#tumbai#bukitbarisan

Orang Abung Terusir dari Pegunungan Bukit Barisan

( kata)
Orang Abung Terusir dari Pegunungan Bukit Barisan
Ilustrasi (Google image)

PENELITIAN Friedrich W Funke selanjutnya dilakukan di daerah barat laut terluar, di wilayah barat laut Danau Ranau. Bagian utara Bukit Barisan, di antara sungai luar di bagian utara dan Danau Ranau di bagian barat daya, sejak dulu dihuni suku Abung Utara.

Tidak ada informasi mengenai cara hidup berkelompok suku ini. Namun, tidak terdapat perkiraan adanya perbedaan dengan kelompok suku yang berada di wilayah selatan.

Penduduk sekarang di wilayah ini menceritakan menurut legenda, dulunya dua pendiri suku ini, si Brani dan si Santa memasuki wilayah pegunungan tersebut. Kedua bersaudara itu datang bagaikan dewa dan memiliki kemampuan supranatural. Mereka juga memerlukan kekuatan sejak mereka tiba di suatu wilayah yang dihuni penduduk dengan kekuatan luar biasa. Inilah orang Abung, suku yang orang-orangnya mampu menempa baja dingin menjadi mata pisau hanya dengan kepalan tangan.

Dalam pertempuran dengan penduduk lama Abung tersebut, kedua bersaudara itu memenangkan peperangan. Orang Abung diusir dari wilayah itu.

Menurut cerita penduduk sekarang, peristiwa tersebut terjadi pada 12 generasi yang lalu (Roos, Aanteekeningen, hlm 15). Keturunan dari kedua bersaudara si Brani dan si Santa itu makin banyak dan kemudian menghuni seluruh wilayah hingga ke pesisir Samudera Hindia. Kini, suku bangsa itu terbagi menjadi 12 marga.

Namun, di bagian paling selatan wilayah ini, di sekeliling sungai Nasal yang kini dihuni keluarga marga Nasal yang menceritakan bahwa leluhur mereka dulunya datang dari pegunungan di Minangkabau, berpindah ke sini. Orang-orang Nasal itu juga bercerita bahwa dulunya nenek moyang mereka, saat menduduki wilayah tersebut baru sekali mengusir orang Abung. Sebagai buktinya, orang-orang tersebut pada tahun ‘80-an menunjukkan pada kontrolleur dari Belanda bernama Roos, sebuah benteng pertahanan orang Abung di atas bukit, di dekat Bandaragung, sebuah desa yang sekarang tampaknya tidak ada lagi.

Pertahanan itu terdiri atas gundukan batu  dan di sekelilingnya bilah-bilah bambu yang ditancapkan ke dalam tanah. Ini merupakan lokasi pemimpin Abung yang bernama Krae Handak. Tempat itu merupakan pusat pertempuran antara penyerbu dari Minangkabau dan orang Abung. Berdasarkan cerita selanjutnya, desa ini hampir tidak dapat terkalahkan dan kemungkinan hanya dapat ditaklukkan dengan pengkhianatan dari orang Abung bernama Rio Toala untuk merebut tempat ini.

Berdasar cerita, banyak orang Abung yang tetap tinggal setelah perpindahan besar sukunya dan seiring berjalannya waktu membaur dengan penduduk pendatang. Oleh sebab itu, sebagian bahasa Abung diambil ke dalam dialek orang-orang suku Nasal. Pemimpin rakyat Minangkabau yang menyerbu bernama Seh Mendiku Tuhan.

Pendiri marga sekarang dari sungai Luar berasal dari Sumatera, yang wilayahnya membentang di bagian timur lingkar utama pegunungan Bukit Barisan. Terdapat pula orang Melayu, kelompok bangsa yang berhubungan dengan orang Rebang sekarang, yang mendesak orang Abung utara dari wilayahnya dahulu.

Beberapa marga sekarang merasa berhubungan dekat dengan orang Rebang atau Semendo. Kemampuan supranatural pendiri tersebut hanyalah perwujudan atas kelebihan penduduk Abung yang kuat dan berkemampuan gaib.

Dalam diri si Brani dan si Santa juga tidak terlihat adanya iblis atau sesuatu supranatural lainnya, melainkan hanyalah pendiri suku yang berbahagia terhadap kenangan atas perbuatannya.

Menyadur buku Orang Abung, Catatan Rakyat Sumatera Selatan dari Waktu ke Waktu oleh Friedrich W Funke.

Berita Terkait

Komentar