#perbankan#kredit

Nilai Kredit Perbankan di Lampung Melemah Akibat Korona

( kata)
Nilai Kredit Perbankan di Lampung Melemah Akibat Korona
Ilustrasi. Dok/Lampost.co


Bandar Lampung (Lampost.co) -- Nilai kredit sejumlah bank di Lampung tidak tumbuh karena kondisi pandemi Covid-19 yang disertai dengan penerapan protokol kesehatan dalam upaya memutus mata rantai penyebaran. Kondisi tersebut juga membuat bank sangat berhati-hati dalam menyalurkan kredit.

"Kan beberapa saat lalu pemerintah lakukan stay at home dan karyawan work from home (WFH). Hal tersebut membuat sektor riil agak tersendat sehingga menyebabkan kredit tidak tumbuh," ujar Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Lampung, Indra Krisna, Rabu, 24 Juni 2020.

Kondisi pandemi juga membuat bank saat ini sangat hati-hati untuk ekspansi kredit. "Karena kalau untuk membantu debitur dan bank, pemerintah sudah mengeluarkan beberapa kebijakan atau stimulus," katanya.

Dia menambahkan jika antara OJK dan pemerintah sudah mengeluarkan ketentuan POJK No. 11 Tahun 2020 tentang Stimulus Perekonomian Nasional sebagai Kebijakan Countercyclical Dampak Penyebaran Coronavirus Disease 2019. "Pemerintah juga sudah mengeluarkan kebijakan subsidi bunga kredit sebagaimana diatur PMK No 65 Tahun 2020," katanya.

OJK mencatat terdapat sejumlah jaringan kantor bank umum di Lampung, di antaranya 1 kantor wilayah pusat, 12 kantor cabang bank umum syariah, 51 kantor cabang bank umum konvensional, dan satu kantor pusat bank umum atau BPD. Selain itu, untuk bank perkreditan rakyat (BPR) ada 25 kantor pusat, 11 kantor pusat bank perkreditan rakyat syariah (BPRS), 34 kantor cabang BPR, dan 7 kantor cabang BPRS.

Total aset seluruh perbankan pada Mei 2020 mencapai Rp90,80 triliun (-1,29% yoy -0,14% mtm), dengan total kredit Rp65,44 triliun (1,10% yoy dan -1,48% mtm).

"Untuk dana pihak ketiga Rp49,98 triliun (-0,73% yoy dan 0,06% mtm) dengan kredit UMKM Rp20,57 triliun (8,84% yoy dan 0,09% mtm). Serta porsi kredit UMKM 31,43%," ujar Humas OJK Lampung, Dwi Krisno Yudi Pramono.

Selain itu, risiko perbankan yang tercatat di OJK, yakni jumlah NPL Rp1,96 triliun dan rasio NPL 3,01% dan meningkat dari Maret 2020 yang 0,17%. Kemudian intermediasi dengan rasio LDR 130,93% turun dibandingkan Maret 2020 yang 132,98%.

Untuk bank umum, tercatat total aset Rp78,50 triliun (-1,26% yoy dan 0,58% mtm) dana pihak ketiga Rp43,65 triliun (-1,06% yoy dan 0,93% mtm). Kredit Rp55,15 triliun (-0,41% yoy dan -1,12% mtm), rasio NPL 3,11% meningkat dari Maret 2020 yaitu 2,94%. Kredit UMKM Rp19,49 triliun (7,95% yoy dan 0,10% mtm).

Kemudian, untuk rasio NPL UMKM 3,33% menurun 0,31% atau dari 3,64% per April 2019 (yoy) dan meningkat 0,26% atau dari 3,07% dari Maret 2020.

"Untuk data keuangan BPR dengan total aset Rp12,29 triliun (-1,48% yoy dan -4,55 mtm), kredit Rp10,29 triliun (4,96% yoy dan -3,40% mtm), dana pihak ketiga (DPK) Rp6,33 triliun (1,64 yoy dan -5,60 mtm)," ujarnya.

Kemudian, rasio NPL 2,47% naik dari 1,75% (yoy) dari April 2019 dan naik dari 2,31% per Maret 2020. Serta kredit UMKM Rp1,08 triliun atau 10,49% dari total kredit (Novemver 2019). Rasio NPL UMKM 10,96% menurun dari April 2019 11,87% per November 2019.

Muharram Candra Lugina







Berita Terkait



Komentar