#bencana#internet#digital#mediasosial

Merawat Empati terhadap Korban Bencana

( kata)
Merawat Empati terhadap Korban Bencana
Diskusi "Sigap-Bijak Mengabarkan Bencana" melalui virtual, Jumat, 30 April 2021. Lampost.co/Effran


Jakarta (Lampost.co) -- Badan Nasional Penanggulangan Bencana menyebut Indonesia dilanda 1.125 bencana sejak 1 Januari hingga 15 April 2021. Jumlah ini tentu tidak menghitung insiden nonalam seperti jatuhnya Sriwijaya Air SJ182 maupun tenggelamnya KRI Nanggal-402.

Ketua Yayasan Gerakan Indonesia Sadar Bencana (Graisena), Agung Firmansyah, mengatakan selain perlunya literasi dan edukasi mitigasi bencana, saat ini diperlukan pula imbauan untuk menanggapi peristiwa bencana dengan lebih manusiawi dan mengedepankan empati.

Saat ini, kata dia, munculnya tren berkomentar tidak senonoh dan menganggap bercanda berita duka di media sosial telah menjadi fenomena yang memprihatinkan. 

"Komentar negatif tersebut pada akhirnya mendapatkan respons keras dari mayoritas warganet dan mengaburkan suasana berkabung yang seharusnya diramaikan dengan doa-doa," kata Agung saat membuka diskusi "Sigap-Bijak Mengabarkan Bencana" melalui virtual, Jumat, 30 April 2021. 

Baca: Jaga Akhlak di Era Digital

 

Fenomena tersebut, penting untuk didiagnosa penyebabnya agar pengguna media sosial kian bijak dalam menanggapi kabar duka atau bencana yang terjadi di negeri ini.

"Ada banyak ditemukan komentar asal-asalan dengan dalih dark joke yang menihilkan rasa empati kepada korban bencana," kata dia. 

Sementara itu, Redaktur Lampung Post, Sobih Adnan saat menyampaikan materi menyebut salah satu faktor pembentuk tren tersebut adalah online disinhibition effect.

Efek disinhibisi online ialah ketiadaan batasan saat seseorang berkomunikasi secara daring, terutama jika dibandingkan dengan komunikasi langsung.

"Saya kutip hasil riset John Suler, profesor psikologi yang menyebut efek disinhibisi bisa terdiri dari enam faktor. Yakni, anonimitas, invisibilitas, asinkronisitas, introjeksi solisipstik, imajinasi disosiatif, dan kesetaraan sosial di internet," kata dia. 

Anonimitas, alias tradisi internet yang memungkinkan sebuah dengan identitas yang samar membuat netizen merasa bisa sesuka hati dalam mengumbar komentar dan pandangan tanpa memikirkan perasaan pihak lain. 

"Sementara ketidak munculan ekspresi dalam unggahan maupun komentar berbasis teks sangat berpotensi menghadirkan pemaknaan multitafsir yang justru jatuhnya malah memperkeruh keadaan," kata Sobih. 

Pola berbeda antara komunikasi langsung dan internet ini penting untuk mulai dikenalkan kepada warganet Indonesia. 

"Karena bisa jadi, dengan pemahaman yang keliru hal itu bisa menggerus rasa empati kita, termasuk saat menanggapi berita-berita duka dan bencana," kata dia.

Effran Kurniawan







Berita Terkait



Komentar