#tajukllampungpost#mahasiswa#muruah-kampus

Menjaga Muruah Kampus

( kata)
Menjaga Muruah Kampus
Ilustrasi Pixabay.com

MAHASISWA tentu amat beda dengan siswa. Perbedaan utamanya terletak dari sikap dan perilaku mahasiswa di kampus yang bernuansa akademis serta mengedepankan intelektualitas.

Pasal 13 dalam UU No 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi menegaskan hal itu. Mahasiswa sebagai bagian civitas academica diposisikan sebagai insan dewasa yang memiliki kesadaran sendiri mengembangkan potensi diri di perguruan tinggi untuk menjadi intelektual, ilmuwan, praktisi, dan/atau profesional. 

Eksistensi mahasiswa juga dilihat dari berbagai kegiatan organisasi di kampus. Berbagai unit kegiatan mahasiswa hadir untuk mengasah kemampuan mahasiswa agar menjadi insan akademis yang matang dan piawai bekerja sama, kreatif, bahkan dapat menjadi calon pemimpin masa depan.

Apa jadinya jika kegiatan organisasi intrakampus justru mencerminkan budaya barbar bernuansa kekerasan. Sebagai bagian dari masyarakat akademis, perilaku seperti ini tentu pantang bercokol di kampus dan harus dibuang jauh-jauh.

Karena itulah, kita mengapresiasi juga mendukung sikap Dekan Fakultas Hukum Universitas Lampung, Maroni yang telah membekukan Unit Kegiatan Mahasiswa Fakultas Hukum Sayangi Alam (Mahusa). Keputusan ini diambil dekanat terkait aksi pengeroyokan yang dilakukan oknum anggota UKM Mahusa.

Pembekuan organisasi kampus tersebut sangat tepat. Sikap tegas pimpinan kampus dapat mencegah potensi korban kekerasan berikutnya yang dapat mencoreng predikat kampus sebagai benteng peradaban. Muruah kampus sebagai kawah candradimuka para cendekia muda harus dijaga.

Kampus seharusnya menjadi pusat kegiatan akademik, bukan melestarikan budaya adu jotos seolah tanpa peradaban itu. Kampus Unila harus menerbitkan standar operasional prosedur monitoring dan evaluasi kegiatan kemahasiswaan. Tentunya ini dapat menjadi acuan setiap organisasi kampus untuk mengadakan kegiatan dan pembinaan pengurus.

Pembinaan pengurus organisasi kampus perlu terus dilakukan agar terbentuk insan aktivis kampus yang berkarakter sebagaimana harapan UU Pendidikan Tinggi. Dengan demikian, kejadian kekerasan seperti halnya pengeroyokan oleh penggiat kampus tidak lagi terulang.

Dekan FH menyatakan organisasi kampus Mahusa kurang berprestasi. Bahkan, penilaian negatif Mahusa dinyatakan BEM kampus Unila. Belum lama ini pula puluhan mahasiswa tergabung dalam Aliansi Lembaga Kemahasiswaan FH Unila menggelar aksi di depan gedung Dekanat FH Unila. Aksi ini guna meminta Dekanat kampus memberikan sanksi terhadap puluhan mahasiswa dari UKM Mahusa FH Unila yang bertindak arogan.

Demo itu merupakan jawaban para mahasiswa fakultas setempat atas pengeroyokan Gubernur BEM FH Unila bersama Wakil Gubernur oleh 20 orang lebih oknum mahasiswa dari UKM Mahusa. Boleh jadi para mahasiswa itu juga sudah jengah dengan sepak terjang oknum pengurus UKM Mahusa.

Kekerasan oleh oknum pengurus UKM Mahusa bukan hanya kasus pengeroyokan ini saja. Pada 13-15 September 2019 di Gunung Betung, Padangcermin, latihan dasar Mahusa dipusatkan, ada korban yang pingsan serta ditampar oleh panitia Mahusa. Korban bahkan takut untuk melanjutkan kuliah.

Jangan sampai aksi kekerasan mahasiswa kembali berulah. Masyarakat ingin mahasiswa dewasa bisa menjadi pelestari budaya akademik yang sudah dibuktikan aksinya saat reformasi.

Para mahasiswa di kampus mana pun di bumi Ruwa Jurai harus bersikap produktif. Terlebih  Indeks Pembangunan Pemuda (IPP) Lampung pada tahun 2015 dan 2026 menunjukkan angka yang jeblok. Bappenas merilis IPP Lampung berada di urutan ke-33 dari 34 provinsi dengan nilai  43,17 pada 2015. Sementara pada 2016 hanya naik satu peringkat menjadi urutan ke 32 dengan poin 46,00.

Kita berharap segenap mahasiswa di kampus mana pun di Lampung dapat menjadi harapan masyarakat bagi masa depan provinsi ini agar menjadi lebih baik. Harapan itu dapat dipupuk bahkan tumbuh subur lewat sepak terjang mahasiswa di kampus dengan prestasi dan kegiatan organisasi kampus yang positif. 

Bambang Pamungkas



Berita Terkait



Komentar