#cocacola#lingkungan

Omah Cinta Latih Guru Sukanegara Membuat Produk Ramah Lingkungan

( kata)
Omah Cinta Latih Guru Sukanegara Membuat Produk Ramah Lingkungan
Pemilik Galeri Omah Cinta, Tri Indah Noviana, melatih para guru dari Forum Pendidik Sukanegara pembuatan ecoprint dengan teknik pounding pada rangkaian Coca-Cola Forest Fun Learning, Kamis, 4 November 2021. Dok Coca-Cola


Bandar Lampung (Lampost.co) -- Sumber daya alam (SDA) yang melimpah berupa tumbuh-tumbuhan ternyata dapat dimanfaatkan menjadi kreasi kain ecoprint yang ramah lingkungan. Kreasi tekstil ini tidak menimbulkan pencemaran lingkungan, bahkan perajinnya berupaya ikut melestarikan alam sekitar.

Forum Pendidik Sukanegara, Lampung Selatan, yang mendukung program pelestarian lingkungan berinisiatif mengunjungi Galeri Omah Cinta, Kamis, 4 November 2021, dalam rangkaian kegiatan Coca-Cola Forest Fun Learning. Omah Cinta merupakan salah satu galeri yang memproduksi aksesori dan produk ramah lingkungan, seperti produk daur ulang dan ecoprint.

Pemilik Omah Cinta, Tri Indah Noviana, mengatakan sejak 2012 galerinya sudah fokus pada produk daur ulang sampah. Di Lampung, kata Tri, penggiat atau perajin produk daur ulang masih sedikit, padahal jika dilihat dari sisi ekonomis produk daur ulang memiliki nilai jual yang cukup bagus.

"Selain produk daur ulang, kami juga ada produk kriya, wastra nusantara. Jadi produk daur ulang yang kami buat memang lebih banyak untuk edukasi. Kalaupun ada yang dijual, pangsa pasarnya tidak di Lampung," kata Tri Indah. 

Baca: Forum Pendidik Sukanegara Kunjungi Lokasi Pembudidayaan Lele Bioflok di Kalianda

 

Dia menjelaskan ecoprint merupakan produk ramah lingkungan lainnya yang dibuat di Galeri Omah Cinta. Ecoprint merupakan proses menciptakan sebuah kain bermotif tumbuhan yang berasal dari tanaman asli.

"Ecoprint ini adalah kreasi kain yang semua pewarnaan dan pembuatan motifnya dari alam, mulai dari daun, batang, hingga akar tumbuh-tumbuhan," ujarnya.

Tri Indah menambahkan ada dua teknik dalam membuat motif warna kain dari bahan alami, yakni teknik steam dan pounding. Kedua teknik tersebut sama-sama mencetak bahan pewarna alam dari tumbuhan yang ada di sekitar ke sebuah kain.

Para guru dari Desa Sukanegara berkesempatan berlatih mencetak motif ecoprint dengan teknik pounding (dipukul). Beberapa guru mencoba menata daun di atas kain putih, lalu dilapisi plastik, dan kemudian dipukul pelan-pelan menggunakan palu kayu agar tidak rusak.

Sejumlah bahan alam yang dipakai untuk mencetak ecoprint, seperti daun jati, jarak, ketepeng, pakis, lanang, dan katuk. Sementara bahan kain yang bisa digunakan mulai dari katun, linen, dan sutra. "Sebenarnya yang kita hasilkan dari ecoprint ini ialah sebuah nilai seninya, dan yang dihargai adalah prosesnya," kata Tri Indah.

Ia pun berpesan agar para guru dapat melestarikan produk-produk ramah lingkungan dan dapat diajarkan kepada para siswa di sekolah.

"Anak-anak SD saat ini sudah sangat tertarik dengan ecoprint tidak hanya diimplementasikan di kain saja, tetapi juga di topi, tas, sarung bantal, taplak meja. Semua pembuatannya simpel sekali," ujarnya.

Afendi, ketua Forum Pendidik Sukanegara, mengatakan siswa di sekolah harus terus diajarkan tentang pembuatan produk ramah lingkungan sebagai upaya untuk menjaga kelestarian alam sekitar. 

"Apa yang didapatkan dan dipraktikkan oleh para guru dari Sukanegara di Galeri Omah Cinta ini sangat bermanfaat bagi kami. Tentu akan kami tularkan kepada para siswa kami bagaimana membuat produk yang ramah lingkungan yang cukup simpel, seperti ecoprint," kata Afendi.

Sobih AW Adnan






Berita Terkait



Komentar