#tajuklampungpost#Stunting#kesehatan
Tajuk Lampung Post

Menjinakkan Bom Waktu Stunting

( kata)
Menjinakkan Bom Waktu Stunting
Ilustrasi Google Images

STUNTING adalah soal keterlambatan pertumbuhan akibat asupan gizi bayi dari lahir hingga 1.000 hari yang terganggu. Asupan gizi menjadi hal urgen dan tidak bisa dipandang sebelah mata. Asupan gizi kurang, pertumbuhan balita menjadi cebol dan pertumbuhan otak pun terhambat.

Stunting adalah hal pelik. Generasi bangsa menjadi tidak produktif dan dapat menyebabkan defisit bagi anggaran negara. Banyak dampak yang akan timbul kalau stunting ini tidak ditangani serius. Oleh karena itu, semua pihak harus bahu-membahu mengatasi persoalan stunting.

Tidak kalah penting peran pemerintah daerah menjadi ujung tombak dalam penanganan stunting di Indonesia. Pemda dapat memberikan edukasi penuh kepada masyarakatnya untuk mencegah terjadinya stunting. Hal ini tentu juga berlaku bagi seluruh pemerintah daerah di Provinsi Lampung.

Di Indonesia, hanya 140 dari 514 kabupaten memiliki program mengatasi stunting. Global Nutrition Report 2018 menyatakan Indonesia merupakan salah satu negara di dunia mengalami permasalahan gizi triple burden. Permasalahan tidak hanya mengenai defisiensi energi dan protein, seperti underweight, wasting, serta stunting, tetapi juga gizi lebih dan defisiensi mikronutrien.

Sejalan dengan itu, Riset Kesehatan Dasar 2018, menunjukkan prevalensi balita underweight (17,7%), stunting (30,8%), wasting (102%), dan obesitas (balita, 8%). Sementara prevalensi anemia pada ibu hamil (48,9%) dan prevalensi wanita usia subur yang kurang energi kronis (KEK) masih tinggi, yaitu 17,3%. Di sisi lain anemia pada kelompok remaja putri usia 15—24 tahun 18,4%.

Untuk Lampung, empat wilayah di Lampung menjadi fokus Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi dalam menurunkan kasus stunting pada 2020. Berdasar hasil riset kesehatan dasar (riskesdas) pada 2013, stunting di Lampung mencapai 42,6% dan pada 2018 menjadi 27,28%. Angka tersebut dapat dijadikan acuan bahwa tiap tahun stunting di Lampung menurun.

Dinas Kesehatan Lampung mencatat pada 2019 locus stunting paling marak terjadi di empat kabupaten, yaitu Lampung Tengah, Lampung Selatan, Lampung Timur, dan Tanggamus. Selain itu, kabupaten yang mendapatkan perhatian khusus sudah diintervensi Dinkes Provinsi.

Sejauh ini Dinkes memiliki Lampung Stunting Agency (LSA) yang merupakan forum aliansi strategis dan diisi berbagai pemangku kepentingan, seperti satuan kerja perangkat daerah, organisasi prosesi, organisasi masyarakat, fakultas kedokteran di Lampung, serta NGO.

Sejauh ini belum terdengar langkah dan program yang konkret signifikan dari LSA. Penanganan stunting masih dikerjakan oleh satu instansi saja, yaitu Dinas Kesehatan. Oleh karena itu, harus ada program nyata dari pemerintah daerah menangani stunting ini.

Masyarakat harus diberi penyuluhan pentingnya mencegah stunting sejak dini. Sebab, satu parameter mengukur ekonomi suatu daerah bagus atau tidak adalah ada atau tidaknya anak balita mengalami stunting. Makin tinggi angka stunting bisa dipastikan daerah itu miskin.

Kita tidak ingin stunting menjadi bom waktu yang akan meledak dan menghancurkan masa depan bangsa ini. Jangan biarkan masa depan bangsa tumbuh dengan asupan gizi yang buruk. Pemerintah mesti memastikan kesehatan yang baik dan gizi cukup pada 1.000 hari pertama kehidupan.

Bambang Pamungkas



Berita Terkait



Komentar