#nuansa#LampungPost#FilmG30S/PKI

Nonton G30S

( kata)
Nonton G30S
Film G30S/PKI. antaranews.com


FILM G30S ditayangkan di ruang-ruang kelas salah satu sekolah SMP/SMA swasta di Kota Bandar Lampung. Siswa menonton didampingi guru sejarah.
Rutinitas menonton film karya sutradara Arifin C Noer bukan kali ini saja dilakukan. Namun, jauh sebelum ada instruksi Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo. Selain di Lampung, sejumlah sekolah lain di beberapa kota juga mengadakan nonton bareng film sejarah ini. Di sejumlah permukiman juga diadakan penayangan film yang disaksikan warga dan aparat TNI.
Harus diakui film menjadi salah satu media pembelajaran yang menarik dan efektif untuk menyampaikan pesan-pesan tertentu. Film sebagai medium pengantar diskusi di ruang kelas agar memudahkan siswa memahami sejarah.
Film berdurasi tiga jam lebih ini masih kontroversial hingga saat ini. Hal ini tidak lepas dari faktor sejarah gerakan 30 September yang kelam dan penuh dengan tafsir. Sebagian menolak dan sebagian mendukung penayangan ulang film yang dibuat dengan anggaran fantastis saat itu, hampir 1 miliar rupiah.
Sebagai sebuah materi pelajaran sejarah di sekolah, tidak hanya satu film yang ditampilkan. Namun, perlu memperkaya dengan sejumlah perspektif lain agar siswa lebih memahami konteks sejarah. Pelajaran sejarah bukan untuk cuma mencari siapa yang salah dan benar, tapi memahami peristiwa secara jernih agar menjadi pelajaran berharga bagi generasi berikutnya.
Guru sejarah bisa memperkaya pelajaran sejarah dengan film sejenis. Misalnya film dokumenter karya Joshua Oppenheimer, The Act of Killing dan The Look of Silence. Kedua film pendek ini bisa membuka pemahaman baru dalam melihat tragedi 1965.
Dalam dunia pendidikan, PKI, komunisme, dan peristiwa 1965 bisa dibahas secara ilmiah. Termasuk di sekolah dan perguruan tinggi, sehingga pelajar dan mahasiswa memiliki pandangan yang terbuka dalam melihat sejarah.
Namun, pada praktiknya isu komunisme terus menjadi hantu yang ditakuti sehingga dilarang untuk didiskusikan secara ilmiah. Dalam diskusi yang digelar Kelompok Studi Kader (Klasika), Wakil Sekjen Pengurus Besar Nahdlatul Ulama M Aqil Irham menilai komunisme sebagai sebuah ideologi bebas untuk didiskusikan. Sama seperti ideologi kapitalisme dan khalifah yang bisa dikaji secara terbuka.
Aqil menilai mempelajari ideologi-ideologi yang berkembang di dunia penting agar bisa mengetahui kelemahan dan keunggulan masing-masing. Saat ini yang terjadi adalah mereka yang meributkan komunisme justru pihak yang sama sekali tidak mengerti atau kurang membaca soal PKI dan ideologinya.
Apa yang dilakukan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo untuk membatasi pemutaran film Senyap (2014) garapan Joshua Oppenheimer tidak cocok jika diikuti oleh kalangan pendidik. Memaksakan satu versi kebenaran sejarah dan menolak pandangan berbeda terhadap tafsir yang lain akan memunculkan kesempitan dan kesesatan berpikir.
Kehendak untuk benar, kata Foucault (1990), berbanding lurus dengan kehendak untuk berkuasa juga. Untuk itu, janganlah memaksakan kebenaran versinya sendiri atau kelompok demi untuk mencapai satu tujuan tertentu. Dalam dunia akademik, satu versi kebenaran bisa terbuka untuk dikoreksi. n

Padli Ramdan, wartawan Lampung Post









Komentar