#opini#beritamesuji

Mengusir dan Terusir

( kata)
Mengusir dan Terusir
Ilustrasi. (Foto: Dok/Pixabay)

SINDANG Muara Jaya. Desa nelayan di muara kanal Pantai Timur Lampung, di sisi paling luar Kabupaten Mesuji, itu menyimpan emosi. Dalam satu kunjungan supervisi penelitian, saya berinteraksi dekat dengan masyarakat, pekan lalu.

Ada sejuta cerita tergelar dari berbagai kalangan, ada keluhan sepanjang hayat tentang air yang tak layak pakai, ada kisah pilu tentang pengaruh negatif yang sulit dibendung, ada masalah ekonomi yang mendominasi. Namun, ada juga lakon-lakon indah di kampung padat dan cenderung kumuh, yang dihuni para peburu ikan liar di sungai yang mengalir deras, bagai air laut yang mereka geluti setiap hari.

Dari sekian banyak kisah masalah, kami hadir untuk sedikit menciptakan kanal agar tersalur dan aspirasi mereka terdengar. Dari camat, kepala desa, BPD, para pemuda, dan lainnya, ada saja cerita lucu tapi berhikmah terselip yang kemudian saya tarik garis maknanya dalam tulisan ini.

Membangun Negeri

Camat Mesuji Timur dalam pengantarnya membuka tabir potensi desa ini, juga soal kendala-kendala yang ada untuk mendapat solusi. Tak kurang, ia juga bercerita tentang masa lalu, tentang perjalanan hidup pribadinya yang pindah ke Mesuji melalui program transmigrasi lokal tahun 1990-an. Dengan nada polos, Camat yang mantan guru SD itu mengatakan bahwa beliau adalah mantan perambah hutan di Tanggamus yang pernah diturunkan paksa pada tahun 1990, kemudian ditranslokkan ke Mesuji.

Mendengar itu, kenangan lama di benak saya mulai muncul, yakni saat saya menjadi tim penurunan perambah hutan pada waktu itu. Cara-cara militeristik dilakukan, karena saat itu melibatkan kesatuan Angkatan Darat yang bertugas di teritorial paling bawah. Letusan senjata ke atas sering dilakukan untuk memaksa perambah turun gunung. Bahkan, juga disertai operasi “tidak sedap”, yaitu merampas hasil panen perambah untuk kepentingan oknum.

Namun, operasi represif itu diberi ruang solusi. Para “korban” operasi penurunan perambah yang berbalut kesedihan dan air mata diberi opsi. Mereka ditawari pindah ke suatu tanah harapan sebagai transmigran lokal, yakni ke Mesuji, pinggir Lampung, yang berbatasan dengan Sumatera Selatan. Duka mereka dibalut terus dengan doa. Dengan fasilitas yang disediakan pemerintah, berupa rumah sederhana di tanah pekarangan dan 2 hektare lahan pertanian, mereka dibimbing menjadi petani mandiri.

Dari sekian banyak transmigran, memang tidak semua bernasib baik. Ada yang tidak betah sehingga menjual rumah dan lahannya, lalu pulang ke negeri sengketa lama, tetapi banyak yang kemudian makmur dengan profesi taninya. Dan, tak sedikit yang dulu berurai air mata itu kemudian menapakkan jejak cemerlang dari “tanah baru” ini, salah satunya orang yang saat ini menjadi Camat Rawajitu Timur, Kabupaten Mesuji, yang saya jumpai itu.

Selesai berpidato, penulis langsung menjulurkan tangan dengan meminta maaf pada beliau dan cerita masa lalu pun mengalir. Konsoliasi perasaan kami berdua timbul dan senyum lebar bibir mengurai, cerita nostalgik pun menjadi perbincangan. Semua terasa indah dan menjadi sangat emosional; haru biru perasaan itu menyatu dalam jabatan tangan.

Peristiwa itu menunjukkan betapa Tuhan telah menciptakan rasa kemanusiaan begitu lekat di bumi Indonesia ini. Rasa persatuan untuk membangun negeri mampu menenggelamkan kenangan pahit pribadi yang kemudian bersatu pada cita-cita bangsa.

Mozaik Keberagaman

Dalam konteks situasi aktual saat ini, proses migrasi individual maupun komunal dari satu tempat ke tempat lain, dari golongan satu ke golongan lain, adalah hal biasa. Demikian juga migrasi ideologis yang bukanlah sesuatu yang dinafikan atau bahkan diharamkan, karena tidak ada sesuatu yang abadi di dunia ini, kecuali perubahan.

Peringatan Tuhan pada umat-Nya, “Di dunia ini, janganlah kamu terlalu membenci pada sesuatu, karena pada waktunya akan kaucintai. Sebaliknya, jangan kau mencintai sesuatu tanpa batas, karena pada waktunya akan kamu benci,” adalah kalimat yang paling bijak untuk diingat sebagai penanda ketidakabadian di muka bumi ini.

Perpindahan dukung-mendukung yang terjadi di masa sekarang adalah sunatullah dari perjalanan skenario ketuhanan dalam proses menjalani perikehidupan. Menyinyiri perubahan di muka bumi ini adalah pekerjaan sia-sia yang selalu dilakukan manusia. Ada waktunya garis lurus itu diperlukan, tetapi bukan berarti garis yang melengkung dan mungkin berputar-putar itu tidak indah. Tinggal dari sudut mana kita memandangnya, kemudian memahaminya sebagai peristiwa.

Kita tidak mengira, semula satu daerah yang tertutup, terisolasi, dan terkesan angker sekarang berubah drastis, menjadi tanah harapan bagi semua orang. Atau sebaliknya, ada satu daerah yang semula menjadi tanah harapan, gemah ripah loh jinawi, kemudian ditinggalkan menjadi daerah yang “mati angin”.

Demikian juga perilaku manusia. Semula ada tokoh yang dipuja bak dewata agung dari kayangan, tetapi kemudian tercampakkan karena sesuatu hal. Atau sebaliknya, semula tidak dikenal siapa dia, kemudian karena sesuatu hal muncul bertriwikrama; menjadi begitu terkenal luar biasa, dipuja bak raja dari negeri antah berantah.

Oleh sebab itu, jangalah kita berseteru manakala kita tidak berpadu. Namun, janganlah juga kita terlalu bersuka saat kita berikrar bersama. Sebab, ketidakabadian itu milik dunia dan isinya, sedangkan yang paling dekat dengan kita  bukanlah saudara sanak famili keluarga, melainkan kematian.

Mari kita hiasi hidup ini dengan mozaik keberagaman dan mari kita sudahi babak kehidupan ini dengan perdamaian. Berdamai dengan sekitar, berdamai dengan sesama, berdamai dengan diri sendiri. Walaupun yang terakhir tadi sangat berat, jika kita berhasil, kita akan menjadi orang yang berjiwa merdeka.

Sudjarwo/ Profesor Ilmu-Ilmu Sosial di FKIP Unila

Berita Terkait

Komentar