#ESDM#pltsitera

Menengok Multifungsi PLTS Terbesar di Lingkungan Kampus

( kata)
Menengok Multifungsi PLTS Terbesar di Lingkungan Kampus
Hamparan 3.036 modul surya yang tersusun rapi di dalam lingkungan Itera. Dok Itera


Kalianda (Lampost.co) -- Sinar mentari pagi menyorot tajam ke Desa Way Huwi, Kecamatan Jatiagung, Lampung Selatan, Senin, 26 Juli 2021. Gumpalan awan kelabu yang sebelumnya menyelimuti langit mulai bergeser sehingga menambah sengatan panasnya.

Cerahnya cuaca itu menjadi pertanda baik bagi Institut Teknologi Sumatera (Itera). Sebab, kampus tersebut kini mengandalkan matahari untuk memenuhi kebutuhan listrik melalui pembangkit listrik tenaga surya (PLTS).

"Cuaca menentukan energi listrik yang bisa digunakan," kata Operation and Maintenance PLTS Itera, Noviardi Sudrajat.

Berkapasitas 1 megawatt peak (MWp), PLTS Itera terhampar di lahan seluas satu hektare. Dengan kemampuan itu, pembangkit listrik yang bersumber dari energi baru terbarukan (EBT) tersebut menjadi yang terbesar di Indonesia yang berada di lingkungan pendidikan. 

"PLTS Itera menjadi yang terbesar untuk di lingkungan kampus. Institut Teknologi Malang juga saat ini sedang membangun PLTS, tetapi kapasitasnya setengah dari kita atau 500 KWp," ujar dia.

Untuk menghasilkan daya listrik, PLTS secara otomatis menyerap energi matahari melalui 3.036 modul surya yang tersusun rapi dalam kawasan kampus sejak pukul 06.00 hingga 18.00 WIB. Panel surya itu menghasilkan tegangan DC dan dikonversi melalui delapan inverter menjadi arus listrik (AC). Tegangan tersebut yang akhirnya dikonsumsi Itera untuk laboratorium teknik 1, 2, dan 3, serta gedung kuliah umum. 

"Kalau cuacanya panas terik, tegangan listrik yang dihasilkan bisa mencapai 4 MWh (megawatt hour). Namun, kalau mendung atau hujan, akan kurang dari itu," ujarnya.

Meskipun demikian, listrik yang diproduksi itu turut menjadikan Itera mandiri energi. Bahkan, dengan sistem on grid, PLTS Itera dapat memberikan kelebihan produksinya kepada PLN. "Sistemnya langsung digunakan untuk beban di Itera dan saat ada kelebihan akan diekspor ke PLN," ujar dia.

Kepala Unit Pelaksana Teknis Laboratorium dan PLTS Itera, Ali Muhtar, mengatakan sejak beroperasi pada Januari 2021, PLTS Itera mengekspor daya hingga 414.496 kWh ke PLN. 

Dengan memenuhi energinya secara mandiri, Itera juga turut mengurangi beban subsidi listrik yang diberikan pemerintah. Apalagi, perguruan tinggi termasuk mendapatkan stimulus tarif pada golongan sosial 3 yang nilainya cukup besar. 

Namun, dengan kemandirian, subsidi tersebut bisa dialihkan pemerintah kepada masyarakat. Terlebih, di masa pandemi saat ini pemerintah memberikan subsidi listrik kepada jutaan pelanggan PLN, mulai dari golongan rumah tangga daya 450 VA dan 900 VA, hingga bisnis dan industri kecil.

"Kami bisa mengembalikan subsidi yang seharusnya kami terima agar dimanfaatkan untuk subsidi yang lain. Cara ini bisa menjadi upaya suatu instansi membantu keuangan negara," kata Ali.

Secara lebih luas, penggunaan PLTS 1MWp juga menciptakan lingkungan yang bersih. Dengan daya listrik yang bisa mencapai 4MWh per hari, PLTS dapat menyumbang penurunan emisi karbon hingga 665 ton CO2 dan menghemat penggunaan 267 ton batu bara senilai 30.798,45 dolar AS. Nilai itu dengan estimasi harga batu bara acuan dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) periode Juli 2021 sebesar 115,35 dolar AS per ton.

