#tajuklampungpost#tpa-bakung#kebersihan

Menjinakkan TPA Bakung

( kata)
Menjinakkan TPA Bakung
dok Lampost.co

VOLUME sampah di Kota Bandar Lampung terus meningkat, terutama sampah plastik yang sulit di daur ulang oleh alam. Namun, hingga kini belum ada kebijakan komprehensif untuk menangani sampah. Sampah yang bertupuk menjadi bom waktu yang dapat meledak setiap saat.

Kondisi itulah yang kini terjadi di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bakung, Bandar Lampung. Saat musim hujan warga setempat mengeluhkan daerahnya kerap menjadi korban. Warga  Perumahan Keteguhan Permai yang berjarak dekat TPA itu mengaku air sumurnya tercemar.

Warga juga mengeluhkan bau busuk nan menyengat. Bahkan tidak jarang area permukiman warga setempat terpapar air kotor yang mengalir bersumber dari tempat pembuangan sampah tersebut. Warga pun mencemaskan ancaman kesehatan yang dapat mereka terima.

Sebab utama persoalan itu jelas lantaran TPA Bakung yang overload. Manajemen TPA Bakung saat ini mencatat 1.000 ton sampah per hari masuk. Dari total tersebut, 60% adalah sampah anorganik didominasi sampah plastik. Sementara 40%-nya sampah organik.

Volume sampah yang dikelola oleh TPA Bakung jelas melampaui kapasitas. TPA dengan luas lahan 14,2 hektare itu sejatinya diperuntukkan menampung 230 ton sampah per hari. Karena luas lahan terbatas, akhirnya tumpukan sampah kian hari makin menggunung.

Selain overload, sistem pengelolaan sampah juga belum sesuai aturan undang-undang persampahan yang ditetapkan pemerintah sejak 2013. Seharusnya pengelolaannya secara tertutup atau ditimbun, tetapi sampai kini di TPA Bakung masih open dumping atau dibiarkan terbuka.

Persoalan di TPA Bakun amatlah serius. Pemerintah perlu bertindak menangani persoalan ini. Jangan sampai TPA yang berkapasitas berlebih menjadi petaka dikemudian hari. Cukuplah longsor yang terjadi pada Juli tahun 2019 lalu di TPA Bakung menjadi peringatan.

Pemerintah kota perlu mempertimbangkan mengurangi sampah yang masuk ke TPA Bakung. Salah satunya dengan menyediakan TPA terpadu di tiap kecamatan. Dengan demikian, jumlah sampah yang masuk ke Bakung dapat terus dikurangi karena sampah telah dipilah sesuai kapasitas.

Selain itu percepatan pembangunan TPA regional di Provinsi Lampung mendesak untuk direalisasikan. Pembangunan TPA regional telah disepakati antara Pemprov Lampung bersama Pemkab Lampung Selatan, Pemkab Pesawaran, Pemkot Bandar Lampung, dan Pemkot Metro.

Keberadaan TPA regional ke depan berfungsi sebagai tempat menampung dan mengelola segala sampah yang tidak tertampung di ke empat daerah tersebut. Itu mengapa Pemprov dan kabupaten/kota masih perlu mempersiapkan masterplan dan akses jalan ke TPA regional.

Persoalan sampah bukan hal remeh. Hal itu harus dipandang serius, holistis, dan komprehensif. Jangan gara-gara sampah, warga masyarakat yang tidak berdosa menjadi korban hingga tertimpa bencana atau terpapar penyakit. Bom waktu di TPA Bakung harus segera dijinakkan.

 

Bambang Pamungkas



Berita Terkait



Komentar