#Covid-19#kemenkes#metro

Obat Covid-19 Rekomendasi Kemenkes di Metro Langka

( kata)
Obat Covid-19 Rekomendasi Kemenkes di Metro Langka
Tim melakuan pengecekan obat dan vitamin di salah satu apotek yang dipimpin oleh Assisten II, Yeri Ehwan dan Kabid Perdagangan, Alfajar Nasution. Lampost.co/Bambang Pamungkas


Metro (Lampost.co) -- Pemerintah Kota (Pemkot) Metro mengecek ketersediaan vitamin dan obat-obatan di beberapa apotek dan distributor. Pengecekan tersebut merupakan tindak lanjut dari kelangkaan obat dan vitamin yang direkomendasi Kementerian Kesehatan (Kemenkes) untuk pasien covid-19

Obat yang direkomendasi Kemenkes tersebut adalah Favipiravir 200 mg (tablet), Remdesivir 100 mg (injeksi), Oseltamivir 75 mg (kapsul), Intravenous Immunoglobulin 5% 50 ml (infus), Intravenous Immunoglobulin 10% 25 ml (infus), Intravenous Immunoglobulin 10% 50 ml (infus), Ivermectin 12 mg (tablet), Tocilizumab 400 mg/20 ml (infus), Tocilizumab 80 mg/4 ml (infus), Azithromycin 500 mg (tablet), dan Azitthromycin 500 mg (infus).

Assiten II Pemerintahan Kota Metro, Yeri Ehwan yang juga selaku Ketua Tim Pengecekan Obat dan Vitamin mengatakan, pihaknya telah mengecek 62 apotek dan dua distributor di Kota Metro untuk memastikan ketersediaan obat tersebut. 

"Setelah kami cek 11 item obat dan vitamin memang kosong di pasaran. Jika pun ada hanya di beberapa apotek saja," kata dia, Rabu, 28 Juli 2021. 

Baca: Satgas Covid-19 Sebut Angka Kematian di Metro Tinggi karena Pasien Enggan ke RS

 

Jika pun ada, pengambilan di apotek harus dilengkapi dengan resep dokter. 

"Karena memang penggunaan obat ini tidak sembarangan," ujarnya. 

Yeri mengaku akan segera berkoordinasi dengan pusat untuk menambah dan mendistribusikan obat dan vitamin tersebut untuk warga Metro. 

"Saya berharap Kota Metro menjadi prioritas pendistribusian obat dan vitamin penderita pasien covid-19," harap dia. 

Sementara itu, Kepala Bidang (Kabid) Perdagangan di Dinas Perdagangan Kota Metro, Alfajar Nasution mengatakan, kelangkaan obat dan vitamin ini tidak dibarengi dengan indikasi adanya penimbunan. Kelangkaan lebih kuat karena memang ketersediaan kosong. 

"Tidak ada penimbunan di distributor obat. Bahkan mereka juga mengeluhkan minimnya pendistribusian saat ini," kata dia. 

Sobih AW Adnan







Berita Terkait



Komentar