#bunuhdiri

Napi LP Anak yang Tenggak Racun Akhirnya Meninggal

( kata)
Napi LP Anak yang Tenggak Racun Akhirnya Meninggal
Alhmarhum saat dirawat di RS Ahmad Yani, Kota Metro. Dok


Bandar Lampung (Lampost.co) -- Warga binaan Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Kelas IIA Bandar Lampung bernama Deni Dwi Prasetyo (18), dikabarkan meninggal dunia. Sebelummya, ia sempat dirawat di RS Ahmad Yani Metro sejak 8 April 2021 karena menenggak racun rumput di dalam tahanan.

"Almarhum berpulang semalam (25 April 2021), sekitar pukul 22.00, saat ini dibawa ke Way Abung, Tulangbawang Barat," kata kuasa hukum Ayah Deni Sukriadi Siregar, Senin 26 April 2021.

Baca juga: Diduga Korban Perundungan, Napi LP Anak Minum Racun Rumput

Sebelumnya, Dani diduga menjadi korban perundungan hingga penganiayaan yang dilakukan oleh warga binaan berinisial F.

Karena tak kuat dalam tekanan, ia pun nekat menenggak cairan racun rumput untuk bunuh diri pada 7 April 2021. Sejak 8 April 2021 ia dirawat di RS Ahmad Yani Metro.

Melalui kuasa hukumnya, orang tua korban melaporkan perundungan dan penganiayaan tersebut ke Polda Lampung, pada 16 April 2021.
Ia pun melaporkan warga binaan tersebut ke Polda Lampung atas dugaan penganiayaan. Perkara tersebut telah dilaporkan dengan nomor perkara LP/B/647/IV/2021/SPKT/Polda Lampung 16 april 2021.

"Klien kami diduga dibully, disiska, dipukuli, klien kami merasa tidak kuat, sehingga meminum racun, percobaan bunuh diri, tapi alhamdulillah takdir berkata lain, klien kami masih bisa terselamatkan," ujar kuas hukum korban, Sukriadi Siregar.

Ia juga mempertanyakan terlapor yang berusia 23 tahun, mengapa tetap ada di LPKA. Pihaknya juga telah meminta klarifikasi dari pihak LP atau Divas Kanwil Kemenkumham Lampung.

"Jadi klien kami masuk dari Februari 2021, dan baru sekitar tiga minggu lalu, jadi tamping," katanya.

Sementara kepala LPKA Samboyi tak menampik persitiwa tersebut. Namun ia membantah penyebab Dani nekat menenggak racun rumput karena tertekan oleh napi lainnya. Dari penelusuran pihaknya, Dani diduga mulai merenung dan penyendiri, karena mendengar kabar kalau orang tuanya, akan bercerai.
Ia menyebutkan Dani berstatus wargabinaan tamping.

"Penyebabnya ABH (korban) pernah cerita dengan temannya mendengar kabar ortunya mau cerai jadi kepikiran," ujarnya.

Terkait dugaan perundungan dan pembulian ia belum bisa memberikan jawaban secara spesifik.

"Perundungan itu belum bisa menjawab karena belum ada visum dan dengar-dengar hari ini pihak keluarga lapor ke Polda, ya kita tunggu saja hasilnya nanti sekarang kita masih BAP yang disangkakan pihak keluarga," katanya.

Winarko







Berita Terkait



Komentar