#beritalampung#beritalamsel#nelayan#cuacaekstrem

Nelayan Pesisir Pantai Lampung Selatan Tak Melaut akibat Cuaca Ekstrem

( kata)
Nelayan Pesisir Pantai Lampung Selatan Tak Melaut akibat Cuaca Ekstrem
Sejumlah kapal nelayan bersandar di Dermaga Bom, Kalianda, Lampung Selatan. Lampost.co/Perdhana


Kalianda (Lampost.co): Cuaca ekstrem berupa gelombang tinggi dan angin kencang membuat para nelayan di pesisir pantai Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan, tidak melaut selama tiga hari.

Perairan laut di pesisir pantai kecamatan setempat dilanda angin kencang dan gelombang tinggi membuat para nelayan enggan melaut.

Para nelayan yang tidak melaut mengisi waktu dengan memperbaiki alat tangkap. Sementara itu, untuk memenuhi kebutuhan hidup para nelayan menggunakan persediaan atau tabungan yang tersisa.

"Tidak ada kerjaan lain, selain nangkap ikan. Kalau cuaca begini libur, paling benerin jaring," ujar Udin (40) salah seorang nelayan, Desa Waymulih Timur, Senin, 31 Oktober 2022.

Baca juga: Viral Pemalakan Sopir di Natar Lamsel, Pelaku Diburu

Dia mengatakan beberapa nelayan masih nekat melaut pada siang hari untuk menghindari cuaca ekstrim. Namun, hasil tangkapan ikan berkurang atau tidak memuaskan.

"Ada yang nekat melaut siang hari, karena cuaca ekstrem datangnya kebanyakan malam hari," ujarnya. 

Hal senada diungkapkan Syafuan (48), nelayan di Dermaga Bom Kalianda. Menurutnya sudah sepekan terakhir cuaca buruk dan tidak menentu. Mereka (para nelayan) memilih beristirahat. "Cuaca tidak mendukung, dipaksakan (melaut) risiko terlalu tinggi," kata Syafuan.

Menurutnya, tangkapan ikan yang bagus berada di seputaran perairan Gunung Anak Krakatau (GAK). Akan tetapi ombak dan gelombang tinggi menghambat aktivitas nelayan. "Di perairan sekitar Gunung Anak Krakatau banyak ikannya, tapi mau ke sana terkendala cuaca," kata dia. 

Sementara itu, Camat Rajabasa Saptudin menjelaskan aktivitas warga pesisir pantai seperti biasanya, meskipun aktivitas GAK pekan lalu meningkat. "Warga di sini hidup berdampingan dengan GAK, kewaspadaan harus tetap terjaga," ujar dia. 

Dijelaskannya ada beberapa warga yang merupakan nelayan masih nekat melaut, akan tetapi hanya di seputaran laut sekitar. "Ada yang nekat, tapi sudah kami imbau, agar tidak mendekat GAK," kata dia. 

Berdasarkan laporan Badan Geologi PVMBG pos pemantau Gunung Anak Krakatau (GAK) , dua hari terakhir tidak ada letusan seperti sepekan sebelumnya. 

Kurang waktu dua hari terakhir, aktivitas GAK keluarkan hembusan sebanyak 3 kali dengan amplitudo 9 MM dan durasi 8,5 detik, tremor terjadi terus menerus, terekam dengan amplitudo 0,5-55 MM dominan 2.5 MM. 

"Hari Sabtu dan Minggu, GAK tidak erupsi, hanya keluarkan hembusan," kata petugas pos pemantau Gunung Anak Krakatau, Suwarno, di Desa Hargopancuran, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan. 

Masyarakat diminta tenang dan waspada, status GAK masih di level III atau Siaga, wisatawan dan nelayan dilarang mendekat kawah radius 5 km.

Adi Sunaryo








Berita Terkait



Komentar