#MaskapaiIndonesia

Pakar Anggap Lumrah Maskapai Indonesia Pakai Suku Cadang KW

( kata)
Pakar Anggap Lumrah Maskapai Indonesia Pakai Suku Cadang KW
Garuda Indonesia. Foto : AFP.


Jakarta (Lampost.co) -- Praktisi penerbangan Said Abdulah mengatakan eksistensi penggunaan suku cadang (spareparts) kualitas kelas dua (second) atau KW sudah umum di industri penerbangan. Bahkan, hingga kini penggunaan part KW masih berjalan.

 

Menurut Said, penggunaan suku cadang KW ini bukanlah sesuatu yang haram. Menurutnya, hal ini lumrah digunakan oleh aircraft atau maskapai. Bahkan, dirinya meyakini maskapai sekelas Garuda Indonesia yang notabene merupakan perusahaan pelat merah serta menjadi national flag carrier, juga tentu menggunakan suku cadang KW.

Hal ini tentu mematahkan pernyataan Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra yang mengatakan haram hukumnya bagi perseroan untuk menggunakan suku cadang yang tidak orisinal atau asli dari pabrikan pesawat diproduksi.

Said mengatakan maskapai-maskapai yang beroperasi di Tanah Air, termasuk Garuda, juga menggunakan suku cadang yang masuk dalam kategori technical standard orders (TSO) ataupun parts manufacturer approval (PMA). Kedua kategori tersebut merupakan produk yang tidak dibuat oleh pabrikan produsen pesawat.

"Sekelas Garuda juga banyak dia pakai TSO product maupun PMA product, yakin saya. (Kalau semua spareparts Garuda asli) tidak sepenuhnya benar," kata Said kepada Medcom.id, Kamis, 11 Februari 2021.

Namun, kata Said, kendati KW atau produk tiruan, suku cadang tersebut telah memiliki sertifikat atau disetujui oleh otoritas penerbangan terkait. Misalnya, pabrikan manufaktur berada di Amerika Serikat.

Oleh karena itu, penggunaan produk TSO maupun PMA telah mendapatkan izin yang legal dari Federal Aviation Administration (FAA). Selain itu, kata Said, penggunaan barang KW ini juga telah mendapat persetujuan dari pabrikan atau produsen pesawat tersebut.

"Itu sudah approved baik oleh otoritas maupun oleh pabrikan asli. Produk TSO atau PMA meskipun boleh dibilang KW, tapi itu approved oleh pabrik maupun otoritas," ujar Said.

Ia mencontohkan misalnya ketika memperbaiki kendaraan yang rusak dan diberikan pilihan menggunakan nomor satu hingga empat dengan standar barang yang sama dengan produk asli. Suku cadang itu memiliki material yang sama dengan produk asli dan dengan harga yang kompetitif. Maka, bukan sesuatu yang haram memilih barang tersebut.

Lebih lanjut, ia mengatakan di tengah persaingan harga antarmaskapai yang menawarkan penerbangan murah, maka bukan tidak mungkin suku cadang yang digunakan merupakan kualitas kedua. Apalagi saat ini sedang tren untuk menerapkan biaya yang efisien.

Sehingga, apabila pengadaan suku cadang menggunakan kualitas kelas satu atau asli, maka akan membuat biaya operasional maskapai membengkak. Di sisi lain maskapai juga didorong untuk menerapkan harga murah untuk penerbangan.

"Kalau kita lihat persaingan harga, sekarang pemain besarnya Lion Group dan Garuda. Lion Group pasang harga terlalu murah, saya pikir kayaknya enggak mungkin deh (pakai spareparts asli semua). Terlebih kalau bicara di market TSO atau PMA banyak," kata Said.

Sebelumnya Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra menegaskan maskapai yang ia pimpin selalu mengedepankan aspek keselamatan. Dalam mengedepankan aspek tersebut, perseroan juga memastikan penggunaan suku cadang pesawat bukan yang kualitas kelas dua.

"Bisnis ini fundamentalnya keamanan. Hal-hal seperti itu (suku cadang kualitas kedua) klasifikasinya haram. Penggunaan suku cadang kualitas kedua sudah jelas tidak mungkin di kita," kata Irfan.

Winarko







Berita Terkait



Komentar