#Impor

Nilai Impor Provinsi Lampung Turun

( kata)
Nilai Impor Provinsi Lampung Turun
Ilustrasi (MI/RAMDANI)


Bandar Lampung (Lampost.co) -- Nilai impor Provinsi Lampung mengalami penurunan pada November 2020. Secara keseluruhan hanya mencapai USD61,80 juta alias turun USD67,94 juta (52,37%) dibanding Oktober 2020 yang tercatat USD129,75 juta. 

"Nilai impor November 2020 tersebut lebih rendah USD94,93 juta atau turun 60,57 persen jika dibanding November 2019 yang tercatat USD156,74 juta," kata kepala BPS provinsi Lampung Faizal Anwar, Selasa, 5 Januari 2021.

Dari sepuluh golongan barang impor utama pada November 2020, empat di antaranya mengalami penurunan. Masing-masing adalah binatang hidup turun 27,61%, ampas/sisa industri makanan turun 33,12%, berbagai barang logam dasar turun 11,12%, dan biji-bijian berminyak turun 89,66%. 

"Adapun golongan barang impor utama yang mengalami peningkatan adalah mesin-mesin pesawat mekanik naik 110,47 persen, pupuk naik 299,78 persen, bahan kimia organik naik 46,95 persen, besi dan baja naik 29,91 persen, gandum-ganduman naik 6,83 persen, serta berbagai produk kimia naik 51,51 persen," ujar dia. 

Negara utama pemasok barang impor ke Provinsi Lampung pada November 2020 adalah Amerika Serikat USD23,47 juta, Australia USD12,31 juta, Argentina USD6,12 juta, Tiongkok USD5,86 juta, Thailand sebesar USD2,16 juta, Jepang USD1,98 juta, Malaysia USD1,59 juta, Singapura USD1,19 juta, Taiwan USD1,13 juta, dan Philipina USD0,71 juta.

"Nilai impor menurut penggunaan barang pada November 2020 dibanding Oktober 2020 untuk bahan baku atau penolong turun sebesar 54,55 persen, sedangkan barang konsumsi naik 46,24 persen dan barang modal naik 86,37 persen," kata Faizal. 

Jika dibandingkan dengan November 2019, barang modal turun 12,29%, dan bahan baku atau penolong turun 62,19%, sedangkan barang konsumsi naik 53,76%. 

"Nilai impor menurut penggunaan barang selama Januari-November 2020 dibandingkan selama Januari-November 2019, terlihat bahwa nilai impor barang konsumsi, barang modal, dan bahan baku penolong mengalami penurunan masing-masing sebesar 1,71 persen, 65,71 persen, dan 55,96 persen," ujarnya.

Sobih AW Adnan







Berita Terkait



Komentar