#nuansa#AbdulGafur#Namrudz

Namrudz

( kata)
Namrudz
Ilustrasi Pixabay.com

Abdul Gafur

Wartawan Lampung Post

SYAHDAN, pada 5.000 tahun sebelum Masehi, hiduplah seorang Raja Babilonia yang gagah perkasa. Ia memiliki kecerdasan juga kecakapan dalam berburu. Dialah Namrudz bin Kan'an berjuluk Pemburu yang Perkasa. Wilayah kekuasaannya meliputi Asia Barat dan Timur Tengah.

Ia merupakan Raja Mesopotamia yang berhasil membangun kerajaannya dengan kemegahan. Namun, kekuasaan dan kecakapan yang Namrudz miliki justru menjerumuskannya ke lubang kezaliman. Bahkan, di hadapan Ibrahim as, Namrudz dengan pongahnya mengaku sebagai Tuhan.

Karena tak dapat membunuh Ibrahim as dengan membakar Sang Nabi, raja sombong itu mengumpulkan 700 ribu lebih bala tentaranya. Ia pun tertawa terpingkal-pingkal kala mendapati pengakuan Ibrahim hanya bertentarakan nyamuk. Ia teramat yakin dapat membungkam orang yang menyangkalnya sebagai Tuhan itu dengan mudah.

Namun, kepongahan Namrudz dan ribuan bala tentaranya itu pupus. Nyali mereka seketika menciut. Bala tentara nyamuk yang Ibrahim sebutkan ternyata di luar apa yang mereka bayangkan. Pasukan nyamuk yang tak terkira jumlahnya itu menyerbu istana dan pasukan Namrudz. Sang Raja dan tentaranya pontang-panting tak kuasa menghadapi gempuran itu.

Konon, raja cerdik itu memiliki persembunyian khusus untuk menghadapi situasi genting. Namrudz pun bersembunyi dalam ruangan rahasia yang tertutup rapat dan sulit dijangkau manusia itu. Namun, tentu ia tak pernah menduga sebelumnya bahwa akan berhadapan dengan pasukan nyamuk. Raja nyamuk pun dengan mudah menjangkau persembunyian Namrudz.

Raja nyamuk segera menyerang Namrudz. Dengan tangkas serangga itu masuk ke dalam tubuh melalui lubang hidung. Lelaki perkasa itu nyatanya tak berdaya di hadapan seekor nyamuk. Kepedihan yang diakibatkan nyamuk di dalam kepala membuat Namrudz kalap dan membentur benturkan kepalanya ke tembok. Manusia sombong itu pun berakhir dalam kondisi mengenaskan.

Kisah Raja Namrudz itu terasa amat kontekstual dengan kondisi kekinian. Betapa makhluk yang teramat kecil, dikenal sebagai virus SARS-CoV-2, menjadi momok menakutkan. Ribuan nyawa melayang, kota-kota besar di negara-negara maju seketika menjadi sunyi, perekonomian global pun tertatih-tatih akibat pendemi yang terjadi.

Berdasarkan data Microsoft dan diekspos pada situs https://bing.com/covid, Covid-19 yang disebabkan sang virus telah menembus angka 218.585 kasus. Dari jumlah tersebut, kasus aktif sebanyak 123.928, kasus pulih 85.714, dan kasus fatal 8.943. Betapa makhluk kecil yang perlu perbesaran ribuan kali untuk melihatnya itu justru menjadi ancaman serius kehidupan manusia.

Maka, amat wajar pula jika dalam berbagai kesempatan khutbah Jumat beberapa pekan terakhir, para khatib mengutip kembali kisah Namrudz, Abrahah, dan pasukan gajahnya terkait pandemi Covid-19. Para khatib berpesan agar kita jauh dari kesombongan, meyakini fenomena yang terjadi adalah atas kehendak-Nya, sekaligus bukti kekuasannya. Kita sebagai manusia yang sejatinya rapuh dan tak berdaya haruslah bersabar dan berserah diri kepada-Nya.

Bambang Pamungkas



Berita Terkait



Komentar