#iran

Mengenal Sosok Raisi, Juaranya Orang Miskin Jadi Presiden Terpilih Iran

( kata)
Mengenal Sosok Raisi, Juaranya Orang Miskin Jadi Presiden Terpilih Iran
Presiden Iran Hassan Rouhani (kanan) mengucapkan selamat kepada Presiden terpilih Ebrahim Raisi karena memenangkan pemilihan umum. AFP/Iranian Presidency.


Jakarta (Lampost.co) -- Mengenakan sorban hitam dan mantel ulama, ultrakonservatif Iran Ebrahim Raisi menampilkan dirinya sebagai sosok yang sederhana dan saleh, serta juaranya orang miskin dalam memerangi korupsi. Pria berusia 60 tahun itu dinobatkan sebagai pemenang pemilihan presiden republik Islam, Sabtu, 19 Juni 2021.

Ia akan menggantikan Hassan Rouhani yang moderat pada Agustus. Kritikus menuduh pemilihan itu condong mendukungnya karena saingan kuatnya didiskualifikasi. Namun bagi pendukung setianya, dia harapan terbaik Iran untuk melawan Barat dan membawa bantuan dari krisis ekonomi yang mendalam.

Raisi tidak terkenal karena karismanya yang besar, tetapi, sebagai kepala pengadilan. Ia mendorong kampanye populer untuk menuntut pejabat yang korup.

Dalam kampanye pemilihan dia bersumpah untuk terus memerangi korupsi, membangun empat juta rumah baru untuk keluarga berpenghasilan rendah, dan membangun pemerintah rakyat untuk Iran yang kuat. Banyak media Iran melihatnya sebagai calon penerus pemimpin tertinggi, Ayatollah Ali Khamenei, yang akan berusia 82 tahun bulan depan.

Raisi, yang sorban hitamnya menandakan keturunan langsung dari Nabi Muhammad, memegang gelar hujjatul Islam, satu peringkat di bawah ayatollah dalam hierarki ulama Syiah. Seperti ultrakonservatif lain, dia dengan keras mengkritik kubu Rouhani setelah kesepakatan nuklir 2015 diabaikan presiden AS saat itu Donald Trump yang menerapkan kembali sanksi hukuman.

Namun, seperti tokoh politik Iran di seluruh spektrum, Raisi mendukung upaya untuk menghidupkan kembali kesepakatan untuk membawa bantuan dari krisis ekonomi yang menyakitkan Iran.

Murid Khamenei

Lahir pada 1960 di kota suci Mashhad di timur laut Iran, Raisi naik ke jabatan tinggi sebagai seorang pemuda. Berusia 20 tahun, setelah Revolusi Islam 1979 yang menggulingkan monarki yang didukung AS, Raisi diangkat menjadi jaksa agung Karaj, daerah yang berdekatan dengan Teheran.

Bagi kelompok oposisi dan hak asasi yang diasingkan, namanya tak terhapuskan terkait dengan eksekusi massal kaum Marxis dan kaum kiri lain pada 1988. Ketika itu, ia menjadi wakil jaksa Pengadilan Revolusi di Teheran.

Ditanya pada 2018 dan tahun lalu pula tentang eksekusi tersebut, Raisi membantah berperan. Akan tetapi dia memuji perintah yang dia katakan diturunkan oleh pendiri republik Islam Ayatollah Ruhollah Khomeini untuk melanjutkan pembersihan itu.

Pada 2019, AS menempatkan Raisi dan lainnya dalam daftar sanksi dengan alasan eksekusi dan dugaan pelanggaran hak asasi lain. Tuduhan tersebut dibantah Teheran dan dianggap langkah simbolis semata.

Raisi memiliki pengalaman peradilan selama beberapa dekade, menjabat sebagai jaksa agung Teheran dari 1989 hingga 1994, wakil kepala Otoritas Kehakiman selama satu dekade dari 2004, dan kemudian jaksa agung nasional pada 2014.

Dia belajar teologi dan yurisprudensi Islam di bawah Khamenei. Menurut biografi resminya, ia telah mengajar di suatu seminari Syiah di Masyhad sejak 2018.

Pada 2016, Khamenei menugaskan Raisi untuk memimpin suatu yayasan amal yang mengelola tempat suci Imam Reza di Mashhad dan mengendalikan portofolio aset industri dan properti yang besar. Tiga tahun kemudian, Khamenei mengangkatnya sebagai kepala Otoritas Kehakiman. Raisi juga merupakan anggota majelis ahli yang memilih pemimpin tertinggi.

Ia menikah dengan Jamileh Alamolhoda, seorang dosen ilmu pendidikan di Universitas Shahid-Beheshti Teheran. Mereka memiliki dua anak perempuan.

Raisi ialah menantu Ahmad Alamolhoda, imam salat Jumat dan wakil pemimpin tertinggi Masyhad.

Konservatif antikorupsi

Kemenangannya itu datang setelah dia kalah dari Rouhani pada 2017. Kali ini, lima capres ultrakonservatif dan dua reformis disetujui untuk mencalonkan diri setelah banyak kandidat lain mendaftar. Tokoh terkemuka didiskualifikasi.

Raisi mengumpulkan dukungan dari konservatif tradisional yaitu yang dekat dengan ulama Syiah, kelas pedagang berpengaruh, serta ultrakonservatif yang bersatu dalam sikap anti-Barat mereka. Dia juga berusaha mengulurkan tangan melampaui basis tradisionalnya dengan berjanji untuk membela kebebasan berekspresi dan hak-hak dasar semua warga negara Iran.

Raisi juga telah bersumpah untuk memberantas sarang-sarang korupsi. Tema itu telah ia gaungkan dalam peran yudisialnya melalui serentetan persidangan korupsi pejabat senior negara yang dipublikasikan secara luas.

Bahkan para hakim pun tidak luput dari dorongan antikorupsinya yang banyak disuarakan. Beberapa telah dijatuhi hukuman selama setahun terakhir.

Raisi juga telah mengambil garis keras terhadap kelompok-kelompok protes. Ketika Gerakan Hijau pada 2009 berunjuk rasa melawan presiden populis Mahmoud Ahmadinejad memenangkan masa jabatan kedua yang disengketakan, dia bertindak tanpa kompromi. Baca juga: Ulama Garis Keras Ebrahim Raisi Menangi Pilpres Iran.

"Kepada mereka yang berbicara tentang kasih sayang dan pengampunan Islam, kami menjawab, 'Kami akan terus menghadapi para perusuh sampai akhir dan kami akan mencabut hasutan ini'," katanya.

Winarko







Berita Terkait



Komentar