#khilafathulmuslimin#radikal#mui

MUI Sebut Anggota Khilafatul Muslimin Tak lebih dari 500 Orang

( kata)
MUI Sebut Anggota Khilafatul Muslimin Tak lebih dari 500 Orang
Markas Khilafatul Muslimin di Telukbetung Bandar Lampung saat digeledah polisi Polda Metro Jaya. (Foto:Lampost/Salda Anada)


Jakarta (Lampost.co)--Pengurus Harian Badan Penanggulangan Ekstremisme dan Terorisme (BPET) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Makmun Rasyid menyebut saat ini jumlah anggota Khilafatul Muslimin di Indonesai mencapai ratusan orang. Jumlah ini masih terbilang kecil dibandingkan kelompok Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang mencapai jutaan orang.
 
"Belum 20 persen dari pengikut HTI, kalau HTI itu sudah jutaan, sedangkan Khilafatul Muslimin didapat angka saat ini tapi belum mencapai 500 (orang)," ujar ujar Makmun dalam webinar kebangsaan, Sabtu, 11 Juni 2022. 


Berita terkait: Dua Petinggi Khilafatul Muslimin di Lampung Jadi Tersangka
 
Ia menambahkan jumlah anggota Khilafatul Muslimin terbanyak berada di Lampung dan Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB). Namun ia tidak memerinci banyaknya anggota kelompok yang hendak merubah ideologi Pancasila itu.

"Kebetulan saya baru pulang dari NTB ada spanduk (Khilafatul Muslimin) dekat dengan polres sangat berdekatan. Di sinilah dibutuhkan ketegasan Polri dalam menindak dan mencegah lebih baik kita mencegah daripada terjadi sesuatu baru penindakan," tuturnya. 
 
Selain itu, Makmun mengungkap bahwa Khilafatul Muslimin memiliki sifat seperti HTI, memiliki jejaring internasional. Kelompok tersebut mendapatkan suntikan dana dari sejumlah negara. 
 
"Selama ini Khilafatul Muslimin mendapat dukungan tidak hanya di Indonesia tetapi dari luar negeri, misalnya dari Malaysia yang paling dekat ya, karena ada jaringan Negara Islam Indonesia (NII) yang masih terhubung," jelasnya.
 
Selain itu, dukungan untuk Khilafatul Muslimin datang dari Mesir, Arab Saudi, hingga Amerika. Makmun menjelaskan untuk memperoleh dana dari luar negeri, kelompok tersebut menjual identitasnya sebagai yayasan yang bergerak pada bidang pendidikan.

Sri Agustina








Berita Terkait



Komentar