#ngabuburit#keretaapi

Ngabuburit di Jalur Kereta Bisa Didenda Rp15 Juta

( kata)
Ngabuburit di Jalur Kereta Bisa Didenda Rp15 Juta
Perlintasan kereta api. Dok


Jakarta (Lampost.co) -- PT Kereta Api Indonesia (Persero) melarang masyarakat beraktivitas di jalur kereta api. Termasuk bersantai menunggu waktu berbuka puasa atau yang biasa disebut ngabuburit.

Kegiatan tersebut tak hanya membahayakan tapi juga mengganggu perjalanan kereta api. Untuk itu, masyarakat yang tetap melakukan kegiatan itu akan didenda sebesar Rp15 juta.

“KAI dengan tegas melarang masyarakat berada di jalur kereta api untuk aktivitas apapun selain untuk kepentingan operasional kereta api,” ujar VP Public Relations KAI, Joni Martinus, dalam keterangan resmi, Rabu, 28 April 2021.

Joni menegaskan larangan beraktivitas di jalur kereta api tertuang dalam UU Nomor 23 Tahun 2007 tentang Perkeretaapian pasal 181 ayat (1). Di dalamnya dinyatakan setiap orang dilarang berada di ruang manfaat jalur kereta api, menyeret, menggerakkan, meletakkan, atau memindahkan barang di atas rel atau melintasi jalur kereta api, ataupun menggunakan jalur kereta api untuk kepentingan lain, selain untuk angkutan kereta api.

“Selain dapat membahayakan keselamatan, masyarakat yang melanggar juga dapat dikenai hukuman berupa pidana penjara paling lama tiga bulan atau denda paling banyak Rp15 juta. Hukuman tersebut sebagaimana yang dinyatakan dalam pasal 199 UU 23 tahun 2007," ungkap Joni.

Pada momen Ramadan tahun ini, banyak masyarakat yang menunggu waktu berbuka, bermain, atau berjualan di area jalur kereta api. Bahkan ada anak-anak yang menaruh benda asing atau memindahkan batu balast ke atas rel kereta yang dapat merusak prasarana kereta api.

Batu balast pun tidak boleh diambil karena fungsinya yang sangat vital yaitu untuk meneruskan dan menyebarkan beban bantalan ke tanah dasar, mengokohkan kedudukan bantalan, dan meluluskan air.

“Tindakan menaruh benda asing di atas rel dapat merusak prasarana kereta api bahkan dapat mengakibatkan kereta anjlok,” kata Joni.

Kerumunan yang tercipta, selain dapat meningkatkan potensi penularan covid-19 di tengah-tengah masyarakat, juga dapat membuat kecepatan kereta api terpaksa dikurangi sehingga berpotensi mengganggu jadwal perjalanan kereta api.

Dampak dari ketidakpatuhan masyarakat terhadap aturan yang berlaku, KAI mencatat pada 2020, terdapat 421 orang yang tertemper kereta api. Hingga 27 April 2021, terdapat 132 orang tertemper kereta api, dengan 97 orang meninggal, 28 luka berat, dan 12 orang luka ringan.

“Kami meminta masyarakat turut berpartisipasi menciptakan keselamatan bersama dan kelancaran perjalanan kereta api. Kami juga mengimbau masyarakat agar memberi pengertian atau teguran apabila ada yang bermain atau melakukan kegiatan di jalur kereta api,” tutup Joni.

 

Effran Kurniawan







Berita Terkait



Komentar