#kesehatan#merokok#virus-corona

Merokok Tingkatkan Risiko Infeksi dan Perparah Komplikasi Korona

( kata)
Merokok Tingkatkan Risiko Infeksi dan Perparah Komplikasi Korona
Merokok merupakan salah satu faktor yang dapat meningkatkan risiko infeksi covid-19. (Ilustrasi/Pexels)


Jakarta (Lampost.co) -- Merokok merupakan salah satu faktor yang dapat meningkatkan risiko infeksi Korona. Selain itu kebiasaan merokok juga bisa memperparah komplikasi penyakit yang diakibatkannya. Di Indonesia sendiri, sebanyak 34 kasus terkonfirmasi positif Korona.

Belum lama ini, WHO Indonesia mengeluarkan pernyataan yang secara lebih spesifik mengingatkan masyarakat Indonesia mengenai kaitan antara Korona dengan perilaku merokok.

“Perokok berisiko tinggi untuk penyakit jantung dan penyakit pernapasan, yang merupakan faktor risiko tinggi untuk mengembangkan penyakit parah atau kritis dengan Korona. Oleh karena itu, perokok di Indonesia berisiko tinggi terkena Korona,” ujar Dr.N.Paranietharan, WHO representative to Indonesia, dalam sebuah pernyataan resmi.

Dr. Feni Fitriani Sp.P(K), Ketua Pokja Masalah Rokok Perhimpunan Dokter Paru Indonesia juga menambahkan, merokok meningkatkan reseptor ACE 2.

"Yang kita tahu juga menjadi reseptor virus korona penyebab covid-19,” ujar Dr. Feni dalam Media Briefing mengenai hubungan antara rokok dan Korona, di kawasan Jakarta Pusat, Jumat, 13 Maret 2020.

Semakin banyak virus korona penyebab Korona yang hinggap atau menempati reseptor tersebut, semakin besar juga risiko perokok terkena Korona. Ini juga meluruskan disinformasi yang beredar yang menyebutkan bahwa merokok atau asap rokok bisa membantu meredakan Korona.

"Ini sama sekali salah.  Maka, untuk mengurangi atau mencegah risiko korona dan komplikasinya, kurangi merokok. Berhenti lebih baik,” tutur Dr. Feni.

Salah satunya adalah studi yang dipublikasikan dalam Epidemiological and clinical features of the 2019 novel coronavirus outbreak in China (Yang Yang, dkk, medRxiv,2020). Penelitian ini menyebutkan bahwa keparahan coronavirus pada laki-laki di Tiongkok lebih tinggi dibandingkan perempuan, hal ini dapat disebabkan karena laki-laki di Tiongkok kebanyakan adalah perokok berat.

Studi ini juga menyebutkan 61,5 persen penderiat pneumonia berat akibat coronavirus adalah laki-laki dan tingkat kematian 4,45 persen pada pasien laki-laki dan 1,25 persen pada pasien perempuan.

“Melihat temuan di atas, masyarakat perlu mengetahui bagaimana perilaku merokok memiliki risiko lebih tinggi terhadap infeksi dan memperparah komplikasi Korona, sehingga masyarakat lebih waspada mengingat Indonesia adalah negara dengan jumlah perokok pria yang sangat tinggi,” tutup Prof. Dr. Amin Soebandrio, PhD, SpMK(K), Kepala Lembaga Biologi dan Pendidikan Tinggi Eijkman.

 

Bambang Pamungkas







Berita Terkait



Komentar