#harimau#konservasi#tnbbs#tnwk

Moment Kemerdekaan RI: TNBBS Ajak Semua Pihak Intens Membahas Aksi Pelestarian Harimau Sumatera

( kata)
Moment Kemerdekaan RI: TNBBS Ajak Semua Pihak Intens Membahas Aksi Pelestarian Harimau Sumatera
Talkshow yang digelar Balai Besar TNBBS bertajuk bertajuk `17 Agustus, Harimau, dan Kemitraan Konservasi, Selasa, 18 Agustus 2020. Foto: Dok


Kotaagung (Lampost.co): Lampung memiliki keragaman hayati tinggi yang terletak pada dua kawasan konservasi yaitu bentang alam Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) dan Taman Nasional Way Kambas (TNWK). Khusus TNBBS, taman nasional ini memiliki catatan kepadatan populasi harimau yang tergolong tinggi. Selain itu, bentang alam di bagian selatan TNBBS, yaitu wilayah kolaborasi TNBBS dan TWNC, juga merupakan relung bagi harimau Sumatera dengan kepadatan tinggi.

Namun, keberadaan harimau Sumatera di kawasan ini masih dihadapkan pada berbagai ancaman diantaranya adanya aktivitas perburuan, perdagangan ilegal, perambahan, pembalakan liar, dan konflik dengan manusia.

Dalam rangka merayakan Hari Harimau Sedunia atau global tiger day yang jatuh setiap 29 Juli, Balai Besar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) bekerja sama dengan Wildlife Conservation Society Indonesia Program (WCS-IP), Sumatran Tiger Project GEF-UNDP, Pusat Informasi Lingkungan Indonesia (plu), Yayasan Badak Indonesia (YABI), dan Tambling Wildlife Nature Conservation (TWNC) menyelenggarakan live talkshow, Selasa, 18 Agustus 2020 dengan berbagai pihak yang bertajuk `17 Agustus, Harimau, dan Kemitraan Konservasi` yang bertujuan untuk menginformasikan kepada publik terkait integrasi upaya yang telah dilakukan oleh parapihak di TNBBS, mempromosikan peran aktif para pihak dan instansi terkait dalam memberikan kontribusi nyata untuk perlindungan harimau sumatera dan habitatnya, dan meningkatkan dukungan akademisi serta masyarakat secara umum terhadap perlindungan harimau Sumatera.

Live talkshow menghadirkan Plt. Kepala Balai Besar TNBBS Ismanto, Kepala Balai TNWK Subakir, Kepala SKW III BKSDA Bengkulu Hifzon Zawahiri, Koordinator Konservasi TWNC Guntur W. Mukti, Praktisi Wi/dlife Welfare Veterinary drh. Sugeng Dwi Hastono, Ahmad Latif selaku masyarakat pelaku kearifan lokal di Rajabasa, pinggiran TNBBS, dan Wildlife Response UnitWCS-IP Tabah.

Plt. Kepala Balal Besar TNBBS Ismanto menyampalkan bahwa kepadatan populasi harimau di TNBBS tergolong tinggi, yaitu 2,8 individu per 100 km2 (Pusparini, et. all., 2018). Selain itu, bentang alam di bagian dengan kepadatan tinggi, yaitu 2,66 individu per 100 km2 (TWNC, 2017).

"Kami memasang ratusan kamera trap di TNBBS untuk memantau satwa-satwa. Kami juga berpatroli untuk menjaga kawasan. Dari patroli tersebut, kami masih menemukan jerat yang terpasang dan tanda-tanda perburuan lain di kawasan TNBBS. Ini yang mengancam keberadaan satwa dilindungi itu (harimau Sumatera, red)," kata Ismanto.

Selanjutnya, Kepala Balai TNWK Subakir mengatakan di TNWK, meskipun tidak ada zona penyangga, hingga saat ini belum pernah terjadi konflik manusia dengan harimau Sumatera. Selain karena stok pakan masih banyak, ketegasan pengelola kawasan dalam menjaga agar tidak ada masyarakat yang bermukim dalam kawasan diperlukan.

"Namun demikian, perburuan harimau Sumatera menjadi ancaman utama," kata dia.

Sementara itu, menurut drh. Sugeng, dokter hewan sangat diperlukan dalam konservasi harimau, terutama jika terjadi konflik. Harimau perlu diperhatikan kondisi kesehatannya. Selain itu, kesejahteraan satwa tidak hanya dilihat dari satwa itu sendiri, melainkan juga kondisi habitat, keselamatan, hingga kesehatan sekitar sehingga terhindar dari zoonosis.

Dalam penanganan konflik harimau, menurut Kepala SKW III BKSDA Bengkulu Hifzon, BKSDA SKW III Lampung berperan penting. Salah satu contohnya yaitu dalam penanganan konflik Batua (nama harimau Sumatera) yang ditemukan di Batu Ampar, Suoh. Saat ini, kondisi kesehatan Batua cukup baik. Namun, perilaku keliaran Batua masih perlu dikaji lagi, terutama dalam berburu makanan, mengingat kaki kanan Batua mengalami kecacatan. Jika tidak memungkinkan untuk dilepasliarkan, Batua bisa dijadikan indukan untuk pengembangbiakan harimau secara ex-situ.

 

Harimau Sumatera Diancam Kepunahan, Perlu Penguatan Penanganan Konflik

Melalui videocall, Koordinator Konservasi TWNC Guntur W. Mukti menambahkan dari catatan TWNC, sejauh ini terdapat 45 individu harimau dalam kawasan kolaborasi TNBBS dengan TWNC. Namun demikian, menurutnya, harimau Sumatera tinggal satu langkah lagi menuju kepunahan. Semua pihak secara bersama-sama harus tegas dalam menegakkan hukum. 

"Upaya TWNC dalam menjaga ekosistem harimau salah satunya dengan pengendalian mantangan," kata dia.

Sementara itu, Ahmad Latif selaku masyarakat pelaku kearifan lokal di Rajabasa, pinggiran TNBBS mengungkapkan masyarakat setempat masih banyak melihat jejak harimau Sumatera dan bekas makanannya. Namun, masyarakat tidak pernah menjumpai langsung. Masyarakat juga tidak pernah mengganggu karena menurut masyarakat, harimau tidak mengganggu masyarakat.

"Salah satu cara supaya masyarakat bisa hidup berdampingan dengan harimau yaitu, masyarakat pergi ke kebun pada siang hari, tidak sampai sore. Sehingga bisa berbagi waktu dengan harimau. Karena semua mahluk hidup punya dan butuh ruang dan waktu," kata Latif.

Wildlife Response Unit WCS-IP Tabah menambahkan masyarakat memang merupakan elemen yang sangat penting dalam penanganan konflik harimau Sumatera. Maka dari itu, WRU WCS-IP melakukan pendekatan emosional dengan masyarakat dan mendorong peran aktif masyarakat dalam menangani konflik. 

Kepala Sub Direktorat KKH, Sri Mulyani, melalui videocall dalam talkshow itu mengarahkan untuk dilakukan penguatan di tingkat tapak, yaitu kemandirian masyarakat lokal di sekitar kawasan dalam melakukan mitigasi konflik satwa liar.

Selain itu, kata Yani, sapaan akrabnya, sangat diperlukan integrasi dari berbagai pihak, baik pemerintah lokal, instansi pendidikan, dan lembaga dalam mendorong upaya konservasi harimau Sumatera.

Abdul Ghafur







Berita Terkait



Komentar