#kpk#korupsi

Mustafa Minta Saksi yang Menikmati Mahar Politik Jadi Tersangka

( kata)
Mustafa Minta Saksi yang Menikmati Mahar Politik Jadi Tersangka
Jaksa KPK, Taufiq Ibnugroho. Lampost.co/Asrul


Bandar Lampung (Lampost.co) -- Mantan Bupati Lampung Tengah (Lamteng), Mustafa, meminta kepada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menjadikan pihak-pihak yang menikmati mahar politik menjadi tersangka. Sebab, terdakwa kasus korupsi APBD Lamteng itu dituntut untuk mengganti kerugian negara sebesar Rp26,4 miliar. 

Jaksa KPK, Taufiq Ibnugroho, menjelaskan mahar politik dalam pencalonan Pilgub Lampung untuk partai Kebangkitan Bangsa (PKB), yang terungkap dalam persidangan dibebankan ke Mustafa. Sehingga, ketika ada pengembalian dari pihak partai tersebut, menjadi pengurangan kerugian negara.

Sementara dalam jalannya persidangan, Mustafa memberikan uang Rp18 miliar ke DPW PKB Lampung agar mengusungnya pada Pilgub 2019. Namun, dukungan tak berlabuh ke Mustafa, sehingga sekitar Rp14 miliar telah dikembalikan ke KPK. Namun, sisa uang tersebut belum jelas alirannya.

Fakta persidangan lainnya, saksi Midi Ismanto dan Khaidir Bujung menuding saksi Chusnunia Chalim selaku kader DPW PKB Lampung menerima uang Rp1,15 miliar. Namun, penerimaan Rp1 miliar dibantah Chusnunia dan hanya mengaku menerima Rp150 juta untuk renovasi kantor DPC Pemkab Lamteng.

Sementara itu, kuasa hukum Mustafa, M. Yunus, mengatakan pihaknya akan menganalisa tuntutan jaksa sebelum membuat pledoi. Hal itu untuk memilah uang pengganti Rp24 miliar tersebut.

Apalagi sebenarnya poin-poin justice colaborator yang diajukan Mustafa guna mengungkap pidana lain, seperti mahar ke PKB, hingga pengurusan DAK 2017 yang diduga dilakukan Wakil Ketua DPR, Aziz Syamsudin.

"Banyak dieksplor JPU kan ke PKB nama-nama seperti Cak Imin disebut. Berdasarkan fakta persidangan kan ada uang yang mengalir ke Chusnunia Chalim. Kami minta saksi dinaikan menjadi tersangka. Apalagi sidang dia enggak hadir. Kalau memang Rp4 miliar dinikmati PKB dan belum diganti, harusnya uang penggantinya cuma Rp20 miliar. Enggak fair dong, kalau dibebankan ke Mustafa," katanya.

 

Effran Kurniawan







Berita Terkait



Komentar