#weekend#informasi#sorot

Menyaring Informasi untuk Internet Sehat

( kata)
Menyaring Informasi untuk Internet Sehat
Bijak menerima dan menyebarkan informasi. (Dok.Lampost)


INTERNET membawa dampak besar bagi masyarakat. Satu orang dapat terkoneksi dengan orang lainnya tanpa batasan ruang dan waktu. Berdasarkan hasil penelitian situs We Are Social, pengguna internet sedikitnya menghabiskan rata-rata sekitar 4 jam 42 menit untuk mengakses internet di PC atau tablet selama satu hari.

Untuk pengguna ponsel, rata-rata waktu yang digunakan lebih sedikit ketimbang di PC atau tablet. Mereka menghabiskan waktu rata-rata 3 jam 33 menit untuk mengakses internet dalam satu hari. We Are Social juga memaparkan di Indonesia terdapat 88,1 juta pengguna aktif internet dan di dalamnya sekitar 79 juta merupakan pengguna aktif media sosial, sehingga 30% penduduk Indonesia menjadi pengguna aktif media sosial.

Salah satu kebijakan penting yang mengatur hal itu adalah Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) atau Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008. UU ITE adalah undang-undang yang mengatur tentang informasi serta transaksi elektronik atau teknologi informasi secara umum. UU tersebut diberlakukan sejak April 2008.

Pengamat Hukum dari Fakultas Hukum Universitas Lampung, Eddy Rifai, mengungkapkan UU ITE mengatur tiga hal yang bisa dikenai jeratan hukum, yaitu judi daring, pencemaran nama baik, dan pornografi. Jika memenuhi semua unsur tersebut, bisa terjerat kasus hukum. UU ITE sejauh ini cukup efektif diterapkan di Indonesia, khususnya di Lampung. Sebab dengan aturan tersebut ada penegakan hukum di dalamnya.

Tidak sedikit masyarakat terjerat kasus hukum ITE dan hal itu menyentuh semua kalangan. Terakhir, menyeret salah satu dosen di Unila yang hingga kini masih berada di balik jeruji besi tahanan.

"Dari ketiga unsur tadi masih ada kualifikasinya. Seperti menghina, memfitnah, atau penyebaran pornografi, bisa dipidanakan. Sejauh ini UU ITE di Lampung cukup efektif. Hal itu bisa dilihat dari banyaknya kasus yang terjerat hukum ITE. Terakhir ada dosen di Unila," kata dosen Fakultas Hukum Unila itu.

Tidak bisa dipungkiri sampai sekarang masih banyak dijumpai ujaran kebencian (hate speech), berita hoaks, dan pornografi baik media sosial maupun di laman-laman pencarian. Hal itu masih menjadi pekerjaan rumah bagi polisi. Dengan demikian media sosial tertib dan tercipta internet yang sehat.

"Seperti judi online, di sana ada siber yang mengawasi, dari situ bisa dilihat siapa saja orangnya. Adapun ujaran kebencian, misalnya dengan meme, bisa dilihat lagi spesifikasinya. Adakah ditujukan kepada orang atau tokoh, nanti dilihat apakah memenuhi unsur atau tidak."

Efek Jera

Oleh sebab itu selain untuk menegakkan hukum, juga memberikan efek jera bagi para pelaku. Menurut Eddy, efek jera bukan hanya dari penegakan hukum tersebut, melainkan tingkat efektivitas dari sebuah UU.

"Efek jera unsurnya banyak, tetapi bagaimana tingkat efektivitasnya. Sebab tidak semua bisa dilaksanakan, misalnya UU tentang begal. Itu kan aturannya sudah ada, tetapi begal masih tetap banyak karena penegakan hukum belum maksimal. Sama halnya dengan UU, efek jera atau tidak tinggal bagaimana memaksimalkannya," ujar Eddy, yang juga Direktur Pascasarjana FH Unila.

Meski dianggap cukup efektif, Eddy menilai UU ITE masih memiliki kelemahan. Dari segi UU perlu ada kajian ulang untuk membahas terkait dengan ITE. Pencemaran nama baik, misalnya. Mesti ada tolok ukur yang menerangkan dan lebih spesifik pasal yang menerangkan hal tersebut.

"Terkait dengan pencemaran nama baik. Itu tolok ukurnya apa. Harus lebih spesifik, ada penambahan pasal yang jelas. Contohnya wartawan menulis mengkritik, apakah itu masuk pencemaran nama baik atau bukan, dan sebagainya," ujar Eddy.

Nur Jannah







Berita Terkait



Komentar