#Ramadan#HUTRI

Menu Sahur Sukarno dan Hatta Jelang Proklamasi

( kata)
Menu Sahur Sukarno dan Hatta Jelang Proklamasi
Diorama rapat perumusan naskah proklamasi. Antara/Aprilio Akbar


Bandar Lampung (Lampost.co) -- Sudah semalaman suntuk rumah Laksamana Tadashi Muda Maeda menjadi tempat berembuk. Jelang waktu sahur pada Jumat, 17 Agustus 1945 itu, barulah Sukarno, Mohammad Hatta, dan Ahmad Subardjo rampung merumuskan teks proklamasi kemerdekaan Indonesia.

Sayuti Melik, yang hadir sebagai saksi, diminta menulis naskah. Sayangnya, tak ada mesin ketik di rumah yang kini dijadikan Museum Perumusan Naskah Proklamasi atau Munasprok itu. Lantas kepada Satsuki Mishima, asisten rumah tangga Maeda dan satu-satunya perempuan malam itu, mereka menyuruh meminjamnya ke kantor militer Jepang.

Wanita ini pula, yang kemudian diminta membuatkan nasi goreng untuk sahur Bung Karno, Bung Hatta, dan Ahmad Subardjo.

"Waktu itu bulan puasa. Sebelum pulang saya masih dapat makan sahur di rumah Admiral Mayeda," tulis Hatta dalam Sekitar Proklamasi (1981).

Baca: 9 Ramadan: 78 Tahun Lalu Indonesia Merdeka

 

Setelah Sayuti Melik selesai merapikan naskah, ada sedikit perdebatan antara Sukarno dan Sukarni yang juga hadir sebagai saksi mewakili golongan muda.

Sukarni menyarankan agar Bung Besar membacakan ikrar kemerdekaan itu di tempat terbuka, lapangan Ikada.

"Rakyat Jakarta dan sekitarnya diserukan berbondong-bondong ke lapangan Ikada untuk mendengarkan proklamasi kemerdekaan," kata Sukarni.

"Tidak!" jawab Sukarno. "Lebih baik dilakukan di kediaman saya, Pegangsaan Timur. Pekarangan depan rumah cukup luas untuk ratusan orang. Untuk apa kita memancing insiden?"

Sebuah rapat umum yang juga digelar di lapangan umum, menurut Sukarno, akan menimbulkan salah paham. Apalagi tanpa diatur oleh penguasa-penguasa militer.

"Bisa terjadi bentrokan antara rakyat dan penguasa militer." Oleh karena itu, "Saya minta saudara sekalian hadir di Pegangsaan Timur 56 sekitar pukul sepuluh pagi," pinta Bung Karno.

Tercapai kata sepakat. Sang tuan rumah Laksamana Maeda, mengucapkan selamat kepada semua yang hadir.

Menjelang pukul 03.00 dini hari, Hatta menemui beberapa wartawan yang masih bersiaga di depan pintu.

"Saudara-saudara sudah bekerja keras, tetapi kuharap tidak keberatan untuk memperbanyak teks proklamasi," kata Hatta sebagaimana dicatat Sergius Sutanto, dalam Hatta: Aku Datang karena Sejarah (2013).

Hatta juga meminta para pemuda yang bekerja di Kantor Domei untuk mengawatkan berita proklamasi ke seluruh dunia.

Pagi itu jalanan sangat lengang. Pekik "Sahur...sahur!" sayup terdengar. Para pendiri bangsa pun bersantap sahur untuk Ramadan hari kesembilan tahun 1364 Hijriah. Meski, cuma ada nasi goreng, telur, dan ikan sarden yang tersaji di meja makan.

Sobih AW Adnan







Berita Terkait



Komentar