#NABE#buras

NABE, Trump Pemicu Resesi Dunia!

( kata)
NABE, Trump Pemicu Resesi Dunia!
Ilustrasi. Foto: Dok/Google Images

PERANG dagang yang dilancarkan Presiden Donald Trump memicu risiko resesi meningkat dan menjadi ancaman utama ekonomi dunia. Demikian hasil survei National Association for Business Economics (NABE), asosiasi ekonom bisnis yang berbasis di Washington, dirilis pekan lalu.

"Peningkatan proteksionisme, ketidakpastian kebijakan perdagangan yang meluas, dan pertumbuhan global yang lebih lambat, dianggap sebagai risiko utama penurunan aktivitas ekonomi AS," ujar Ketua Survei NABE, Gregory Daco, kepala ekonom Oxford Economics AS. (CNBC-Indonesia, 8/10/2019)

Hasil survei yang dilakukan 9—16 September 2019 itu dirilis tepat ketika banyak analis melihat tanda-tanda peringatan dalam indikator ekonomi AS terbaru, termasuk penurunan aktivitas manufaktur ke level terendah 10 tahun pada September dan pelambatan tajam dalam pertumbuhan di sektor industri jasa ke level terendah sejak 2016. Laporan-laporan minggu lalu itu meningkatkan kekhawatiran ekonomi akan terjerat resesi.

Sekitar 80% dari 54 ekonom NABE yang disurvei mengatakan ekonomi berisiko melambat lebih lanjut, PDB yang rata-rata hingga tahun ini 2,3%, pada 2020 menjadi 1,8%. Produksi industri juga melambat tajam dari 4% pada 2018 menjadi 0,9% pada 2019. Laba perusahaan diproyeksikan hanya tumbuh 1,7% tahun ini, turun tajam dari 4,6% perkiraan Juni.

Pesimisme yang meningkat tentang laba perusahaan dan pelambatan ekonomi mengguncang pasar saham. Pekan lalu indeks utama Wall Street anjlok besar sehari setelah data tenaga kerja dan manufaktur menunjukkan perang dagang AS-Tiongkok kian merugikan ekonomi AS.

Ini diperparah putusan WTO memberi izin AS menaikan tarif impor pada barang Eropa senilai 7,5 miliar dolar AS. Eropa tersengat perang dagang. CEO Blackstone, Stephen Schwarzman memprediksi Eropa bisa mengalami "the lost decade".

Terlepas dari kerugian ekonomi akibat perang dagang pemerintah Trump, para peneliti NABE mengatakan tidak percaya kebijakan tersebut berhasil mengurangi defisit perdagangan AS. Mereka justru melihat defisit perdagangan melebar signifikan, dari 920 miliar dolar AS pada 2018, menjadi 981 pada 2019, dan menjadi 1,022 triliun dolar AS pada 2020.

Para panelis menyebut penyebab utamanya adalah pertumbuhan ekspor yang lebih lambat, turun dari 3% pada 2018 menjadi 0,1% pada 2019. Ada 24% dari panelis memproyeksikan peluang resesi akan dimulai pertengahan 2020. Sementara 69% dari mereka menyebut peluang resesi dimulai pertengahan 2021. ***

H. Bambang Eka Wijaya

Berita Terkait

Komentar