#narkoba#bandarlampung

Napi Pengendali Ribuan Ekstasi di Bandar Lampung Tetap Divonis Mati

( kata)
Napi Pengendali Ribuan Ekstasi di Bandar Lampung Tetap Divonis Mati
Ilustrasi. Ribuan butir ekstasi dari jaringan Aceh. ANTARA FOTO/Ampelsa


Bandar Lampung (Lampost.co) -- Majelis Hakim Pengadilan Tinggi (PT) Tanjungkarang, Kota Bandar Lampung menjatuhkan pidana mati terhadap pengedar 6.696 butir ekstasi, M. Nasir (33).

Vonis dijatuhkan atas banding Jaksa Penuntut Umum (JPU), Roosman Yusa. Putusan banding tersebut dijatuhkan Hakim Ketua, Nur Aslam Bustaman.

JPU mengajukan banding dari tuntutan 19 tahun penjara.

"Memperbaiki putusan PN Tanjungkarang Nomor 511/Pid.Sus/ 2021/PN Tjk, tanggal 16 Agustus 2021 yang dimintakan banding, menjatuhkan pidana terhadap terdakwa M. Nasir oleh karena itu dengan pidana mati," bunyi amar putusan yang dilihat Lampost.co, Selasa, 12 Oktober 2021.

Baca: Bandar Sabu Jaringan Aceh Ditangkap di Bandar Lampung

 

Sebelumnya, Majelis Hakim PN Tanjungkarang, menjatuhkan pidana nihil terhadap eks Narapidana LP Kelas IA Bandar Lampung itu pada 16 Agustus 2021.

Ia terbukti melanggar Pasal 114 ayat (2) Undang-undang RI Nomor  35 Tahun 2009 Tentang Narkotika.

"Menjatuhkan pidana terhadap terdakwa dengan pidana nihil," ujar Majelis Hakim Efiyanto, saat membacakan putusan.

Efiyanto memaparkan, vonis nihil dijatuhkan lantaran, M. Nasir sudah divonis mati dalam perkara peredaran narkoba lainnya. Saat ini, M. Nasir berada di LP Nusakambangan untuk menunggu ekskusi mati perkara pertama. 

"Kamu kan sudah divonis mati, makanya putusan nihil," kata Efi.

Mendengar putusan tersebut, M. Nasir menerima. JPU Roosman Yusa memilih pikir-pikir apakah akan mengambil upaya hukum lanjutan atau tidak.

"pikir-pikir, Yang Mulia," kata Yusa.

Pelaku lainnya, David Prasetyo, napi LP Kelas IA Bandar Lampung telah divonis 13 tahun penjara pada sidang di PN Kelas IA Tanjungkarang, 27 Juli 2021 lalu. 

Ribuan butir esktasi tersebut dikendalikan oleh M. Nasir dengan meminta bantuan David untuk menghubungi orang yang bisa mengambil barang haram tersebut. Ribuan ekstasi berasal dari Aceh, milik pelaku berinisial PON.

KemudIan David meninta rekannya, Rohman Alias Oman untuk mengmbil barang yang dibawa pelaku lainnya, Edi Samsuar dan Mulkani selaku kurir. Ribuan butir esktasi disembunyikan di ban serep mobil. Selanjutnya, transaksi terjadi di SPBU di Jalan Soekarno-Hatta, Kecamatan Rajabasa pada 27 Juni 2020.

Edi Samsuar dan Abdul Rahman divonis 13 tahun, dan denda Rp10 milar subsider dua bulan penjara pada sidang di PN Tanjungkarang, 13 Feburari 2021 lalu.

Sobih AW Adnan







Berita Terkait



Komentar