Koronacoronavirusmisa

Misa Pertama dan Rindu Ekaristi

( kata)
Misa Pertama dan Rindu Ekaristi
Gereja Katolik Santo Yohanes Rasul Kedaton di Jalan Tupai, Bandar Lampung, menyelenggarakan misa pertama di masa pandemi Covid-19, Sabtu 4 Juli 2020, pukul 16.30.

BANDAR LAMPUNG (Lampost.co) -- Gereja Katolik Santo Yohanes Rasul Kedaton di Jalan Tupai, Bandar Lampung, menyelenggarakan misa pertama di masa pandemi Covid-19, Sabtu, 4 Juli 2020, pukul 16.30. Misa dipimpin Romo Antonius Untoro.

Perayaan ekaristi yang dihadiri langsung umat di dalam gereja itu adalah yang pertama kali setelah misa virtual sejak sekitar tiga bulan lalu. Sesuai dengan ketentuan gereja di masa pandemi, ada beberapa hal berbeda dalam misa kudus pertama itu. Umat yang hadir dibatasi hanya untuk tiga lingkungan pada rentang usia 14--60 tahun.

Sebelum masuk gereja, umat diwajibkan mencuci tangan dengan sabun dan telah disiapkan tiga titik wastafel dengan masing-masing empat keran air. Setiap umat juga wajib memakai masker dan disemprot dengan hand sanitizer di pintu gereja serta diberikan nomor kursi.

Selain itu, kolekte dan dana gereja yang biasanya dipersembahkan saat misa berlangsung kali ini disediakan kotak sebelum masuk gereja. Di dalam gereja, setiap kursi diberi tanda untuk menjaga jarak agar tidak duduk berdekatan sepeti biasanya.

Demikian pula jaga jarak dilakukan pada penerimaan komuni saat antrean umat maupun jarak antara imam dan umat, dibatasi satu meter.

Pengurus gereja juga meminta agar setelah misa selesai umat yang hadir tidak saling berbincang seperti biasanya. Umat diminta segera ke tempat parkir atau kembali pulang, meskipun sudah lama tidak bertemu.

Tidak seperti lazimnya, liturgi misa pertama di masa pandemi berlangsung tanpa paduan suara, tanpa lagu pujian, tanpa putra-putri altar (misdinar), dan tanpa diakon. Juga tanpa prosesi persembahan yang disampaikan kepada imam saat misa berlangsung.

Dalam misa tersebut, Romo Untoro mengajak semua umat yang hadir untuk tetap rendah hati dan bersikap sederhana. Sikap rendah hati dan sederhana itu tidak saja harus menjadi pedoman interaksi kepada semua orang, tetapi yang yang paling utama adalah kepada Tuhan.

Sebab, sejatinya setiap manusia selalu punya banyak persoalan hidup dan semua persoalan itu tidak akan dapat diselesaikan sendiri. Selalu saja setiap manusia perlu bantuan dan dukungan orang lain dan penyertaan Tuhan.

Romo Untoro mengutip Injil Matius: "Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat. Aku akan memberikan kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Ku-pasang kepadamu dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan.".

Winarko



Berita Terkait



Komentar