#viruscorona#tiongkok#lampung

Novita, Mahasiswi Hubei University Negatif Virus Korona

( kata)
Novita, Mahasiswi Hubei University Negatif Virus Korona
Novita Eka Chayani, mahasiswi Jurusan Kedokteran, semester 6, Hubei University Of Science and Technology, Xianing, China. Lampost.co/Andi Apriadi

Bandar Lampung (Lampost.co) -- Novita Eka Chayani, mahasiswi Jurusan Kedokteran, semester 6, Hubei University Of Science and Technology, Xianing, China, asal Bandar Lampung, tiba di kediamannya di Jalan Soekarno Hatta, Kelurahan Srengsem, Kecamatan Panjang, Bandar Lampung, Minggu, 16 Februari 2020.

Novita menceritakan, kepulangannya ke tanah air berkat bantuan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) yang berada di China. Sebelumnya pihak KBRI meminta data warga Indonesia yang berkuliah di Hubei University Of Science and Technology, Xianing, China.

"Dari pihak KBRI, kami dapat informasi pemulangan tanggal 2 Februari 2020. Lalu kami kumpul di Kota Wuhan. Selanjutnya kami naik pesawat pulang ke Indonesia," ujarnya saat ditemui di kediamannya.

Novita juga menuturkan, sebanyak 245 warga Indonesia yang bersamanya. Namun, yang bisa pulang ke tanah air sekitar 238. Sesampainya di Indonesia, ia sempat menjalani observasi di Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau.

"Selama jalani observasi di Natuna, kami dinyatakan negatif dari virus korona. Di Natuna juga diberikan kegiatan oleh Kementerian Luar Negeri, Kemenkes, KBRI dan TNI seperti bangun pagi terus solat berjamaah, senam, sarapan dan dilanjutkan pengecekan suhu tubuh, sehari dua kali," terangnya.

Setelah dinyatakan negatif dari virus korona, lanjut Novita, melalui Bandara Radin Inten II, Natar, Kabupaten Lampung Selatan. Ia dapat pulang ke kediamannya di Kota Bandar Lampung.

"Di Bandara Radin Inten, saya hanya diminta data diri saja. Tidak sampai ada pemeriksaan suhu tubuh," kata dia.

Ia pun mengatakan, pertama kali berada di Kota Wuhan untuk kepulangan ketanah air. Pihak kampus mengecek suhu tubuh terlebih dahulu. Jika dinyatakan deman maka tidak diizinkan pulang ketanah air.

"Cek suhu tubuh juga dilakukan ketika masuk tol, bandara, kantor imigrasi dicek semuanya baru kami bisa lewat. Kalau misalnya tidak lolos dari imigrasi kami tidak boleh pulang," terangnya.

Dia menambahkan, jarak kampusnya dengan kota Wuhan tidak seberapa jauh. Dengan hanya menangki kereta api memakan waktu 30 menit dan dilanjutkan naik mobil sekitar satu jam. Sehinga membuat dirinya bersama warga Indonesia lainnya takut dan cemas, karena virus korona penyebarannya Wuhan.

"Sebelumnya juga mama saya sudah kasih tahu bahwa ada virus baru yaitu korona, tapi sebenarnya itu virus lama. Lalu di kasih tahu bahayanya. Kami berada di sana pasti inginnya pulang ke Indonesia karena bisa lebih aman dan nyaman tinggal di indonesia," tandasnya.

Setiaji Bintang Pamungkas



Berita Terkait



Komentar