#Pungli#pemerasan

Orangtua Ceritakan Ragam Modus Dugaan Pemerasan Siswa di SMA Gajah Mada

( kata)
Orangtua Ceritakan Ragam Modus Dugaan Pemerasan Siswa di SMA Gajah Mada
SMA Gajah Mada Bandar Lampung. Lampost.co/Atika Oktaria


Bandar Lampung (Lampost.co) -- Sejumlah orangtua siswa Kelas 12 SMA Gajah Mada Bandar Lampung angkat suara perihal adanya dugaan pemerasan dan pungutan liar terhadap para peserta didik sebagai pengganti nilai ulangan. Mereka mengaku beberapa kali mengalami peristiwa serupa. 

Bedanya, pemerasan lebih sering dilakukan dalam bentuk pembelian barang.

"Kalau anak saya beda guru. Gurunya perempuan yang menwajibkan membeli barang sebagai jaminan nilainya bagus," kata salah satu orangtua yang berkenan mewakili tapi tidak mau disebutkan namanya, Kamis, 7 Januari 2021. 

Baca: Oknum Guru SMA Gajah Mada Diduga Peras Uang Murid untuk Pengganti Remedial

 

Namun hingga saat ini, ia mengaku memilih agar anaknya memperoleh nilai yang sewajarnya. Sebab untuk membeli hadiah kepada guru tersebut ia tak memiliki uang.

"Mau bayar SPP saja mahal banget, ini malah disuruh beli kado. Sempat beberapa kali beli, tapi lama-lama enggak ada juga uangnya," kata dia. 

Tak hanya itu saja, dia mengatakan bahwa guru lain sering meminta uang tunai dengan dalih dikumpulkan ke bendahara kelas. Jika sudah terkumpul, baru diberikan kepada guru yang bersangkutan. 

"Dugaan praktik pemerasan ini memang sudah lama terjadi. Namun belum banyak yang berani bicara," katanya.

 

Bukti pesan percakapan

Sebelumnya, sejumlah murid di SMA Gajah Mada mengeluhkan adanya oknum guru yang diduga memeras murid dengan mewajibkan bayar uang nontunai sebesar Rp50 ribu. Uang tersebut didalih sebagai pengganti nilai pelajaran yang kecil (remedial).

Seorang murid yang tidak mau disebutkan namanya menceritakan pemerasan bermula saat dia menghubungi guru sosiologi dan menanyakan tugas pengganti yang bisa dijadikan sebagai nilai tambahan. 

Tak disangka, sang guru memerintahkan melakukan remedial dengan membayar uang cashless.

"Kamu tidak ada lagi di classroom karena saya kick (keluarkan). Lakukan remedial sosiologi dengan cara bayar Rp50 ribu ke Gopay baru bisa masuk classroom," bunyi pesan guru tersebut. 

Tangkapan layar pesan oknum guru SMA Gajah Mada Bandar Lampung. Lampost.co/Atika Oktaria

 

Beberapa murid menanyakan peruntukan uang tersebut. Namun sang guru menjawab untuk memberikan hadiah.

Baca: Pihak Sekolah akan Panggil Oknum Guru Terduga Pemerasan Murid di SMA Gajah Mada

 

"Saya juga enggak tahu mbak untuk hadiah apa, enggak dijelasin sama guru saya itu," kata anak tersebut.

Sejumlah murid ingin melaporkan kejadian tersebut ke pihak sekolah, namun justru takut berbalik mendapatkan teguran.  

"Kami ingin laporin ini, tapi kami takut kalau nanti dihukum atau dikira cari masalah," ujar dia.

 

Ancaman skorsing 

Oknum guru di SMA Gajah Mada yang menarik pungutan dari murid terancam diberi sanksi skorsing mengajar dari sekolah.

Kepala SMA Gajah Mada, Maryadi, menjelaskan perbuatan tersebut melanggar aturan sekolah. Sebab, yang berhak mengambil iuran peserta didik adalah bendahara.

"Sanksinya tidak kami beri jam mengajar," ungkapnya, Selasa, 5 Januari 2021.

Ia mengatakan iuran yang dilakukan sekolah selalu dilakukan melalui surat edaran. Jika iuran itu ditarik secara pribadi, sekolah tidak memperbolehkan.

"Sedang kami dalami lagi, apakah hanya ini saja atau ada juga sebelumnya," ujar dia.

Sobih AW Adnan







Berita Terkait



Komentar