#mengolah#lahan#kearifanlokal

Mengolah Lahan Pertanian dengan Kearifan Lokal

( kata)
Mengolah Lahan Pertanian dengan Kearifan Lokal
Foto : Dok Lampost.co


Kotabumi (Lampost.co) -- Dalam pertanian konvensional petani memaksa tanaman tumbuh dan menghasilkan hasil panen yang melimpah. Sedangkan kearifan lokal bidang pertanian  yang telah dipraktekkan nenek moyang kita adalah selaras dengan alam.

Kepala Seksi (Kasi) Metode dan Informasi Penyuluh Pertanian, Dinas Pertanian (Distan), Kabupaten Lampung Utara, I Made Wirata, di ruang kerjanya, Senin, 17 Februari 2020 mengatakan kearifan lokal mengajarkan  bahwa tanah membutuhkan waktu untuk memulihkan kembali unsur hara  dengan bahan-bahan organik sebelum proses penanaman kembali dilakukan.

Untuk mendapatkan hasil panen yang melimpah harus dilakukan secara selaras dengan alam dan inilah  pertanian berkelanjutan yang berpijak pada kearifan lokal dalam pertanian yang sebelumnya berkembang sebagai sistem kepercayaan yang berdampak pada konservasi lingkungan dan mengakar dengan penghormatan kepada sesuatu yang diyakini memiliki kekuatan untuk menjaga alam.

"Kearifan lokal dalam pertanian selain membentuk sistem religi,  juga membangun pengetahuan lokal yang dapat diambil pelajarannya secara filosofis dan pragmatis," ujarnya.

Dengan itulah harmonisasi rantai sosial, ekonomi, dan lingkungan terjaga. Namun, eksistensi kearifan lokal dalam pertanian ini seakan termarginalkan dan terkesan jauh dari jamahan teknologi digital selama petani beroroentasi pada produktifitas hasil panen tapi tidak mengindahkan kelestarian tanah yang di olah.

"Kearifan lokal dan  teknologi digital dapat saling mengakomodasi. Dengan itu,  ide serta inovasi untuk mewujudkan pertanian berkelanjutan dapat tersosialisasi secara optimal ke petani" kata dia.

Baginya, sumber daya alam yang melimpah tidak akan ada artinya apabila tidak dikelola dengan pengetahuan. Pada hakekatnya pemerintah sudah memberi peluang bagi petani dan tergantung petani bagaimana dapat menangkap peluang itu dengan merubah paradigma berfikir demi kepentingan petani itu sendiri terutama dalam memenuhi kehidupan dan peningkatan, kesejahteraan.

"Teknologi pertanian yang ramah lingkungan serta sesuai dengan teknologi tepat guna akan memberikan keuntungan ekonomi bagi masyarakat dan itu  dikembangkan sebagai respon efektifitas untuk peningkatan produksi atas dasar permintaan pasar," tuturnya.

Setiaji Bintang Pamungkas







Berita Terkait



Komentar