#palawija#pertanian#perkebunan

Palawija sebagai Pilar Ketahanan Pangan Harus Dioptimalkan

( kata)
Palawija sebagai Pilar Ketahanan Pangan Harus Dioptimalkan
Foto Ilustrasi.Dok.Lampost.co


Bandar Lampung (Lampost.co) -- Fluktuasi harga getah karet yang tajam membuat para petani karet mulai berpindah haluan dengan menggarap tanaman palawija sebagai pilar ketahanan pangan. Oleh sebab itu, stabilitas harga, potensi, luas, dan produksi palawija sebagai pilar ketahanan pangan harus benar-benar diperhitungkan.

Palawija merupakan tanaman hasil panen kedua di samping padi. Palawija, meliputi kacang hijau, kacang tunggak, kedelai, singkong, kentang, ubi, gembili, wortel, mentimun, oyong, kacang panjang, talas, jagung, dan sebagainya. Palawija merupakan salah satu kunci dalam menggalakkan diversifikasi pangan di Indonesia demi mempertahankan ketahanan pangan. 

 

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Hortikultura Lampung, Kusnardi mempersilakan bila masyarakat melakukan alih fungsi lahan menjadi tanaman palawija. Pihaknya pun siap bila diminta membantu para petani tersebut. 

"Kalau mereka mau menebang pohon karet ya enggak apa-apa. Tapi kan dilihat dulu di mana lokasinya. Sekarang ada undang-undang tentang budi daya, enggak boleh juga kita membatasi orang untuk berbudi daya. Selama kita bisa bantu, maka akan dibantu. Termasuk juga pemenuhan sarana, produksi, dan pemasaran. Semuanyakan berujung kepada kemandirian pangan," katanya kepada Lampost.co, Jumat, 3 Juli 2020.

Apalagi saat ini harga karet sedang jatuh karena memang sedang lesu karena mengikuti harga pasar dunia. Oleh sebab itu, wajar bila petani berpindah menggarap tanaman palawija untuk menghidupkan perekonomiannya. "Prospek palawija bagus semua. Karet kan lagi jatuh, naik turun lagi lesu," katanya.

Sementara itu, sesuai data BPS Lampung terkait nilai tukar petani (NTP) di Lampung naik 0,35%. NTP Lampung Juni 2020 untuk masing-masing subsektor tercatat subsektor padi dan palawija (NTP-P 93,06), hortikultura (NTP-H 96,26), tanaman perkebunan rakyat (NTP-Pr 87,04), peternakan (NTP-Pt 99,19), perikanan tangkap (100,32), dan perikanan budi daya (100,89). Sedangkan NTP Lampung tercatat 91,83.

Juni 2020, beberapa komoditas mengalami kenaikan harga, antara lain pada komoditas subsektor hortikultura, perkebunan, peternakan, perikanan tangkap, dan perikanan budi daya. Sedangkan subsektor tanaman pangan mengalami penurunan, seperti kacang tanah, ketela pohon, dan ketela rambat.

Dari 34 provinsi yang diamati perkembangan harganya pada Juni 2020, ada 13 provinsi mengalami kenaikan NTP dan 21 provinsi lainnya mengalami penurunan. Kenaikan NTP tertinggi terjadi di Jambi dengan peningkatan 2,63 persen, sedangkan penurunan NTP terbesar terjadi di Kalimantan Barat yang turun 2,33 persen.

Kemudian berdasarkan hasil pemantauan harga-harga perdesaan di 12 kabupaten di Lampung, pada Juni 2020 NTP Lampung 91,83 atau naik 0,35 persen dibandingkan dengan Mei 2020 yang 91,51. Sementara itu, NTP nasional naik 0,13 persen dari 99,47 pada Mei 2020 menjadi 99,60 pada Juni 2020.

Untuk subsektor padi dan palawija (NTP-P), Lampung pada Juni 2020 mengalami penurunan 0,33 persen yang disebabkan kenaikan indeks yang diterima petani (It) dan indeks yang dibayar petani (Ib) masing-masing 0,05 persen dan 0,38 persen. Naiknya Ib 0,38 persen akibat naiknya indeks konsumsi rumah tangga (IKRT) 0,52 persen dan naiknya indeks biaya produksi dan penambahan barang modal (BPPBM) 0,03 persen.

Kemudian subsektor hortikultura (NTP-H), Lampung pada  Juni 2020 mengalami kenaikan 2,25 persen disebabkan kenaikan It dan Ib masing-masing 2,54 persen dan 0,28 persen. Naiknya Ib 0,28 persen akibat dari naiknya IKRT 0,43 persen dan turunnya indeks BPPBM 0,07 persen.

Subsektor tanaman perkebunan rakyat (NTP-Pr), beberapa komoditas tanaman perkebunan rakyat menjadi pemicu kenaikan 0,67 persen. Kenaikan NTP-Pr disebabkan kenaikan It dan Ib masing-masing 1,11 persen dan 0,44 persen. Naiknya Ib akibat naiknya IKRT dan BPPBM masing-masing 0,53 persen dan 0,02 persen.

Subsektor peternakan (NTP-Pt), beberapa komoditas di peternakan menjadi pemicu kenaikan NTP-Pt 0,91 persen pada Juni 2020. Kenaikan NTP-Pt karena It dan Ib mengalami kenaikan masing-masing 1,11 persen dan 0,20 persen. Kenaikan Ib disebabkan naiknya IKRT 0,39 persen dan naiknya BPPBM 0,09 persen.

Subsektor perikanan tangkap, NTP Lampung pada Juni 2020 mengalami kenaikan 1,27 persen disebabkan kenaikan It dan Ib masing-masing 1,72 persen dan 0,45 persen. Kenaikan Ib disebabkan naiknya IKRT 0,58 persen dan naiknya BPPBM 0,38 persen.

Subsektor perikanan budi daya, NTP Lampung pada Juni 2020 mengalami kenaikan 0,63 persen disebabkan kenaikan It dan Ib masing-masing 0,98 persen dan 0,34 persen. Kenaikan Ib disebabkan naiknya IKRT dan BPPBM masing-masing 0,55 persen dan 0,15 persen.

Muharram Candra Lugina







Berita Terkait



Komentar