#lampungselatan

Mengais Rejeki Dari Rumput Laut Liar di Pantai Suak Lamsel 

( kata)
Mengais Rejeki Dari Rumput Laut Liar di Pantai Suak Lamsel 
Sahad (68), pencari rumput laut liar sibuk membolak-balikan rumput laut liar di tepi pantai Desa Suak, Kecamatan Sidomulyo, Lampung Selatan, Jumat, 3 Juni 2022. (Lampost.co/Perdhana Wibysono)


Kalianda (lampost.co) - - Terik sang surya siang itu seakan tidak dirasakan lagi oleh pria paruh baya bertelanjang dada, yang hanya mengenakan celana pendek itu. Dia sibuk membolak-balikan rumput laut liar di tepi pantai Desa Suak, Kecamatan Sidomulyo, Lampung Selatan. 


Rumput laut liar yang didapatnya dari menyisir pantai hingga ke tengah hanya menggunakan rakit yang terbuat dari bambu dimodifikasi menjadi bak untuk menaruh hasil buruannya. 

Pencairan rumput laut liar yang dilakukan Sahad (68) warga Dusun Labuhan, Desa Suak tidak hanya di pinggiran pantai. Bahkan, harus ke tengah menyelam tanpa alat bantu pernapasan kayaknya penyelam. 

Dalam sehari, buruh serabutan itu bisa menghasilkan paling banyak belasan kilogram rumput laut liar yang didapatnya dari perairan laut Desa Suak. 

"Kalau sehari dapat belasan kilogram rumput laut liar dalam kondisi basah," kata dia, Jumat, 3 Juni 2022. 

Sahad menyatakan rumput laut liar yang berwarna kecokelatan dalam kondisi basah, dijemurnya di pinggiran, beralaskan putihnya pasir pantai, sambil sesekali dibolak-balik, agar cepat mengering. 

"Rumput laut ini, sudah kering baru laku dijual," ujarnya. 

Harga rumput laut liar kering mencapai Rp1.600/kg. Setiap dua sampai dengan tiga hari pengepul datang membeli hasil buruannya. 

"Ada pengepul yang datang, kadang dua sampai tiga hari sekali," katanya. 

Sahad menuturkan hasil pencarian rumput laut liar sangat bergantung dengan cuaca. Jika kurang bersahabat, hasil sedikit ditambah lagi apabila turun hujan. 

"Kalau ombak besar hasil sedikit, sedangkan musim hujan, rumput laut tidak bisa di jemur," ujar dia. 

Pria yang hanya hidup bersama dengan istrinya itu mengaku tidak mengetahui manfaat dari rumput laut liar, sehingga memiliki nilai ekonomi yang bisa menghidupi keluarganya. 

"Sudah belasan tahun nyari rumput laut, tapi tidak tahu digunakan untuk apa," katanya. 

Para pencari rumput laut liar di Desa Suak, semakin hari kesulitan mendapatkan tempat untuk menjemur. Sedangkan wilayah pantai kebanyakan dikomersialkan. 

"Kesulitan mereka tempat untuk menjemur, karena kebanyakan pantai sudah di komersil kan," ujar Dulah (51) salah seorang tokoh masyarakat setempat. 

Menurutnya, untuk keberlangsungan usaha masyarakat, budi daya rumput laut liar tersebut pernah dicoba, namun tidak cocok di perairan Desa Suak, karena gelombang ombak sering tidak menentu. 

"Dulu pernah dicoba budidaya, tapi rusak akibat gelombang tinggi," ujarnya. 

Dulah menambahkan banyak potensi yang bisa dihasilkan masyarakat dari hasil laut, seperti menangkap ikan dan mencari rumput laut, namun butuh dukungan dari pemerintah, untuk memajukan usaha mereka. 

"Banyak bisa dihasilkan dari laut, tapi butuh dukungan," ujar dia.

 

Wandi Barboy








Berita Terkait



Komentar