#ott#jualbelijabatan

OTT Komisioner KPU Bisa Jadi

( kata)
OTT Komisioner KPU Bisa Jadi
Ilustrasi. Dok/Lampost.co

Bandar Lampung (Lampost.co) -- Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI Wahyu Setiawan yang ditangkap dalam operasi tangkap tangan (OTT) KPK, Rabu, 8 Januari 2020, terkait kasus suap. Santer beredar kabar, mantan anggota KPU Jawa Tengah itu memiliki sangkut paut atau koneksi dengan dugaan jual beli jabatan di KPU kabupaten/kota di Lampung, dengan terlapor di DKPP anggota KPU Lampung Esti Nur Fatonah.

Direktur LBH Bandar Lampung Chandra Muliawan berharap pemeriksaan dan pengembangan perkara ini dapat membongkar bobrok sistem rekrutmen KPU di seluruh Indonesia, termasuk yang terjadi di Lampung. Apalagi santer beredar kabar, Wahyu diduga memilik peran semacam link conection terkait jual beli jabatan di Lampung.

"Kan bisa kebongkar semua nanti, alurnya seperti apa, mekanisme, bagaimana dugaannya di tiap daerah, biar fenomena gunung es ini terbongkar. Kejadian di Lampung, membuktikan adanya dugaan kuat praktek jual beli komisioner di daerah dalam proses rekutmen KPU. Ini bisa jadi pintu masuk, kita minta bongkar sampai ke akarnya," ujar Chandra, Rabu, 8 Januari 2019.

Hal itu ditegaskan chandra karena Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) menerima dan menindaklanjuti laporan tersebut. Sidang kode etik penyelenggaraan pemilu digelar DKPP terkait kasus dugaan suap calon anggota KPU Tulangbawang yang melibatkan anggota KPU Lampung, Esti Nur Fatonah, yang telah digelar pada Kamis, 19 Desember 2019.

"Apalagi santer informasi yang berkembang, ENF diberikan sanksi dan dinyatakan terbukti bersalah melanggar kode etik oleh KPU RI," katanya.

Sebelumnya, Direktorat Kriminal Umum (Krimum) Polda Lampung telah melakukan pemeriksaan terhadap 11 saksi dugaan jual beli kursi komisionar KPU Lampung. Dirkrimum Kombes Barly Ramadhany mengatakan sejauh ini petugasnya telah memeriksa 11 saksi.

"Saksi yang telah diperiksa penyidik 11 orang," kata Barly usai ekpos perakitan senpi di lapangan WGS Polda Lampung, Senin, 30 Desember 2019.

Dia menjelaskan dalam waktu dekat ini, penyidik akan menghadirkan saksi ahli kriminal untuk melengkapi berkas dan selanjutnya akan dilakukan penetapan tersangka atau sebaliknya.

"Setelah diagendakan saksi ahli, menunggu hasil keterangan saksi ahli baru, selanjutnya, apakah terbukti atau tidaknya kasus ini atau sebaliknya," ujarnya.

Muharram Candra Lugina



Berita Terkait



Komentar