#ChairilAnwar#Nuansa#OaseKehidupan
Nuansa

Oase Kehidupan

( kata)
Oase Kehidupan
Ilustrasi Pixabay.com

SEBELUM dering bel menggema, para siswa itu tampak berbaris di depan kelas. Deretan keran air yang tertanam di sepanjang halaman sekolah itu tampak mereka kerubungi. Puluhan anak terlihat mengantre untuk mengambil air wudu. Sudah menjadi kebiasaan bagi siswa yang juga berstatus santri itu untuk bersuci sebelum menimba ilmu di dalam kelas. Kata mereka, biar lebih berkah dan lebih berlipat pahalanya.

Waktu istirahat tiba. Lantaran lemas karena belum dapat asupan karbohidrat sejak pagi, kaki saya otomatis melangkah menuju kantin di ujung sekolah. Alih-alih menemukan secentong nasi dengan lauk seadanya, dengan setengah guyon, penjaga kantin malah menghardik, ”Lho, Pak, ini hari Senin. Anak-anak pada puasa sunah. Jadi enggak ada makanan di sini. Kantin tutup!”

Wajah saya pun merah padam menahan malu. Sejurus kemudian, saya putuskan kembali ke kantor. Namun, sesaat sebelum saya berlalu, sang penjaga kantin malah menarik saya ke ruang belakang, ”Nah, Pak, kita ngopi bareng di sini saja!”

Beberapa pengalaman awal saya mengajar di sebuah sekolah yang terintegrasi dengan pondok pesantren itu masih melekat. Semenjak saat itu, sebagai pengajar, saya jadi lebih sering untuk ikut berpuasa Senin-Kamis. Semoga tercatat sebagai ibadah meskipun kenyataannya puasa saya saat itu lebih banyak karena kondisi kantong yang sering “senen-kemis”. Kalaupun memang sedang enggan bersaum, ruang belakang kantin itulah yang menjadi semacam bungker agar martabat saya sebagai pemberi teladan tetap terjaga.

Berada di lingkungan yang “sejuk” bersama orang-orang yang religius memang memberi pengaruh besar buat kepribadian kita, karena banyak asupan spiritual yang membuat kita seperti “on the track”.

Sudah lima tahun saya berlalu dari pondok pesantren di bilangan Karanganyar, Lampung Selatan, itu. Ada rindu yang hadir jika mengingat begitu banyak pengalaman berharga yang saya raup dari sana.

Tak bisa dimungkiri, perkara kelakuan memang suka naik-turun. Kadang baik, tapi banyak pula melencengnya. Bersyukurlah kita yang saat ini masih berada di dalam lingkungan orang-orang menjaga.

Keluarga, masyarakat, dan lingkungan kerja adalah tempat-tempat bagi kita untuk menghabiskan waktu setiap hari. Mudah-mudahan kita mampu menemukan atau bahkan menciptakan suasana yang adem di lingkungan-lingkungan itu. Semoga selalu diberi kesempatan untuk melangkah ke oase kehidupan yang hakiki itu. Amin...

Bambang Pamungkas



Berita Terkait



Komentar