#bbm

Nasib Warga 3 Kecamatan Di Mesuji Tak Tersentuh BBM Subsidi

( kata)
Nasib Warga 3 Kecamatan Di Mesuji Tak Tersentuh BBM Subsidi
Gabah petani diangkut ojek karena buruknya kondisi Jalan. Naiknya BBM membuat ongkos ojek naik. Lampost.co/Ridwan Anas


Mesuji (Lampost.co) -- Distribusi bahan bakar minyak (BBM) subsidi dinilai tidak tersalurkan secara merata. Pasalnya, warga sekitar Kecamatan Mesuji, Mesuji Timur, dan Rawajitu Utara, ternyata mengaku tidak pernah menikmatinya lewat SPBU.

Mulyono, warga Kecamatan Rawajitu Utara, mengatakan masyarakat selama ini membeli BBM melalui pengecer. 

"Kami membeli Pertalite ke pengecer. Saat harga di SPBU masih Rp7.000-an, kami beli ke pengecer Rp10 ribu per liter. Harga itu masih jauh lebih murah dari Pertamax yang dijual SPBU mini Rp12.200. Kondisi saat ini makin sulit, karena pertalite di pengecer tidak ada lagi dan hanya ada pertamax seharga Rp14.750 per liter," kata Mulyono, Selasa, 20 September 2022. 

Kondisi itu dirasa sangat menyulitkan masyarakat. Terutama bagi petani yang harus menggunakan solar untuk membajak sawah.

"Naiknya harga BBM ini berdampak buruk. Hanya untuk pengolahan saja menghabiskan dana Rp1,2 juta per hektar, sekarang Rp1,8 juta per hektar. Kami berharap pemerintah bisa melihat masyarakat di pelosok yang harus menerima BBM bersubsidi," kata Arif, petani asal Desa Panggung Jaya, Kecamatan Rawajitu Utara, Mesuji.

Untuk diketahui, Kabupaten Mesuji, hanya ada tiga SPBU yang terletak di Kecamatan Simpang Pematang dan Kecamatan Tanjung Raya. 

Effran Kurniawan








Berita Terkait



Komentar