#peternakan#beritalampura#ekbis

Mengais Rezeki dari Kotoran Kambing di Desa Kemalo Abung

( kata)
Mengais Rezeki dari Kotoran Kambing di Desa Kemalo Abung
Peternak mengumpulkan pupuk kandang hasil kotoran ternak kambing. Lampost.co/Yudhi Hardiyanto

Kotabumi (Lampost.co): Beternak kambing menghasilkan limbah berupa kotoran atau pupuk kandang. Namun, kotoran kambing dapat dimanfaatkan untuk dijual dan menjanjikan keuntungan lebih. Hasil sampingan beternak kambing tersebut selain dimanfaatkan sebagai pupuk kandang untuk mendongrak produktivitas komoditas hasil pertanian.

"Peternak kambing menghitung keuntungan dari nilai lebih penjualan hewan ternak yang dikembangkan. Limbah kotoran kambing itu hasil sampingan. Selain dimanfaatkan untuk pupuk di areal pertanian kita, bila jumlahnya berlebih peternak baru akan menjualnya," ujar Arip, pengepul pupuk kandang warga Desa Kemalo Abung, Kecamatan Abung Selatan, dikediamannya, Jumat, 14 Agustus 2020.

Dia mengatakan kotoran kambing dijual per karung Rp8 ribu dengan ongkos upah pengumpulan dan karung ditanggung pembeli atau pengepul. Sementara jika pengumpulan kotoran kambing dilakukan peternak maka dihargai Rp10 ribu per karung.

"Khusus untuk biaya angkut ditanggung pihak pengepul," kata dia.

Pada musim tanam ini, dia mengaku menargetkan mendapatkan kotoran kambing dari bongkaran kandang ternak di seputar kandang didesanya berkisar 600--700 karung untuk memenuhi pesanan pemupukan areal jagung seluas 10 hektare (ha). 

"Pengambilan kotoran kambing itu tidak dapat dilakukan setiap saat. Rata-rata, dengan jumlah berkisar 6--7 ekor kambing dewasa dalam satu kandang dihasilkan antara 10--15 karung setiap enam bulan sekali," kata dia.

Untuk penjualan limbah kotoran kambing itu, dia setorkan ke petani yang membutuhkan pupuk kandang untuk memupuk jagung, padi maupun singkong atau pengusaha pupuk organik dengan harga jual Rp13 ribu per karung. 

"Pemesanan pupuk organik akan meningkat menjelang musim tanam. Sedangkan, jumlah limbah kotoran kambing yang mampu dikumpulkan untuk memenuhi pesanan terbatas. Sebab, peternak rata-rata juga berprofesi sebagai petani yang membutuhkan pupuk itu bagi tanaman mereka," kata dia.

Adi Sunaryo



Berita Terkait



Komentar