#salat#ibadah#feature

Nikmatnya Salat di Masjid Kota Shanghai

( kata)
Nikmatnya Salat di Masjid Kota Shanghai
Seorang khatib sedang berkutbah dalam rangkaian salat jumat di Masjid Shanghai kawasan Jalan Foyau, Huangpu, Jumat (16/8/2019). Foto: Lampost.co/Iskandar Zulkarnain

SHANGHAI (Lampost.co) -- Bangunannya tidak menyerupai masjid, pada umumnya. Hanya ada kubah berukuran kecil bercat hijau. Tanda itu berada di atas lantai dua bercat putih.

Masjid yang banyak dikunjungi pelancong muslim dari berbagai negara, memang tempatnya sangat strategis bagi wisatawan. Masjid itu berada di kawasan Jalan Foyau, Huangpu, Kota Shanghai.

Karena letaknya di jantung kota, pusat keramaian dalam kawasan perdagangan serta jasa perbankan.

Wartawan Lampung Post, Islandar Zulkarnain melaporkan dari Shanghai, Jumat, 16 Agustus 2019 malam, banyak orang tidak percaya di situ ada tempat ibadah.

Beruntungnya, di depan bangunan ada kalimat tauhid yang ditulis dalam bahasa arab. Bahkan paling tulisan komunikatif lagi, tertera ayat Alquran dalam huruf kanji mandarin. Antara lain artinya, orang yang rendah hati akan diridhai Allah. (52:17).

Memasuki gerbang masjid, jemaah langsung disapa dengan salam oleh marbot. Lalu diarahkan ke tempat berwudhu atau kamar kecil. Selama empat hari perjalanan di Tiongkok, baru Jumat, 16 Agustus itu, bertemu sesama muslim bahkan ditemukan rumah makan berlebel halal. Maklum mayoritas rakyat Tiongkok beragama Konghuchu dan Budha.

Wartawan Lampung Post, Iskandar Zulkarnain berada di Tiongkok bersama para pemimpin media dari Lampung yang diundang oleh Konsulat Jenderal (Konjen) Tiongkok untuk Medan.

Rombongan mengikuti muhibah ke beberapa tempat bersejarah, budaya, peninggalan benteng kuno, hingga melihat pembangunan infrastuktur jalan, jembatan hingga bangunan termegah di dunia.

Masih di masjid di Shanghai, terasa ingin mandi sebelum jumatan dalam suasana bersih.

"Silahkan ambil wudhu di ruang sebelah. Barang bawaan silahkan titip di ruang ini," kata perempuan paruh baya menuntun Lampung Post mencari ruang istirahat.

Pengalaman selama di negara panda itu, alangkah nikmatnya jika kamar kecil -- toilet di tempat umum sama bersihnya di masjid. Kebersihannya terjaga. Karena bersih itu sebagian dari iman, kata pepatah.

Usai berwudhu, rombongan pimpinan media pun menuju ruang salat. Takjub. Ruang solat dilengkapi karpet dan sejumlah pendingin ruangan.

Ingin berlama sambil baca Alquran sembari menunggu waktu salat tiba.

Dalam masjid itu, tidak terasa kalau lagi berada di Tiongkok. Sebelum salat, terlihat banyak warga negara dan mahasiswa salat di masjid tersebut. Ada juga karyawan asal Indonesia, yang lagi studi di Shanghai. Bahkan sempat berjumpa dengan muslim dari Bahrain, Pakistan.

Tidak ada perbedaan dalam tata cara pelaksaan salat jumat. Hanya saja, di Shanghai sebelum khatib naik ke mimbar, dilakukan panjang lebar berupa ulasan tentang keagaman. Di Indonesia irit sekali jika ada pengumuman yang disampaikan pihak pengurus masjid.

Tapi di Shanghai, pengumuman itu menjadi ruang ceramah agama. Sementara khutbahnya hanya dalam hitungan puluhan menit. Terasa nikmat yang dirasakan umat Islam di Tiongkok.

Di negara tersebut, muslim minoritas. Tapi soal agama tidak menjadi perdebatan atau sumber konflik. Bahkan ketika memposting foto saat berada dalam masjid di media sosial, ditanya apakah muslim di Tiongkok sangat nyaman? Langsung saja dijawab aman.

Walaupun penduduk Islam 23 juta jiwa atau 1,7 persen dari penduduk Tiongkok. Memang menjadi kampanye buruk bagi muslim Tiongkok dalam tekanan mayoritas. Padahal, Tiongkok sekarang ini jauh lebih berbeda dengan Tiongkok dalam puluhan tahun silam.

Seperti di Shanghai, isu agama tidak menjadi seksi bagi warganya, karena memang kota itu didesain sebagai kota modern untuk urusan pekerjaan. Masih dalam kegiatan ibadah di dalam masjid tadi.

Usai salat jumat, imam dan makmum berdoa sendiri-sendiri. Itulah tata cara ibadah Islam suni yang diterapkan pengurus di masjid tersebut.

Iskandar Zulkarnain

Berita Terkait

Komentar