Pemanfaatan EBT selayaknya dapat lebih dioptimalkan buat meningkatkan ketahanan energi nasional. Terlebih, ketersediaan energi surya di Lampung cukup besar, yaitu 700 watt per meter persegi. Sebab, letak geografis Lampung yang tidak terlalu jauh dari garis Khatulistiwa.

Pemanfaatan PLTS di Itera didukung dengan hamparan yang luas, tidak terdapat pohon tinggi, dan gedung tinggi. Kondisi itu memudahkan aksesibilitasnya karena tidak ada objek yang menghalangi sinar matahari ke modul surya. 

Untuk memenuhi kebutuhannya, PLTS tersebut mengedepankan konsep kelestarian lingkungan dan proses perbaikan yang berkelanjutan. Untuk itu, Itera membangunnya tanpa baterai. "Sistem itu menekan pembangunan PLTS yang sangat besar dalam pemakaian komponen baterai," ujarnya.

Ditambah lagi dengan keberadaannya di lingkungan kampus, PLTS dapat dimanfaatkan mahasiswa untuk memverifikasi teori ke dalam praktik. Dengan demikian, kampus dapat mendukung perkembangan teknologi sel surya secara berkelanjutan.

"Selain sebagai pembangkit listrik, PLTS itu juga sebagai laboratorium sehingga akan membantu menciptakan inovasi-inovasi di bidang energi terbarukan," ujar dua.

Mahasiswa Itera menjalani perkuliahan di PLTS untuk memverifikasi teori ke dalam praktik. Dok Itera

Rektor Itera, Prof Mitra Djamal, mengatakan laboratorium PLTS terbesar di Indonesia itu akan menjadi pusat energi terbarukan yang dapat diakses sivitas akademika dan masyarakat Sumatra serta Indonesia. Dengan demikian, menjadi etalase perkembangan teknologi energi terbarukan.

"Kami membaurkan sisi bisnis dan akademik. Ini yang harus dimanfaatkan sivitas akademika, baik dari Itera maupun instansi lainnya," kata Djamal.

Menurut dia, pembangunan PLTS itu mulai direncanakan sejak dua tahun lalu untuk memanfaatkan lingkungan tropis Indonesia yang kaya sinar matahari. Hingga akhirnya PLTS menjadikan Itera sebagai kampus mandiri energi. "Ini dibangun atas kerja sama dengan PT Wijaya Karya Tbk dan PT Surya Utama Nuansa, sehingga kami tidak mengeluarkan dana sedikit pun," ujar dia.

Peran Kampus Manfaatkan EBT

Menteri ESDM Arifin Tasrif menjelaskan terdapat 53 universitas di Indonesia yang mengaplikasikan energi ramah lingkungan, khususnya energi surya mulai dari 1 kWp hingga 1 MWp. Penggunaan energi surya menjadi pilihan mayoritas berbagai perguruan tinggi di Indonesia dengan persentase mencapai 64 persen. 

Catatan itu menjadi bukti peran besar perguruan tinggi dalam pemanfaatan EBT. Terlebih, bagi PLTS Itera yang memiliki dua fungsi. Pertama, sebagai sumber energi yang menjadikannya kampus mandiri energi dengan teknologi dalam negeri yang mutakhir.

Fungsi kedua sebagai sarana pembelajaran sehingga menciptakan tenaga ahli unggul di bidang energi bersih dan mendorong Tanah Air menguasai teknologi PLTS. "Perguruan tinggi juga harus bisa mengedukasi masyarakat agar menggunakan energi bersih, baik untuk rumah tangga maupun transportasi. Sebab, nilai energi tidak hanya sebagai komoditas, tetapi juga menjadi salah satu penggerak perekonomian dan penguat industri sehingga berkontribusi dalam mengejar target pertumbuhan ekonomi," ujar Arifin saat peresmian PLTS Itera pada 7 Januari 2021.

Menurut dia, penggunaan PLTS itu harus terus ditingkatkan, baik yang diaplikasikan di atas tanah (ground-mounted), atap, maupun terapung. Sebab, potensi energi surya di Indonesia diperkirakan lebih dari 200GW dan baru dimanfaatkan 150MW. Sementara Lampung bisa menyumbang hingga 2GW. "Ini sebagai upaya menjaga ketahanan energi dan mandiri energi," kata dia. 

Effran Kurniawan







Berita Terkait



Komentar