#tajuklampungpost#pembangunan#lampung
Tajuk Lampung Post

Merawat Hasil Pembangunan

( kata)
Merawat Hasil Pembangunan
dok Lampost.co

PEMBANGUNAN sedang gencar-gencarnya dilakukan sejumlah pemerintah daerah demi memajukan wilayahnya. Bangunan infrastruktur, seperti jalan, gedung, jembatan, dan sebagainya menjadi sasaran yang dikejar untuk dilaksanakan.

Bangunan yang direncanakan dibuat semegah mungkin dengan biaya yang dikeluarkan tidak sedikit. Kemegahannya diharapkan dapat mengangkat wibawa si empunya di mata masyarakat luas.

Islamic Center Lampung Timur menjadi salah satu bangunan megah yang digaungkan menjadi salah satu ciri dari daerah tersebut. Pembangunan pusat kegiatan Islam tersebut dicetuskan pertama kali oleh Irfan Nuranda Djafar. Kemudian proses pembangunannya dimulai pada era Bupati Bahusin pada 2002 dengan menggunakan dana APBD.

Lahan awal untuk pembangunan mencapai 20 hektare. Lahan yang terletak di Jalan Lintas Timur Sumatera Desa Muarajaya, Sukadana itu merupakan eks lokalisasi.

Peletakan batu pertama dilakukan pada 2004 dan diresmikan pada 2008 oleh Bupati Satono. Kompleks Islamic Center ini dilengkapi dengan bangunan masjid, asrama haji, dan berbagai sarana pendukungnya dengan fasilitas yang cukup mewah.

Bangunan nan megah tersebut pun sempat menjadi kebanggaan Pemkab dan masyarakat Lampung Timur. Siapa pun orang yang melintas di Jalintim akan melihat kemegahan bangunan tersebut.

Sayang, kemegahan dan kekokohan bangunan tersebut tidak bertahan lama. Seiring berjalan waktu, kemegahan tersebut kini sirna karena kondisi bangunan dan lingkungan sekitarnya yang tidak terawat. Kondisi itu sungguh membuat kita miris. Betapa tidak, bangunan yang digadang-gadang menjadi salah satu ikon bagi Lampung Timur kini seolah menjadi tempat kumuh yang tidak layak disandang sebuah Islamic Center.

Bangunan yang seharusnya memberikan kebanggaan itu pun tidak lagi tergambar. Kini hanya tersisa bangunan kusam tanpa banyak kegiatan yang dilakukan. Kondisi yang dialami gedung Islamic Center Lampung Timur itu menjadi bukti pembangunan yang dilakukan sembarangan karena hanya mengikuti selera penguasa. Perencanaan yang tidak akurat membuat gedung menjadi bangunan percuma karena di awalnya tidak dipikirkan keberlanjutannya di masa depan.

Padahal, pembangunan gedung tersebut menelan biaya miliaran rupiah dari uang rakyat. Seharusnya gedung tersebut dapat dimanfaatkan untuk kemaslahatan dan memberikan efek positif untuk masyarakat. Perawatan dan pemeliharaan yang tidak dilakukan menjadi salah satu penyebab bangunan menjadi kumuh dan kotor. Dibutuhkan kerja sama antarpihak terkait agar bangunan dapat berfungsi sebagaimana mesti.

Untuk itu, setiap pembangunan yang akan dilakukan pemerintah daerah harus direncanakan dengan matang, mulai awal hingga perawatan dan pemeliharaan saat sudah jadi. Kerangka acuan kerja atau KAK harus benar-benar dilakukan pemda dalam melaksanakan setiap kegiatan, termasuk pembangunan.

Sebab, dalam KAK tercantum perencanaan kegiatan yang berisi penjelasan/keterangan mengenai apa, mengapa, siapa, kapan, di mana, bagaimana, dan berapa perkiraan biayanya suatu kegiatan. Dengan kata lain, KAK berisi uraian tentang latar belakang, tujuan, ruang lingkup, masukan yang dibutuhkan, dan hasil yang diharapkan dari suatu kegiatan.

Tentunya, pembangunan yang dilakukan dengan menggunakan uang rakyat bisa memberikan efek positif dan memberikan manfaat bagi masyarakat. Jika hasilnya tidak jelas, tentunya amat disayangkan uang rakyat dihambur-hamburkan untuk kegiatan yang tidak ada artinya. Perencanaan yang matang harus dipegang teguh para pemilik kebijakan agar setiap pembangunan dapat berhasil guna dan bermanfaat. Bukan malah menjadi mubazir karena tidak terawat. ***

Bambang Pamungkas



Berita Terkait



Komentar