#Opini#Nabi#Muhammadsaw#Maulid

Muhammad Saw Tokoh Peradaban

( kata)
Muhammad Saw Tokoh Peradaban
Ilustrasi Maulid Nabi. (Dok.Lampost.co)

ADA dua sudut pandang dalam melihat sosok Nabi Muhammad saw, yaitu sikap ilmiah dan sikap iman, yang keduanya mesti diintegrasikan. Bagi umat Islam, Nabi Muhammad saw tidak saja diposisikan sebagai nabi pamungkas, tetapi juga sebagai sosok historis yang memberi andil besar dalam membangun peradaban dunia. Dia ialah pencerah zaman. Ajaran Islam yang diwariskan dan rekam jejak serta model kepemimpinannya telah menarik minat sejarawan dunia untuk mempelajarinya.

Secara historis-sosiologis, salah satu ukuran kebesaran seorang tokoh sejarah seperti Nabi Muhammad bisa dilihat dari warisan ajarannya. Bahkan, masih bertahan serta berkembang terus tanpa terputus mata rantai kesejarahannya dan autentisitas dokumen kitab sucinya.

Dalam perjalanan sejarahnya, semua agama, termasuk Islam, selalu terlibat dan berinteraksi dengan dinamika budaya setempat. Pada urutannya, agama dan budaya tidak mungkin dipisahkan sekalipun asal usulnya bisa dibedakan. Ajaran agama diyakini berasal dari Allah yang diwahyukan melalui rasul-Nya.

Sementara itu, budaya ialah hasil kreasi budi daya manusia, yang keduanya saling mendukung dan memerlukan. Agama tak akan berkembang tanpa instrumen budaya. Agama punya klaim kebenaran universal, sedangkan ekspresi budaya selalu bersifat lokal-kontekstual. Kita mengenal konsep kebenaran normative-universal dan kebajikan partikular (local wisdom). Oleh karena itu, sulit membayangkan Islam tanpa pengaruh budaya Arab sekalipun keduanya mesti dibedakan, antara islamisme dan arabisme.

Pencerah Zaman

Bagi umat Islam, Rasulullah Muhammad saw diyakini sebagai penutup dan pamungkas para rasul Allah. Namun, jika sosok Muhammad diposisikan sebagai tokoh sejarah pembangun peradaban dunia, untuk melihat kebesarannya diperlukan pendekatan ilmiah sehingga lebih objektif. Kebesarannya sebagai rasul pamungkas akan terlihat bahwa setelah Muhammad memang tak ada lagi rasul Tuhan yang membawa ajaran baru yang bisa melebihi pengaruh Muhammad.

Di berbagai belahan bumi pernah muncul tokoh-tokoh pencerah zaman yang membawa pesan Tuhan yang warisannya tetap bertahan dan tumbuh. Asumsi itu sejalan dengan Alquran yang menyatakan bahwa Allah pernah mengirim rasul-rasul-Nya ke muka bumi, sebagian diceritakan dalam Alquran dan sebagian lagi tidak diceritakan (Al-Mu'min 40:78).

Berbagai warisan ajaran rasul Tuhan, sejak Nabi Adam sampai Nabi Muhammad, merupakan al-hikmah, al-khalidah, atau perennial wisdoms yang menjadi inspirasi tumbuhnya nilai-nilai dan tradisi kebaikan (al-ma'ruf). Makanya, logis ketika Alquran menyebutkan ajaran yang dibawa Nabi Muhammad itu menyempurnakan warisan ajaran para nabi sebelumnya.

Para nabi itu menyeru ke kebaikan yang bersumber dari Tuhan yang sama dan Mahaesa. Kecenderungan dasar setiap pribadi ialah memilih kebaikan, yang dalam bahasa Alquran disebut al-khair dan al-ma'ruf, didorong fitrah yang ditanamkan Allah pada setiap anak Adam. Karena itu, tidak aneh bahwa setiap insan pada dasarnya selalu menyenangi kebaikan, kebenaran, kedamaian, dan keindahan. Jadi, menurut ajaran Rasulullah, setiap pribadi pada dasarnya baik dan mengarah ke kebaikan, apa pun etnik dan keyakinannya.

Kata khair yang puluhan kali disebutkan dalam Alquran seakar dengan kata khara (memilih) dan ikhtiar yang artinya sebuah tindakan akan memiliki nilai moral kebaikan, jika dilakukan atas dasar pertimbangan secara sadar dan pilihan bebas, bukan produk ancaman dan keterpaksaan. Karena itu, Allah berfirman, tak ada kebaikan dan kesalehan dalam beragama jika dilakukan karena terpaksa (Al-Baqarah 2:256).

Kebijaksanaan

Jika kita mau jujur dan berempati pada tradisi-tradisi masyarakat mana pun, akan ditemukan spirit dan dorongan untuk hidup secara baik, benar, damai, dan indah. Rasulullah menyatakan kehadirannya untuk menjaga, meneruskan, dan menyempurnakan ajaran-ajaran para rasul Tuhan yang sebelumnya.

Dalam momentum peringatan Maulid Nabi Muhammad saw, sesungguhnya banyak aspek ajaran dan keteladanannya yang mesti diangkat. Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad dan para pengikutnya untuk mengajak ke jalan Tuhan bilhikmah. Kata itu penting direnungkan. Di sana digunakan kata 'dengan bijaksana', bukannya dengan mengandalkan kepintaran, ilmu pengetahuan, kekuasaan, dan kekayaan.

Sikap bijak itu memerlukan ilmu, kematangan pribadi, sabar, dan kasih sayang. Jadi, jika kita mengajak orang ke jalan Tuhan, sekalipun pintar dan kaya, tanpa disertai sikap bijak, orang tidak akan tertarik. Terlebih, jika dengan marah dan ancaman. Yang terjadi, kemuliaan ajaran yang diwariskan Nabi Muhammad sebagai penggerak dan pilar peradaban bisa berbalik menjadi kekuatan yang mengancam dan menakutkan.

 

 

Komaruddin Hidayat/Guru Besar Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah



Berita Terkait



Komentar