#Opini#Kolom#Mimbar

Menikam Syekh Jaber

( kata)
Menikam Syekh Jaber
Abdul Kohar, Dewan Redaksi Media Group.


Abdul Kohar, Dewan Redaksi Media Group.

NAMA lengkapnya Ali Saleh Muhammad Ali. Pendakwah santun yang lahir di Madinah, Arab Saudi, pada 3 Februari 1976, tersebut dikenal dengan panggilan Syekh Ali Jaber.

Namanya mendadak viral karena Syekh Ali Jaber menjadi korban penusukan seorang pemuda nekat bernama Alfin Andrian. Pendakwah yang sudah hafal 30 juz Alquran sejak kanak-kanak itu ditusuk pada bagian lengan kanan saat sedang berceramah di acara Kajian Minggu dan Wisuda Tahfi z Alquran di Masjid Falahuddin, Sukajawa, Tanjungkarang Barat, Bandar Lampung, pada Minggu, 13 September 2020.

Namun, yang membuat namanya kian melambung justru aksi simpatiknya terhadap pelaku penusukan. Dalam kondisi luka yang masih menganga, Syekh Jaber sempat menolong Alfin Andrian, sang penusuk, saat pemuda itu dihakimi jemaah yang hadir dalam acara.

“Saya minta jemaah berhenti menghakiminya, bahkan ada salah satu jemaah yang marah karena saya melarang,” ujar Syekh Ali Jaber sebagaimana dikutip dari Lampung Post.

Syekh Ali Jaber menyelamatkan pelaku dari amukan massa bukan tanpa alasan. Menurut dia, meski berbuat salah, pelaku juga manusia yang harus ditolong. “Akhlak terpuji ketika kita dapat ujian. Apalagi di hadapan musuh, kita diuji apakah lulus atau gagal,” katanya.

Syekh Jaber amat terganggu ketika orang yang menyakitinya itu ditarik dan diseret beramai-ramai laiknya karung. Maka, ustaz yang sejak 2012 mendapat kewarganegaraan Indonesia itu pun turun tangan membantunya.

Bukan kali ini saja Syekh Ali Jaber turun tangan dalam aksi menyelamatkan manusia. Ia merupakan salah satu pendakwah yang getol menyeru umat agar mengikuti anjuran pemerintah melalui Gugus Tugas Penanganan Covid-19 (kini bersalin rupa menjadi Satgas Penanganan Covid-19) untuk beribadah di rumah. Berulang kali dia menyebutkan bahwa korona berbahaya, dan menghindari bahaya ialah perintah agama.

Bukan sekadar mengajak umat untuk mencintai kitab suci, Syekh Jaber juga meminta kita mengasihi sesama dan berikhtiar sekuat tenaga untuk menyelamatkan kehidupan.

Namun, kondisi sebaliknya terjadi saat tafsir makna atas peristiwa penusukan itu hinggap ke pikiran para petualang politik dan kaum partisan. Di tangan mereka, penusukan atas pendakwah itu teramat sayang untuk dilewatkan sekadar peristiwa pidana, alih-alih menjadikannya gorengan isu benturan identitas yang mengasyikkan. Ia seperti ikan yang menemukan kolamnya.

Hanya berselang beberapa jam setelah penusukan, di dunia maya mulai berseliweran narasi palsu tentang siapa pelaku dan mengapa ia secara brutal nekat menusuk Syekh Jaber saat sedang berdakwah di atas mimbar. Produsen hoaks itu menyebarkan kabar bahwa sang pelaku pernah berfoto bersama dengan sejumlah pemuda lainnya sembari mengibarkan bendera merah berlogo palu arit lambang Partai Komunis Indonesia (PKI) di atas puncak gunung. Sebuah akun Facebook membagikan foto tersebut.

Hasil penelusuran tim cek fakta Medcom.id menunjukkan bahwa klaim foto pelaku penusukan Syekh Ali Jaber dengan bendera PKI itu salah, hoaks. Faktanya, foto tersebut kerap dijadikan bahan hoaks sejak 2015, misalnya, saat menarasikan putra bungsu Presiden Joko Widodo, Kaesang Pangarep, yang merupakan salah satu orang dalam foto tersebut.

Klaim foto pelaku penusukan Syekh Ali Jaber dengan bendera PKI itu masuk kategori hoaks jenis misleading content (konten menyesatkan). Harapannya, tercipta benturan horizontal di masyarakat buah dari sisasisa pembelahan akibat kontestasi politik lama.

Begitulah era post-truth yang lebih mengagungkan emosi ketimbang akal sehat. Kebohongan pun akan terus dibiakkan dan digemakan hingga akhirnya diimani sebagai kebenaran.

Di tangan petualang politik, peristiwa penusukan pendakwah bisa menjadi alat mudah untuk mendulang popularitas. Lihatlah bagaimana di sebuah stasiun televisi, seorang politikus mulai mengait-ngaitkan penikaman terhadap Syekh Ali Jaber dengan ‘kriminalisasi ulama’ dan ‘persekusi terhadap ulama’. Padahal, polisi masih menyelidiki adakah motif selain pengakuan tersangka bahwa ia terganggu dengan suara dakwah yang menurut dia ‘berisik’ karena menggunakan pelantang suara.

Sang politikus tidak peduli bahwa kecenderungan menggunakan caracara populisme dan artifisial dalam berpolitik itu merusak demokrasi. Sosiolog dan pengamat demokrasi Inggris, Colin Crouch, mengistilahkan kecenderungan itu sebagai post-democracy. Dalam post-democracy pertarungan ide tidak diperlukan, yang terpenting ialah bagaimana membangun pencitraan dan memenangi emosi konstituen.

Petualang politik juga memanfaatkan kecenderungan people ignorance, yakni antusiasme berpolitik masyarakat yang menurun. Masyarakat pada umumnya tidak mau memahami duduk persoalan, hanya terpaku pada fenomena di permukaan. Maka, celah ini mereka manfaatkan dengan memainkan frasa, misalnya, ‘kriminalisasi ulama’ dan ‘memersekusi ulama’.

Adapun produsen hoaks memanfaatkan rendahnya literasi media untuk memainkan emosi publik melalui isu-isu identitas.

Padahal, sehari pascapenyerangan, Syekh Ali Jaber secara terang benderang berseru agar kita percayakan kasus itu kepada penegak hukum.

“Jangan dikait-kaitkan dengan isu politik. Umat jangan terprovokasi,” tegasnya kepada Lampung Post. Saatnya publik lebih cerdas menentukan, percaya kepada ajakan SyekhJaber atau tunduk pada tipu daya para produsen informasi palsu dan petualang politik.

Abdul Gafur







Berita Terkait



Komentar