#refleksi#menebar-bencana#mudik-lebaran#covid-19

Menebar Bencana

( kata)
Menebar Bencana
foto dok. lampost.co


Iskandar Zulkarnain

Wartawan Lampung Post

ADA dua video pendek yang dikirim teman ke smartphone (ponsel cerdas) milikku. Keduanya imbauan untuk tidak mudik jelang bulan Ramadan dan hari raya Idulfitri 1441 Hijriah, tahun ini. Video pertama narasinya melarang perantau untuk tidak mudik dari Najib, seorang pelawak asal Palembang.

“Kalau kamu sayang dan cinta dengan keluarga, tidak usah mudik. Kalau ada kiriman untuk ibok (ibu, red), kirimlah sekarang karena hari raya tidak urung,” kata Najib kental dengan logat bahasa Palembang.

Diakhir video pendek itu ditutupnya dengan pantun: Anak pertama nama rohani, anak kedua nama rohana. Kita berdoa untuk Indonesia ini, awal puasa nanti kita bebas corona. Renungkanlah! Angka terinfeksi virus Covid-19 di negeri ini terus bertambah. Belum ada tanda-tanda mereda!  

Sementara video keduanya berasal dari Kapolda Nusa Tenggara Timur Irjen Hamidin. Putra Sumatera Selatan itu menyampaikan bergaya khas Pagaralam agar perantau dilarang mudik. Dua imbauan memastikan Lebaran tahun ini, perantau dilarang keras balik ke kampung halaman.

Mudik tahun ini mencoba jalan tol yang sudah terhubung. Infrastruktur kian membaik sehingga mudik terasa nyaman dan jarak tempuh kian cepat ke tempat tujuan. Lebaran akan menjadi sempurna bisa wujudkan momen istimewa mencium tangan orang tua dengan pelukan yang hangat.

Jika tidak ada wabah corona perantau pasti balik. Harapan itu pupus sudah. Dengan berat hati rencana mudik dibatalkan. Jika Lebaran tahun lalu, dari Bandar Lampung ke Palembang ditempuh selama tiga jam dengan kondisi ruas jalan tol belum selesai. Kini, jalan bebas hambatan sudah rampung. Semua kota tidak berjarak lagi karena sudah terkoneksi dengan jalan tol.

Imbauan yang berisi larangan keras untuk mudik sangat mendasar. Mudik kali ini menebar bencana penularan virus Covid-19. Ingat, jika tetap abai dan keras kepala dan mudik tanpa melakukan pembatasan sosial, akan terjadi gelombang kedua pendemi corona di berbagai daerah.

Akhirnya pendemi corona itu tidak kunjung mereda. Gelombang pendemi kedua akan terjadi pascamudik Lebaran. Puncak penularan setelah pemudik yang terinfeksi datang dari kota asal ke kota rantau. Pastinya negeri ini akan mengalami krisis yang lebih besar lagi karena rakyatnya masih tetap ngeyel untuk mudik.

Virus Covid-19 sudah meluluhlantakan perekonomian dunia, termasuk Indonesia. Corona ini mengajarkan untuk peduli dan hidup bersih karena virus tersebut menyerang siapa saja tanpa mengenal daerah, etnik, juga agama. Ingat, banyak orang yang tertular wabah karena kegiatan massal. Apakah itu seminar, pengajian di masjid, dan kebaktian di gereja.

Covid-19 ancaman seluruh bangsa, seperti Amerika, Italia, serta Spanyol. Penderitanya terbanyak melebihi Tiongkok, tempat asal muasal pandemi corona. Di Arab Saudi juga, sedikitnya 150 anggota keluarga Kerajaan Saudi terinfeksi corona. Padahal, mereka jauh sebelumnya menolak kedatangan jemaah umrah dari berbagai negara.

Dipastikan, ratusan pangeran Saudi bepergian ke Eropa dan beberapa negara yang diyakini tertular virus. Mereka itulah yang membawanya ke Saudi. Akibatnya, anggota kerajaan banyak terinfeksi virus setelah enam minggu kedatangan dari Eropa. Ini yang tidak disadari keluarga kerajaan.

***

Lalu apa yang terjadi dengan Raja Salman dan Putra Mahkota Mohammed bin Salman. Penguasa negeri petro dolar itu mengisolasi diri menghindari wabah corona. Saat ini raja berdiam di sebuah istana di pulau Laut Merah. Sementara putra dan menterinya mengungsi ke situs terpencil di pantai. Kini, Saudi menerapkan jam malam karena rakyatnya sudah terinfeksi 2.932 orang dengan 41 meninggal dunia.

Dua kota suci, Mekah dan Madinah, ditutup hingga batas waktu yang tidak ditentukan. Tidak ada negara di dunia yang siap menghadapi pandemi ini. Negara maju apalagi berkembang menhadapi kelangkaan alat diagnosis, alat pelindung diri (APD), tempat tidur pasien, dan fasilitas isolasi, serta perawatan intensif. Dokter dan tenaga medis pun ikut menjadi korban.

Saudi memberlakukan jam malam, bagaimana Indonesia? Jumat kemarin, anak bangsa yang terinfeksi corona mencapai 3.512 orang. Pasien yang meninggal dunia 306 orang dan pasien yang dinyatakan sembuh 282 jiwa. Tiap hari kasus corona bertambah di Indonesia. Penularan masih menjadi ancaman. Paling tertinggi terjadi di ibu kota negara, Jakarta.

Setiap hari berjatuhan korban, akhirnya Jakarta menerapkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) selama 14 hari ke depan. Jakarta merupakan daerah pertama di Indonesia yang menerapkan PSBB untuk mengurangi korban terinfeksi virus. Covid-19 terus merayap dan menyebar di wilayah 33 provinsi di Indonesia.

Tidak mau ketinggalan di Lampung. Pada 1 April lalu, Gubernur Arinal Djunaidi menetapkan provinsi berstatus tanggap darurat. Pasien positif corona terus bertambah menjadi 21 orang, Jumat (10/4). Jumlah korban meninggal dunia mencapai lima orang. Sementara berstatus orang dalam pemantauan (ODP) sebanyak 2.259 orang. ODP bertambah setiap harinya karena banyak perantau Lampung pulang ke kampung halaman.

Untuk itulah tidak henti-hentinya Presiden Joko Widodo meminta rakyatnya tetap disiplin menerapkan pembatasan sosial, hidup bergotong royong, serta mengajak masyarakat berperan memutus rantai penyebaran virus Covid-19 dengan tetap berada di rumah.

Ingat! Tidak hanya jiwa yang diintai corona. Sebanyak 1,2 juta orang harus menerima pemutusan hubungan kerja—dirumahkan. Covid-19 memberikan tiga ujian yang luar biasa. Pertama adalah ujian keimanan. Virus corona ada penciptanya. Pesan tersirat bahwa ujian dari Allah untuk meningkatkan keimanan, mendekatkan diri, serta menginstrospeksi diri.

Ujian kedua, pelajaran tentang kesehatan. Saat ini banyak orang, mulai dari pejabat hingga rakyat berkampanye hidup sehat, makan sehat, rajin berjemur pagi, serta berolahraga dan tidur yang cukup. Ujian ketiganya, adalah bahu-membahu melawan corona melalui gotong royong dan peduli sesama dengan meninggalkan semua perbedaan.  Insya Allah wabah corona segera berlalu. ***

Bambang Pamungkas







Berita Terkait



Komentar