#ekbis#teknologi#beritalamteng

Menggerakkan Ekonomi Kampung Lewat Pemberdayaan Perempuan dan Ilmu Teknologi

( kata)
Menggerakkan Ekonomi Kampung Lewat Pemberdayaan Perempuan dan Ilmu Teknologi
Pelatihan pembuatan kerajinan piring lidi di Kampung Kuto Winangun. Foto: Dok

Gunung Sugih (Lampost.co): Berawal dari hobi membuat kerajinan tangan, siapa sangka jika saat ini Ana Nurjannah mampu menggerakkan ekonomi kaum wanita di Kampung Kuto Winangun, Kecamatan Sendangagung, Kabupaten Lampung Tengah.

Kampung Kuto Winangun saat ini menjadi sentra pembuatan piring lidi yang hasilnya mampu menopang kehidupan dan ekonomi keluarga para anggota kelompok wanita setempat.

Ana yang juga pembina kelompok piring lidi mengungkapkan piring lidi saat ini menjadi salah satu ikon di Kecamatan Sendangagung melalui program pemberdayaan perempuan. Piring lidi asal Kampung Kuto Winangun menggunakan tiga jenis bahan baku yakni lidi kelapa, lidi aren, dan lidi sawit.

Ana menceritakan awal sebelum kelompok kerajinan piring lidi terbentuk, Ia melihat banyak kaum ibu rumah tangga di sekitar tempat tinggalnya tidak memiliki penghasilan dan sebagian besar menganggur. Kemudian ia berinisiatif memberikan pelatihan kepada para ibu rumah tangga setempat tentang pembuatan piring lidi.

Ana mengaku sebelum membuat piring lidi, ibu rumah tangga setempat hanya memanfaatkan lidi untuk dijadikan sapu yang nilai jualnya rendah. Karena membuat sapu lidi nilai ekonomi rendah dan peminatnya terbatas, seiring berjalanya waktu, Ana yang juga sebagai kaur desa pun mengusulkan agar membuat pelatihan pembuatan piring lidi berskala lebih besar melalui anggaran dana desa (DD). Usulannya kemudian disetujui oleh kepala desa setempat.

"Awalnya belajar dari internet cara membuat piring lidi. Memang dasarnya saya suka dengan kerajinan. Kemudian saya ajarkan kepada ibu-ibu. Tapi kan dari yang saya ajarkan itu stagnan, ada yang bisa, ada yang tidak. Kemudian saya usulkan untuk membuat pelatihan di kantor kelurahan dan hasilnya cukup bagus," kata Ana, kepada Lampung Post, baru-baru ini.

Selain membuat piring, tambah Ana, ibu-ibu anggota kelompoknya juga membuat kerajinan sesuai dengan permintaan konsumen. Seperti keranjang buah, nampan, dengan berbagai motif dan ukuran.

"Paling banyak yang dipakai lidi kelapa untuk membuat piring lidi, untuk lidi sawit dan aren biasanya dipakai untuk membuat piring besar seperti nampan atau keranjang buah," ujarnya.

Sementara itu, Kepala Kampung Kuto Winangun, Ruslan, mengapresiasi semangat kaum perempuan di kampungnya. Dia pun mendukung salah satu wujud peningkatan sumberdaya manusia lewat kerajinan piring lidi itu.

Dia mengatakan Pemerintah Kampung Kuto Winangun melaksanakan kegiatan pelatihan pembuatan piring lidi sebagai pemberdayaan masyarakat yang didanai oleh dana desa (DD) yang tercantum dalam APBK Kampung Tahun Anggaran 2019.

“Di tahun 2020 ini kegiatan tersebut sudah membuahkan hasil yang meningkatkan penghasilan masyarakat, khususnya sebagian besar perempuan di bidang ekonomi kreatif kampung dengan penjualan dan penyewaan hasil kerajinan piring lidi tersebut,” kata Ruslan.

Pelatihan pembuatan kerajinan piring lidi di Kampung Kuto Winangun. Foto: Dok

Komunikasi Antaranggota Lewat Grup Media Sosial

Ana Nurjannah mengatakan saat ini kelompoknya sudah beranggotakan 25 ibu rumah tangga. Jumlah anggota itu terbagi menjadi 5 kelompok dengan setiap kelompok ada ditiap dusun sesuai jumlah dusun di Kampung Kuto Winangun yaitu 5 dusun.

“Jadi setiap ada kegiatan kelompok atau pelatihan, lewat grup WhatsApp komunikasi kita sesama anggota. Jadi lebih praktis dan cepat menyebar informasinya,” kata dia.

Lewat grup media sosial itu pula, kata Ana, kelompok kerajinan piring lidi Kampung Kutowinangun dapat berkomunikasi intens sesama anggota, mulai dari ketersediaan bahan baku lidi, produksi, pengumpulan hasil kerajinan piring lidi dari anggota ke kelompok, hingga penjualan.

Menjual Kerajinan Memanfaatkan Media Sosial

Ana menjelaskan piring lidi yang saat ini diproduksi oleh kelompoknya kini telah dipasarkan hingga keluar daerah Lampung Tengah. Kelompoknya menjual hasil produksi piring lidi dengan memanfaatkan media sosial. Hal tersebut didukung adanya kemajuan ilmu teknologi dan informasi (TI).

"Kaum ibu-ibu disini, khususnya anggota kelompok semuanya sudah melek teknologi. Alhamdulillah sekarang dengan piring lidi yang kini jadi ikon Kuto Winangun, akan terus kita kembangkan karena hasilnya bisa menambah nilai ekonomi keluarga," ujarnya.

Dia mengatakan setiap anggota kelompok juga harus berperan mempromosikan atau memberikan informasi tentang kerajinan piring lidi pada akun media sosial masing-masing, seperti Facebook, Instagram, maupun WhatsApp. Dengan begitu, menurutnya, maka peluang penjualan hasil kerajinan akan terbuka luas.

“Jadi misal ada salah satu anggota yang dapat orderan piring lidi dalam jumlah sekian, maka tiap anggota menyetorkan hasil produksinya masing-masing untuk dikumpulkan dan kemudian dijual oleh anggota penerima order,” kata dia.

Tidak hanya melayani penjualan lewat daring atau online saja, untuk menghidupkan kerajinan kampung setempat, setiap pesta hajatan warga diwajibkan untuk memakai piring lidi, baik dengan cara menyewa atau membeli.

Ana mengatakan harga sewa per lusinnya Rp6 ribu, termasuk ketika piring lidi hilang maka diwajibkan untuk mengganti dengan membayar harga sejumlah piring lidi yang. Kelompoknya menjual kerajinan piring lidi Rp60 ribu per lusin.

Muharram Chandra Lugina



Berita Terkait



Komentar