#pertanian#lampungselatan

Nanang Minta Petani Tidak Gunakan Setrum Berantas Hama Tikus

( kata)
Nanang Minta Petani Tidak Gunakan Setrum Berantas Hama Tikus
Bupati Lampung Selatan Nanang Ermanto saat menghadiri Panen Perdana kegiatan Varietas Unggulan Baru (VUB) Inpari 32 dan Inpari 35 di lahan persawahan di Desa Sidowaluyo, Kecamatan Sidomulyo, Lampung Selatan. Lampost.co/Rustam


Kalianda (lampost.co) - - Bupati Lampung Selatan Nanang Ermanto dan Ketua Komisi IV DPR RI, Sudin, mengimbau petani di Lampung Selatan untuk mewaspadai cara penanggulangan hama tikus dengan cara menggunakan aliran listrik. Hal itu disampaikan saat menghadiri Panen Perdana kegiatan Varietas Unggulan Baru (VUB) Inpari 32 dan Inpari 35 di lahan persawahan di Desa Sidowaluyo, Kecamatan Sidomulyo, Lampung Selatan, Sabtu, 4 September 2021.

Dalam acara tersebut, Ketua Komisi IV DPR RI, Sudin, membuka secara resmi kegiatan VUB, kegiatan Demplot Inovasi Tekhnologi BPTP Lampung dengan menerapkan teknologi jajar legowo 21 pupuk organik dan pupuk hayati yang diikuti oleh para kelompok tani setempat.

Nanang prihatin menyangkut cara pembasmian hama tikus dengan menggunakan setrum oleh para petani di Lampung Selatan.

"Saya merasa prihatin ketika melihat ada warga saya yang kena setrum di sawahnya sendiri. Jadi, saya mengimbau jangan karena ingin menjaga sawahnya malah membahayakan diri sendiri," katanya.

Baca juga: Ketika Petani Berjibaku Berantas Hama Tikus

Nanang berharap para petani menghindari penggunaan setrum dalam penanganan hama tikus.

"Hindari setrum. Solusinya adalah setelah masa panen masyarakat harus gotong royong melakukan gebrokan," lanjutnya.

Di sisi lain, Ketua Komisi IV DPRI RI, Sudin, mengatakan, untuk pembasmian hama tikus para petani harus bisa menggunakan metode lain.

"Jangan menggunakan setrum dong, nanti malah mengenai diri sendiri. Carilah solusi lain seperti memasang waring atau racun tikus lainnya agar tidak berbahaya," katanya.

Sementara untuk pemupukan, lanjut sudin, para petani harus bisa menebar pupuk yang sesuai dosis tertentu dan tidak menggunakan pupuk dengan pola tradisional.

"Kalau dulu petani berpikir semakin banyak pupuk akan menghasilkan panen lebih banyak. Metode itu salah karena pupuk itu racun. Kalau tidak sesuai dosisnya, maka padi akan mati," ujarnya.

Wandi Barboy







Berita Terkait



Komentar