#tumbai#megalit#runtuh

Menelusur Jejak Reruntuhan Megalit

( kata)
Menelusur Jejak Reruntuhan Megalit
Ilustrasi (Google image)

PADA megalit-megalit terakhir di kompleks IV, jika diperhatikan membentuk ujung rangkaian batu. Kompleks reruntuhan V mungkin saja telah rusak atau runtuh saat pembuatan megalit-megalit terakhir pada abad ke-14.

Untuk batu nomor 63—66 juga memiliki kasus serupa menhir nomor 1—8. Batu ubin nomor 65 merupakan menhir terbesar dari semua menhir yang ditemukan. Untuk memindahkannya, pastinya digunakan alat yang sangat besar.

Tiang batu nomor 64 menunjukkan pengerjaan yang paling halus dari semua menhir. Obelisk nomor 66 tidak hanya menhir terbesar di Kebuntebu, tetapi di seluruh pegunungan. Semua permukaan sisinya, juga di bagian bawahnya, dipoles dengan sangat halus.

Sebaliknya batu nomor 63 yang lebih pendek beberapa sentimeter menunjukkan masih adanya potongan yang kasar yang muncul saat mengukir bentuk bawahnya. Di sini, belum terlihat adanya sentuhan akhir. Bagian bawahnya sama sekali belum dipotong rata sehingga menhir besar ini tidak dapat berdiri tegak. Pada batu ini hanya terlihat material mentah yang penyelesaian pembuatannya terhalang karena melarikan diri dari permukiman ini.

Menhir kecil nomor 13 juga menunjukkan bentuk obelisk dengan bentuk segitiga. Menhir ini tingginya hanya 84 cm dan menunjukkan bentuk yang mudah dikenali yang nantinya menjadi tiang yang tinggi dan ramping. Bentuk menhir serupa yang paling maju adalah nomor 66. Tiang batu ini berdiri di tengah subkompleks II.

Kompleks reruntuhan V sekarang, subkompleks paling tenggara di Kebuntebu, kemungkinan tetap memiliki potongan-potongan sisa batu saat pengerjaan dalam bentuk bongkahan. Sebagaimana yang ditunjukkan pada menhir nomor 3, 4, dan 63, yang belum selesai, pengerjaan detail pada megalit-megalit tersebut dilakukan di lokasi peletakan akhir. Oleh sebab itu, masih memungkinkan jika sisa batu yang muncul di sana, diletakkan di daerah tenggara di luar jalan (dengan menhir di pinggir) saat mengukir bentuk menhir.

Namun, jika Funke hanya dapat melihat sisa-sisa batu di bongkahan-bongkahan batu di kompleks V, ini adalah bukti lain bahwa lokasi megalitik di Kebuntebu belum selesai saat paminggir menyerbu wilayah itu. Sebab, tidak ada satu pun kompleks batu lainnya di pegunungan yang menunjukkan timbunan reruntuhan. Yang dapat disimpulkan adalah sisa batu-batu tersebut pastinya telah disingkirkan saat penyelesaian menhir.

Jika kita dapat menghubungkan kemunculan bentuk megalit ini dengan akhir abad ke-14, kemungkinan bentuk menhir yang lebih kecil dan sederhana yang terutama ada di subkompleks II dan III, telah muncul dari zaman dahulu.

Sebelumnya, hubungan erat antara peletakan batu Orang Abung lama dan kurban darah dilakukan sebagai ritual kesuburan telah ditunjukkan. Namun, dari penjelasan tersebut, arti dari peletakan batu ini baru diperjelas sebagian kecilnya saja. Sudut pandang yang lainnya terhadap makna megalit-megalit itu diperoleh dari pengamatan cara hidup sosial bangsa ini.

Kurban darah yang dilakukan pada menhir tidak memiliki makna tunggal, melainkan ritual ini berhubungan dengan perkumpulan dengan membantu kesuburan tanah yang ditanami. Pada zaman dahulu, seperti zaman modern, perkumpulan ini terdiri dari marga-marga, gabungan asosiasi marga, asosiasi desa, dan suku-suku berkenaan dengan silsilah. Sehingga tidak jelas apakah kesadaran kesukuan dari asal mula pendiri suku telah ada dalam masa ini, sebelum perebutan wilayah di dataran rendah bagian timur.

 

Menyadur buku Orang Abung, Catatan Rakyat Sumatera Selatan dari Waktu ke Waktu oleh Friedrich W Funke.

Berita Terkait

Komentar