8 Desember 2020.

"Mereka menghancurkan rumah sesukanya, dan membunuh siapapun yang mereka inginkan," imbuhnya.

Pangeran juga mengkritik persenjataan senjata nuklir Israel yang tidak diumumkan. Pemerintah Israel, kata Pangeran Turki, melepas antek politik dan outlet medua mereka di negara lain untuk merendahkan dan menjelekkan Arab Saudi.

Dalam bahasa yang sangat blak-blakan, ia menuding Israel menggambarkan Arab Saudi sebagai 'negara kecil yang terancam keeksisannya'. Tak hanya itu, Israel dituding menganggap Riyadh dikelilingi negara yang ingin membasmi keberadaannya.

"Namun, mereka mengaku ingin berteman dengan Arab Saudi," seru dia.

Pangeran menegaskan kembali posisi resmi kerajaan bahwa solusinya terletak pada penerapan Inisiatif Perdamaian Arab, kesepakatan yang disponsori Saudi pada 2002 yang menawarkan hubungan penuh Israel dengan semua negara Arab sebagai imbalan atas kenegaraan Palestina di wilayah yang direbut Israel pada 1967.

"Anda tidak dapat mengobati luka terbuka dengan obat paliatif dan penghilang rasa sakit," tambah Pangeran Turki.

Menteri Luar Negeri Israel, Gabi Ashkenazi mengatakan sangat prihatin dengan komentar dari Pangeran Turki. "Saya tidak percaya bahwa mereka mencerminkan semangat dan perubahan yang terjadi di Timur Tengah.

Ashkenazi menegaskan kembali posisi Israel bahwa Palestina yang harus disalahkan karena tidak mencapai kesepakatan damai.

"Kami memiliki pilihan di sini bersama Palestina apakah akan menyelesaikannya atau tidak, atau melakukan permainan menyalahkan ini," pungkas Ashkenazi.

Abdul Gafur







Berita Terkait



Komentar