#buras#jkn#bpjs

Menuju Universal Health Coverage! (2)

( kata)
Menuju Universal Health Coverage! (2)
H. Bambang Eka Wijaya. (Foto: Dok/Lampost.co)

KATA kuncinya "coverage", dalam terminologi asuransi bermakna khas "perlindungan". Implementasinya dalam BPJS Kesehatan, perlindungan semesta/menyeluruh (universal) kesehatan peserta JKN, yang mencerminkan perlindungan pada harkat (fisis) dan martabat (moralitas) peserta hingga tampak pemuliaan secara humanistik dalam proses pelayanan.

Pelayanan yang memanusiakan (ngewongke) peserta BPJS seperti gambaran tersebut masih harus diwujudkan, utamanya di RS. Antrean panjang yang terlihat di banyak RS, hingga orang yang sakit jadi lebih menderita oleh lambatnya pelayanan, harus diperbaiki menjadi layanan tepat waktu untuk mewujudkan universal health coverage.

Standar minimal layanan ngewongke pasien untuk universal health coverage mungkin bisa jadi bandingan layanan di RS Sardjito, Yogyakarta, seperti yang dilihat penulis saat mendampingi keluarga berobat tiga tahun lalu.

Begitu masuk ruang pendaftaran tampak luas, tempat pendaftarannya panjang, banyak loket. Setiap loket diberi label layanan, bagian anak, bagian kandungan, bagian penyakit dalam, dan seterusnya, sehingga pasien langsung terbagi di loket pendaftaran sesuai dengan layanan yang dibutuhkan.

Di ruang tunggu, tersedia banyak kursi tapi yang duduk sedikit.

Dari loket pendaftaran pasien langsung diarahkan ke ruang bagian layanan sesuai dengan kebutuhannya. Misalnya, ke bagian penyakit dalam. Begitu masuk, pasien dengan berkas pendaftarannya disambut perawat penerima pasien. Bukan disuruh duduk, melainkan dibawa ke layanan pendahuluan, ditimbang badannya, ditensi tekanan darahnya, diukur suhu tubuhnya, dan lain lagi sesuai dengan informasi yang dibutuhkan dokter.

Usai itu dipersilakan duduk menunggu panggilan di depan ruang dokter. Terlihat pasien yang antre tak banyak di depan empat sampai lima ruang dokter, yang di pintunya ada nama dokter bisa dibuka-pasang. Begitu ada pintu ruang dokter terbuka dan pasien keluar, nama pasien sesuai dengan urutan kedatangannya dipanggil. Yang dipanggil nama, bukan nomor.

Begitu masuk, dokter menanya keluhan pasien dan membicarakannya. Kemudian dilakukan pemeriksaan fisik secara saksama. Saat membuat resep, dokter menjelaskan obat yang diberikan, kaitannya dengan penyakit yang diderita. Misalnya, kapsul yang merah itu obat apa, cara mengonsumsinya bagaimana.

Setelah itu ke apotek. Selain apotek utama dekat ruang pendaftaran, di setiap bagian ada layanan apotek kecil. Ini membantu layanan cepat, pasien mendapat obat tepat waktu.

H. Bambang Eka Wijaya*

Berita Terkait

Komentar