#covid-19#korona

Panduan Isolasi Mandiri pada Anak yang Terpapar Covid-19

( kata)
Panduan Isolasi Mandiri pada Anak yang Terpapar Covid-19
Covid-19 pada anak. Ilustrasi


Surabaya (Lampost.co) -- Pengajar Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (UNAIR) Retno Asih Setyoningrum mengatakan penanganan anak dengan yang terpapar covid-19 tergantung derajat sakitnya. Pada kasus tertentu, anak yang terpapar covid-19 dapat dilakukan dengan isolasi mandiri.

Namun, ada beberapa ketentuan yang harus terpenuhi untuk melakukan isolasi mandiri. Misalnya, tidak bergejala, mengalami gejala ringan seperti batuk, pilek, demam, diare, muntah, dan ruam-ruam. 

Lalu, anak aktif dan bisa makan minum, menerapkan etika batuk, memantau gejala atau keluhan, melakukan pemeriksaan tubuh dua kali sehari pada pagi dan malam hari, lingkungan rumah atau kamar memiliki ventilasi yang baik.

"Alat yang harus disediakan di rumah ketika anak terpapar covid-19 adalah termometer dan oximeter," ujar Retno mengutip siaran pers UNAIR, Jumat, 23 Juli 2021.

Selain itu, kata dia, ada beberapa obat yang perlu disiapkan di rumah yaitu obat demam, vitamin C (1-3 tahun maksimal 400 mg/hari; 4-8 tahun maksimal 400 mg/hari; 9-13 tahun maksimal 1200 mg/hari; 14-18 tahun maksimal 1800 mg/hari), zink 20 mg/hari yang diberikan selama 14 hari; vitamin D3 (usia kurang 3 tahun 400 IU/hari; anak 1000 IU/hari; remaja 2000 IU/hari; remaja obesitas 5000 IU/hari).

Retno menegaskan dalam penanganan anak yang sedang isolasi mandiri tidak ada ketentuan harus mengkonsumsi nutrisi tambahan seperti susu yang dijual di pasaran. "Intinya itu nutrisi yang bergizi, tidak ada khusus harus susu," ucapnya.

Kendati demikian, ada beberapa keluhan yang harus diwaspadai orang tua saat merawat anak yang tengah isolasi mandiri. Keluhan tersebut adalah anak banyak tidur, napas cepat, ada cekungan di dada dan hidung kembang kempis, saturasi oksigen kurang dari 95 persen, mata merah, terdapat ruam. 

Selain itu, leher bengkak, demam lebih dari 7 hari, tidak bisa makan dan minum, mata cekung, buang air kecil berkurang, dan terjadi penurunan kesadaran. "Jika anak mengalami gejala tersebut maka segeralah bawa ke rumah sakit," tuturnya.

Retno mengatakan, gejala covid-19 pada anak-anak sangat beragam. Mulai yang gejala ringan, sampai berat yang mengancam nyawa. "Gejalanya itu tergantung dari fase sakit, kondisi kesehatan sebelumnya, adanya penyakit komorbid, serta gambaran spesifik lainnya misalnya adanya kelainan bawaan," katanya.

Namun gejala demam menjadi yang sering terjadi pada anak. Gejala lain yang dirasakan bisa gejala infeksi respiratori akut seperti demam, batuk, pilek sampai sesak. Meski demikian ada juga anak yang ternyata tidak memiliki gejala spesifik saluran pernapasan, ternyata terpapar covid-19 dengan gejala pada saluran pencernaan seperti nyeri perut, diare, dan muntah. 

"Bahkan ada yang munculnya gejala sistemik atau Multisystem inflammatory syndrome in Children (MIS-C)," terangnya.

 

Effran Kurniawan







Berita Terkait



Komentar