#tumbai#orangabung

Nakoda Muda dan Pengusiran Orang Abung dari Tanggamus

( kata)
Nakoda Muda dan Pengusiran Orang Abung dari Tanggamus
(Foto:dok/Lampost.co)

KELUARGA Kai Demang termasuk dalam suku-suku di Semaka yang menyediakan kantor-kantor Bantam di Jawa  juga orang-orang Inggris dengan lada sejak waktu lama. Salah satu putra Kai Demang yang bernama La Uddin masih dapat memberikan informasi mengenai ekspedisi kepada Marsden yanng memimpin pengusiran orang Abung dari pegunungan utara Semaka. Narsdeb membuat catatan mengenai hal itu yang ia publikasikan di London tahun 1830 dengan judul Memoirs of an Malayan Family.

Karena Kai Demang dengan nama lain Nakoda Muda memiliki peran penting dalam peperangan melawan orang Abung, menarik untuk mengetahui tokoh ini lebih dalam. Kakek dari La Uddin adalah Nakoda Makuta, yaitu Kapiten Makuta. Menurut cerita, ia dilahirkan di Minangkabau, Sumatera Barat. Namanya menunjukkan seorang pelaut.

Makuta adalah pedagang keliling dari Sumatera Barat ke Jawa dan Kalimantan. Kemudian ia tinggal di Kalimantan di sebuah wilayah bernama Tayan yang terletak di daerah Banjar. Di Kalimantan, ia mendapatkan anak laki-laki bernama Inchi. Namun, sesaat setelah itu ia diusir orang Bugis dari Tayan.

Saat itu, sejumlah bajak laut merusak pesisir laut Kalimantan. Makuta menduduki pesisir Sumatera Selatan setelah pengusirannya dari Kalimantan tempat bernama Piabung. Piabung terletak di Telukratai, di tepi barat Teluk Lampung. Dari sana, ia tampak memiliki usaha yang berkembang dengan sangat baik.

Untuk pembagian sementara tokoh ini sangat perlu bahwa ia sebaiknya melakukan perjalanan pertamanya dari Minangkabau ke Kalimantan saat orang-orang Belanda pertama kali mencoba mendirikan cabang baru di Teluk Semaka. Dengan demikian, usaha v.d Schuur dapat terencana (damit kann der Versusch des v.d gemeint sein) yang singgah di Semaka antara 1670 dan 1680.

Di Piabung, Teluk Lampung, anak laki-lakinya yang bernama Inchi tumbuh dengan menggunakan nama julukan Tayan dari tempat kelahirannya. Makuta mula-mula mengajarinya membaca dan menulis dan mengirimnya melakukan perantauan selama tujuh tahun lamanya saat ia cukup besar untuk mengumpulkan pengalaman hidup. Waktu itu ayahnya memiliki gelar pemimpin semua pedagang di Teluk Lampung.

Sebelum meninggal, ia memberikan nasihat kepada anaknya. "Jika engkau sedang mengalami kesulitan, pancinglah ikan, kumpulkan kayu, tetapi lindungilah dirimu dari berutang pada Sultan Bantam atau VOIC.

Inchi kemudian memperoleh nama Nakoda Muda karena pelayarannya yang panjang. Ia memainkan peran penting dalam pertempuran melawan orang Abung pegunungan.

Ketika ayahnya meninggal dunia, Nakoda Muda meninggalkan Piabung dan menetap di pesisir Semaka. Di sana, dia menikahi putri dari salah satu pembesar pribumi yang bernama Nakoda Paduka. Perempuan itu bernama Radin Mantri.

Di Semaka, Nakoda Muda merupakan ahli dalam urusan perdagangan lada dan rantam. Ia menguasai perdagangan wilayah barat pesisir selatan. Setelah pertempuran melawan Abung, ia mendapat gelar kehormatan Kai Demang dan Sultan Bantam. Dengan nama ini, dia memiliki peran besar hingga tahun 1788 antara orang-orang Belanda dan Inggris yang bersaing.

Nakoda Muda memiliki 12 anak, tiga anak berasal dari selirnya. Mereka adalah Rabu dan dua anak perempuan bernama Rami dan Kamis. Dari istrinya dia mendapat sembilan anak, yakni Wasub, Wasal, Bantan, La Uddin, Muhammed, Raff Udin, serta anak perempuan bernama Inchi Pisang, Inchi Tenong, dan Brisih.

Berdasar cerita tersebut, Nakoda Muda berasal dari Minangkabau, dari adat yang sama, ketika pada abad 14 seluruh suku Paminggir memisahkan diri pada masa tersebut telah menduduki garis pantai paling selatan. Nakoda Muda dulunya perompak jahat yang memiliki peran penting dalam sejarah Semaka. Ceritanya menjadi dasar kuat bagaimana pengusiran orang Abung selatan dari pegunungan bagian utara Gunung Tanggamus.

 

Menyadur buku Orang Abung, Catatan Rakyat Sumatera Selatan dari Waktu ke Waktu oleh Friedrich W Funke.

Berita Terkait

Komentar